Selasa, 29 Juli 2008

San Stefano I

Pagi-pagi sekali aku dan konco-koncoku pergi kepantai. Aku mo mandi sekalian menjemput temen-temen yang semalam berangkat dair Cairo. Lewat pasar Ashafra dan menyeberangi rel kereta api, itu jalan yang hraus kutempuh kalo ingin kedaerah Bahriy. Oh ya, untuk asramaku masuk didaerah Ibly.

Semburat mega diterjang matahari pagi. Kuning berpaduan dengan langit biru. Hembusan angin pantai pagi yang meraba kulit. Lekukan garis pantai, dengan barisan gedung yang siap menerima sapaan angin laut setiap saat. Jerit dan tawa bahagia telah berbaur dengan deburan ombak pagi. Satu persatu temen-temenku menceburkan dirinya kelaut. Sementara kutahan diriku untuk berennang. Aku masih asik mengamati laut, langit, orang-orang yang berenang dan suasana pagi yang elok.

Keingin akan sentuhan air telah begitu kuat dalam dadaku. Kemudian kulepas pakaianku, kuganti dengan pakaian renangku. Dan byuurrr..rr!!! Hhaaahh..hhh, rasa segar dan sejuk begitu mengelus semua pori-poriku. Ternyata memang enak juga mandi dipantai dipagi hari. Pantas, sudah banyak penduduk yang mandi kala kudatang tadi.

Pukul delapan, kami semua pulang ke asrama. Sudah waktunya sarapan. Sementar aku dan Ali beli ta'meyya dan sawabe' untuk 'teman' kala sarapan nanti. Sempat, saat masuk asrama, kami semua ditanya penjaganya. Kami jawab kami dari pantai. "Ya sudah, makan sana sudah waktunya futur. Kulihat temen-temen sudah pada tabur. Menu sarpan pagi ini;
- full - lamun satu butir
- 2 eisy - jubna satu potong
- halaweyyat
Namun kutadi telah beli ta'meyya, jadi santai aja. Oh ya, kalo sarapan pagi, kami ada secangkir teh anget, manis dan pekat bagi yang menginginkan. Uuhh enaa...kkk banget!! Sarapanku kali ini barneg dengan para mas'ul. Bahkan pada waktu aku mengambil jatah sarapanku tadi, qoid muaskar bilang, kalo kalian makannya molor maka kamipun juga molor. Demikian terangnya pada kami yang agak telat dari jadwal. Memang, waktu makan mas'ul dan pengasuh asalah setelah semua peserta muaskar mendapat jatah makan. Kalo ada yang belum mendapat jatah, maka mereka belum mulai makan. Betul-betul sebuah hal yang patut dicontoh.

Selesai sarapan aku naik kekamar, namun karena jam sudh menunjukkan pukul 09.00, maka sekarang waktunya kamar dibersihkan. Dan semuanya harus keluar dari kamar, tak terkecuali. Kami semua keluar kamar, sementara aku and the gank memilih duduk-duduk dibawah pohon di halaman depan. Menikmati semilirnya angin menjelang siang hari, sembari main kartu.

Pukul 11.30, aku dan Asep jalan ke Bibliotheca Library of Alexandria. Sebenarnya aku sudah dua kali masuk ke perpustakaan yang konon terbesar didunia ini. Namun rencanaku kali ini untuk mencari Peta Alexandria. Dengan peta itu, kelak aku akan menlusuri Alexandria. Kami ke perpustakaan naik angkota. Kami harus jalan kaki, kira-kira 1 km, karena angkota itu tidak lewat jalur biasanya, namun lewat jalur belakang. Namun bagikuitu tidak jadi masalah. Malah aku begitu menikmatinya. Jalan disepanjang trotoar yang bersih, menyusuri kuburan Kristen Koptik dengan cuaca yang bersahabat. Adalah hal yang sempurna.

Begitu peta kudapat, aku langsung membuka peta itu dimeja parpustakaan. Tak sabar aku mempelajari jalanan yang bakal kutelusuri guna mendatangi semua objek yang ada. Setelah kurasa cukup, aku pulang. Semsampai di asrama, aku segera makan siang. Sempat juga dimarahi karen alagi-lagi aku telat dari jadwal makan yang telah ditetapkan. Bahkan dalam benaku, andaia aku ga dikasihpun, aku siap dan legowo. Karena emang aku yang salah. Namun, alhamdulillah, ternyata kalo emang udah rizki kita, ga bakal lari kemana. Aku bisa makan siang sepuasku, sembari menahan senyum dengan Asep.

Sore harinya, kuterbangun dari tidurku. Kulihat teman-teman telah main-main di lapangan. Ada yang main sepak bola, basket dan bola volly. Aku jadi ingin banget main volly. Ternyata ada lomba antar kelompok muaskar. Sampai akhirnya kami, dari kelompok Muaskar Othman bisa masuk final, melawan Muaskar Omar. Untuk pemain Muaskar Othman, semuanya dari Indonesia. Sedangkan Muaskar Omar didominasi oleh para pemain dari Uzbekistan. Jadi partai final ini bisa dikatakan Indonesia VS Uzbekistan. Dan kamilah, Muaskar Othman, yang menjadi pemenang.

- ta'meyya : sejenis ba'wan
-
sawabe' : kentang goreng (stick)
- futur : sarapan
- tabur : antri
- full : kacang yang digiling
- lamun :
jeruk lemon
- jubna : keju
- halaweyyat
: sejenis manisan
- qoid muaskar : ketua muaskar


Minggu, 27 Juli 2008

Selamat Pagi Alexandria....

Cahaya dan bau laut telah menerobos jendela atas ranjangku. Silir dan segar. Hari ini adalah hari keduaku di Alexandria, dimana akan dilaksanakan pembukaan. Katanya sich, pembukaan akan dihadiri oleh Grand Syeikh Al Azhar, Wazirotul Auqof, Gubernur Alexandria beserta rombongan. Kuseruput teh yang tadi telah kubuat, sembari kuhirup kuat-kuat aroma laut yang menggugah rasa.

Pukul 09.30 kami semua disuruh turun ke aula, karena sebentar lagi acara akan dimulai. Begitu keterangan mas'ul pada kami. Setelah mempersiapkan diri, aku dan teman-teman turun kelantai dasar. Disana telah tertata rapi kursi-kursi yang berbaris, tiap deret, rapi dari depan ke belakang. Dengan sebuah meja memanjang diantara keduanya. Dan diakhir barisan, didinding menempel gambar Presiden Muhammad Husni Mubarok, dengan karismanya. Sementara didepan, sebuah meja dengan taplak warna biru, berhiaskan bunga-bunga lengkap dengan speakernya, untuk Grand Syeikh beserta rombongan. Dengan sebuah lafal Alloh, berbingkai besar, menjadi backgroundnya. Sementara disisi kiri panggung, ada sebuah kursi dengan sebuah speaker, nampaknya itu untuk qori' Al Quran.

Telah dua jam aku menunggu mereka, namun belum juga ada tanda-tanda mereka hadir. Aku lebih banyak menguap dalam masa dua jam itu. Sementara teman-teman ada yang foto-foto, bincang-bincang, bahkan ada yang tidur-an dengan tangan sebagai bantal. Pasti mereka juga merasakan jenuh, sebagaimana yang aku rasakan.

Sampai akhirnya, plokk...plokk..plokk..!! Masul memberitahukan suapaya semuanya tenang dan kembali ketempat masing-masing. Nampak mata-mata sayu dan malas, dari mereka yang tadi sempat tertidur, terjaga. Namun mereka dan aku tak ada pilihan. Sebisa mungkin mata ini tetap terbuka, menyambut rombongan. Nampaknya Grand Syeikh beserta rombongan telah hadir. Tak berapa lama kemudian, Grand Syeikh Al Azhar beserta rombongan memasuki ruangan. Nampak rombongan Grand Syeikh dari berbagai kalangan, ada yang dari masyayikh AL Azhar, insan press, pejabat pemerintahan dan lain-lain. Sementara yang duduk dimeja depan, dari sebelah kiri, Wazirotul Auqof - Hamdi Zaqzuq, wakil dari Majlis A'la (siapa sich namanya?), Grand Syeikh Al Azhar - Muhammad Sayeed Tanthowi, Gubernur Alexandria - Adel Labib. Sementara Dosen Ushuluddin sekaligus moderator acara - Dr. Zakky Awwad duduk disebelah panggung beserta rombongan. Yang didaulat sebagai qori' Al Qur'an, Husni dari Indonesia. Memang bener kata temenku, selalu orang Indonesia yang dipilih untuk qori' di sesi pembukaan. Apalagi ini yang hadir adalah 'kalangan atas'.

Bahkan pernah, pada acara Grand Opening of Al Azhar International Park, pun mereka (orang-orang mesir) meminta bantuan dari teman-teman Indonesia untuk berpartisipasi didalamnya. Acara itu disiarkan live di Channel 3 Mesir. Bahkan host acara tersebut-pun sempat ga percaya kalo suara orang Indonesia bisa sebagus itu. Mulai dari situlah, hampir setiap acara yang bertaraf internasional di Mesir, Indonesia menduduki opsi yang pertama untu fungsi ini.

Acara pembukaan sediri hanya berlangsung satu jam. Begitu acara berakhir, applause dari para peserta muaskar menggema. Banyak dari teman-teman yang mencoba untuk foto bersama mereka. Apalagi dengan Grand Syeikh Al Azhar. Namun nampaknya scurity rombongan menyadari hal itu, sehingga mereka lebih cepat bertindak untuk menghalanginya. Sementara aku sendiri lebih memilih untuk naik kekamar, punggung dan mata ini berat rasanya untuk duduk lebih lama lagi. Langsung kuhempaskan tubuhku keranjang. Ughh...enak...kk banget!

Pada malam hari ada nadwah, yang disampaikan oleh Dr. Ahmadi Nur. Acara tersebut selesai pada pukul 21.30. Sebenarnya temen-temen ngajak jalan-jalan keluar, sekedar membeli buah ato apalah. Namun aku malas banget, jadi aku hanya titip beberapa barang saja. Diantaranya bateray, karena kuyakin besok free, ga ada acara. jadi waktu itu akan kugunakan untuk jalan-jalan menyusuri jalanan Alexandria. Utamanya mencari peta Alexandria untuk memudahkanku dalam penyusuran.

Wazirotul Auqof : Kementrian Wakaf
qori' : Pembaca
nadwah : Simposium

Sabtu, 19 Juli 2008

We are coming Alexandria...!!

Perkiraanku tidak meleset, pukul 13.35 kami semua sampai di Stasiun Alexandria atau Stasiun Masr. Ciri Setaiun Alexandria sendiri mirip dengan Stasiun Ramsees. Merupakan khas bangunan tua, penuh pola artistik. Dengan atap peron yang tinggi dan besar, jam dengan jarum yang besar terpasang kokoh di tembok peron. Sehingga memudahkan bagi semua orang yang ingin mengetahui waktu. Berapa menit lagi yang dipunyai seseorang untuk bisa menepati janji bertemu dengan client-nya. Sembari kuangkat tasku yang lumayan berat, kulirik jam ditanganku, sama dengan jam ditembok stasiun tersebut.

Kulihat para mas'ul terus memberikan arahan agar semuanya segera keluar dan mengikuti pemandu jalan. Diepan telah berjalan beberapa mas'ul yang lain. Merekalah para pemandu jalan. Begitu keluar, sebuah hembusan udara panas menyeruak diantara pori-pori wajahku. Namun panas yang kurasakan amat berbeda dengan panas yagn selama ini kuraskan ditengah hiruk-pikuk kebisingan Cairo. Sebuah panas yang sedikit basah, bukannya panas kering yang kurasakan 4 jam yang lalu. Kami terus bergerak maju. Begitu kelaur dari stasiun, sebuah alun-alun, taman kota, dengan sebuah tugu yang menjulang tinggi menyambut setiap dari kami. Aku tak ingat lagi apa yag ntertulis disana, namun bangunan itu tepat di tengah taman tersebut. Sedangkan tepat didepan Stasiun Masr, terdapat bangku-bangku panjang yang kosong. Sebagian daripadanya dimanfaatkan oleh orang-orang unutk tiduran dan jualan ditengah teriknya musim panas. Namun kubayangkan, kala senja menjelang dan menghsbisakn waktu dibangku-bangku terseebut. Berbincang dan bertukar pikiran dengan orang cocok. Serta sebungkus camilan dan minuman ringan ditangan. Uughh...nikamt sekali kubayangkan itu!

Telah siap beberapa bus menanti kami. Namun nampaknya telah penuh oleh teman-teman yang keluar lebih dulu. Aku dan kelompokku lebih memilih bersabar, menunggu bus berikutnya. Kulihat , walopun bus itu telah penuh, namun ga ada yang berdiri. Nampaknya peraturan di Alexandria, tidak mempebolehkan sebuah bus pariwisata sampai over passanger. Kami berteduh dibawah pohon yang ada.

Ayo-ayo cepetan naik..!! teriak mas'ul pada kami yang memang belum kebagian bus. Namun entah karena apa, kami harus turun lagi. Memang bus yang aku naiki buaknlah bus pariwisata, namun bus umum yang dipanggil untuk membawa kami. Oh iya, sekedar tahu saja, disebrang alun-alun Alexandria adalah terminal bus kota yang bisa membawa kita kemana saja. Aku dan kelompokku masih menunggu dibawah pohon seperti tadi. Semua teman-teman kami yang lain telah berangkat lebih dulu. Hanya tinggal kami dan para mas'ul.

Sejenak kemudian, ada sebuah bus warna putih dengan kapasitas 24-an orang menepi. Ayo-ayo cepet naik...!! Demikain komando dari mereka. Setiap dari kami bergegas menuju pintu bus yang telah terbuka. Kalo kuperhatikan, bus ini lebih baik daripada bus-bus terdahulu yang dinaiki oleh teman-teman. Sebuah bus full option, AC, dengan sebuah tv 14 inchi -yang sedang memutar Shaolin Soccer- terpampang diatas kaca depan. Begitu semua orang-orang telah masuk semua, bus perlahan bergerak. belok kekanan melewati Roman Amphitheater.

Bus terus bergerak menyusuri jalanan Alexandria yang sempit. Nampak disisi kananku Alexandria Stadium. Tempat dimana Alexandria Football Club (AFC) menjamu para 'tamu'nya. Kuingat, beberapa tahun lalu Mesir menjadi tuan rumah African Cup. Dan stadion ini juga digunakan dalam event tersebut. Dan tuan rumah keluar sebagai juaranya. Setelah melewati Champolion st. bus belok kekanan. Seketika angin yang segar berhembus dengan kencang. Bau laut begitu menyengat. Seketika setiap dari kami menoleh kesisi kiri jalan.

Sebauh hamparan laut dengan riak-riak yang kecil seolah mengucapkan 'welcome to Alexandria' pada kami. Orang-orang sudah tidak mempeduliakn Shaolin Soccer lagi, padahal sudah masuk pada babak akhir film. Nampak orang-orang telah terbius oleh air laut yang tak henti-hentinya beriak serta angin yang terus menyegarkan suasana.

Bus ini terus melaju diterik mentari. Menyusuri setiap kelokan El Cournish Rd. Nampak Bibliotecha Alexandria sedang kami lewati. Kokoh menghadap kelaut, menunggu setiap salam angin yang terlontar oleh air yang ingin menjilat patung Alexander The Great di halaman Bibliotecha Alexandria. Mentari yang menyebarkan panas terus memayugn diatas kami.

Stanly Beach, dengan khas Stanly Bridge-nya, telah kami lewati. Nampak San Stefano, dengan Cafe Starbucks-nya dipojok depan merupakan daya tarik Alexandria tersendiri. Sederet cafe-cafe yang view of beach, nampak berjajar rapi. Menunggu pelanggan yang ingin menghabiskan waktu dengan suasana pantai, sembari menyeruput kopi atau yang lainnya. Sungguh suasana yang sempurna untuk sebuah liburan. Refreshing!

Nampak didepan sebuah taman yang besar, ditepi laut. Itulah El Montaza Gardens. Sebauh taman ditepi pantai, ada menara suarnya, hotel, resorts dan taman bermainnya. Dua kali aku kesana. Kala itu dengan teman-teman kekeluargaan, lalu dengan teman-teman afiliatif.

Kemudian bus belok kekanan, keluar dari laut, masuk El Za'eim Anwar El Sadat. Atau oleh masyarakat setempat lebih dikenal dengan khomsa wa arba'ein (45) st. Setelah memutar, bus berbelok kekakan, masuk jalan yang lebih kecil lagi. Bus terus menyususri jalanan yang sempit. Badan jalan ini terasa lebih sempit lagi, apalagi ditambah dengan badan bus yang memang besar. Sehingga sangat sulit untuk bersisipan dengan mobil yang lain.

Sejenak kemudian, kami masuk kesebuah pintu gerbang warna hitam. Dibalik gerbang itu terhampar sebuah halaman yang sangat lebar. Dengan sebuah kerangka tenda, nampaknya untuk acara pembukaan, yang belum sempurna. Halaman itu juga difungsikan untuk lapangan bola. Dan disisi lapanagn itu, ada dua lapangan voli dikedua sisinya dan sebuah lapangan basket disatu sisinya saja.

Diujung lapangan itu nampak sebuah bangunan, empat lantai, dengan warna putih gagah menyambut kami. Nampak teman-teman kami yang telah datang lebih dulu telah bergerombol disana. Dan disinilah kami bakal menghabiskan sepuluh hari kami di Alexandria. Semuanya diminta baris teratur sesuai dengan kelompok masing-masing. Aku termasuk dalam Muaskar Othman.

Lantai dasar merupakan ruangan yang multi fungsi. Selain sebagai aula pertemuan, juga digunakan untuk ruang makan. Sedangakn lantai satu untuk Muaskar Omar. Lantai dua untuk Muaskar Othman. Dimana aku dan teman-teman yang sekelompok denganku berada. Lantai tiga untuk Muaskar 'Aly dan lantai empat untuk Muaskar Kholid. Kami ditempatkan didalam kamar yang besar dengan kapasitas 30 ranjang. Ranjangku berada di no.04 dari pintu masuk. Ini sangat memudahkanku untuk untuk keluar masuk. Dengan sebuah jendela besar diatas kepalaku. ini sangat menguntungkanku, dimana aku tak terkena angin ato matahari senja secara langsung. Untuk Muaskar Othman dibawah pengarahan Ust. Yahya dan Ust. Yusuf.
Setelah mendapat kamar sendiri, badan ini tiba-tiba merasa letih sekali. Tiga setengah jam diperjalanan ternyata sangat menguras tenaga. Apalagi perjalanan ini dalam musim panas dibawah terik mentari. Belom lagi, tadi temen-temen ga ada yang bawa minuman dan cemilan. Haya aku yang iseng-iseng bawa sekotak anggur, dua bungkus biskuit dan sebotol kecil air mineral. Itupun masih dipakai temenku untuk kencing. Terpaksa tenggorokan ini 'puasa' sementara waktu.

Melihat ranjang yang empuk, mataku jadi 'tertegun'. Kuletakkan barangku disebuah kotak yang berfungsi sebagai almari, disebelah setiap ranjang dari kami semua. Kemudian mataku mulai melemah dan meredup. Sejurus kemudian kusudah tak tahu apa yang terjadi disekelilingku.

Sampai akhirnya kudengar teriakan instruksi dari mas'ul.
"Ayo..ayo..semuanya turun, waktunya makan siang..!!" Demikian teriakan berulang-ulang sembari tepuk tangan, sampai ditelan dikejauhan. Perlahan kuusap mataku, kulihat jam dilayar HP-ku, jam 15.45. Ternyata teman-temanku juga sudah mulai bersiap turun untuk mengambil makan siang pertama kami.

Kubasuh mukaku di kamar mandi. Oh iya, Muaskar Othman terdiri dari empat kamar besar. Kalo satu kamar berisi 30 orang, berarti Muaskar Othman beranggotakan 180 orang. Karena untuk dua kamar yang lain, menggunakan ranjang susun.

Kubergegas kebawah, karena selain ini adalah makan siang pertama kami, tentu akan diberitahukan tata-tertib dan maklumat dari para pengasuh. Taklupa kubawa peralatan makanku serta kartu makanku, sekaligus berfungsi sebagai kartu anggota. Setelah pemberitahuan tata-tertib dan sebagainya, kami dipersilahkan masuk ruang makan sesuai dengan barisan. Untuk makan siang ini menunya :
- nasi samin
- syalattoh
- roti eisy
- dua potong daging
- sayur dari kedelai dan
- 1/4 semangka
sebuah menu makanan yang tentunya bikin perut penuh sesak.

Nampaknya aku ga kuat 'membereskan' menu siangku ini. Lalu kuhabiskan saja semangkaku. Lumayan, bikin tenggorokan segar. Lalu aku naik kekamarku dan meneruskan mimpiku yang terputus tadi.

Begitu malam menjelang, aku dan temen-temen jalan kepantai. Ternyata masih banyak juga yang mandi, padahal sudah jam 22.00. Mungkin karena musim panas, jadi pantai Alexandria terasa penuh sesak. Ada yang main layang-layang, bola, kejar-kejaran dan masih banyak lagi. Mulanya aku berada dibibir pantai, namun karena capek berdiri, lagian malam hari, aku lebih memilih untuk duduk ditepi jalan. Sembari kuseruput soft-drink, kuamati anak-anak yang sedang berlarian mencoba menaikkan layang-layangnya.

Lalu lintas didepan Regency Hotel begitu rapat. Pukul 22.45 kami balik ke asrama. Tak lupa aku beli gelas, karena kulupa bawa dari Cairo, serta buah untuk camilan diasrama. Sebelum tidur, aku charge baterai kamera. Untuk persiapan esok harinya.

- mas'ul : penanggung jawab
- khomsa wa arba'ein : empatpuluh lima
- nasi samin : nasi yang masaknya menggunakan minyak
- syalattoh :
sayuran cincang yang diberi cuka dan garam
- roti eisy
: roti yang terbuat dari biji gandum, makanan pokok penduduk Mesir

Selasa, 15 Juli 2008

Alexandria '08 on my mind

Kupercepat langkahku kejalan raya. Jarum jam menunjuk angka 07.30. Sedangkan aku harus sampai di Ramsees Stasiun pukul 08.00. Setidaknya kumasih punya waktu 30 menit. Jadi gerah juga, meskipun sudah mandi, karena jarak antara rumahku dan jalan raya 700 meter-an. Belum lagi tas yang aku bawa lumayan berat. Maklum, aku terbiasa membawa peralatan dan persiapan yang sekiranya bakal aku perlukan nanti di Alexandria. Mulai dari baju ganti, t-shirt, baju untuk renang, peralatan renang, keperluan jalan, peralatan makan, mandi dan masih banyak lagi.

Memang, aku telah pergi ke Alexandria dua kali, namun itu hanya dalam hitungan jam. Pagi sampai petang saja. Sedangkan dalam liburan musim panas ini, aku berencana menikmati Alexandria beserta pesonanya untuk jangka yang lebih lama lagi. Sepuluh hari! Oleh karenanya, kupersiapkan diriku semaksimal mungkin. Apalagi hal dokumentasi, kamera. Aku paling suka traveling serta mengabadikan setiap moment darinya. Makanya kubawa kamera dan ATM (Alat Tulis Menulis), he3!

Untung angkot yang kunaiki cepat penuh, sehingga sejenak kemudian mobilpun melesat diantara mobil-mobil yang lain. Cepat, seolah ada yang mengejar. Jarak antara rumahku dengan Ramsees Stasiun biasanya ditempuh dalam waktu 30 menit. Namun kali ini, saking cepatnya angkot bergerak, waktu itu terpangkas jadi setengahnya. Limabelas menit. Kulihat jam ditanganku, 07.45. Berarti aku ga terlambat. Bergegas kujinjing tas adidas, yang kemaren dipinjami oleh Sanee.

Riuh-rendah kudengar. Ada yang menawarkan barang dagangan, menarik penumpang, memanggil teman agar ga ketinggalan mobil, dan masih banyak lagi. Diseberang jalan kulihat bangunan yang besar bertuliskan Ramsees Stasiun. Kuambil jalan pintas untuk kesana. Aahh.., sampai juga aku. Kulihat teman-teman dari berbagai negara telah datang. Nampak wajah ceria dari setiap mereka. Maklum saja, karena acara ini diadakan oleh Majlis A'la, dibawah Kementrian Wakaf Mesir. Jadi pesertanya dari berbagai negara dibelahan dunia. Banyak sekali teman-temanku yang ingin ikut serta dalam "Summer Program in Alexandria 2008". Namun karena pesertanya dibatasi, jadi siapa yang cepat dia yang dapat. Acara seperti ini rutin diadakan setiap tahunnya. Bahkan sampai empat gelombang. Gelombang pertama diikuti oleh wafidiin. Untuk gelombang kedua dan ketiga, pesertanya dari Masriyyiin. Sedangkan gelombang empat, pesertanya teman-teman Masriyyaat dan wafidaat.

Kulihat masing-masing bergerombol asik membicarakan sesuatu. Entah apa, yang jelas hal yang menggembirakan. Kulihat senyum dan tawa terdengar silih berganti dari halaqah-halaqah tersebut. Kalo pembacaanku, mereka membicarakan rencana-rencana serta bayangan mereka nanti di Alexandria. Mungkin bagi teman-eman yang pernah ikut tahun-tahun sebelumnya, sudah ada gambaran yang jelas. Namun bagi yang belum pernah, seperti aku ini, tentu hanya bisa membayangkan dan berandai-andai saja. Namun, setidaknya aku sudah pernah kesana dua kali, kupikir aku ga buta banget perihal Alexandria.

Kulihat Muslihan dan kawan-kawan telah datang juga. Mereka membentuk lingkaran sebagaimana yang lain. Dengan tas beserta bawaan yang lain berada di tengah-tengah lingkaran.
"Assalaamu alaikum!" Kusapa mereka semua.
"Wa'alaikum salam" Jawab mereka. Lalu aku salami mereka semua. Ada Muslihan, Haidar, Kang Ihsan, Ali, Habibi, Asep, Yuri, Nurudin dkk.
"Mana Azam,kok belum nampak?" Tanyaku pada Muslihan.
"Ga tahu juga, dari tadi aku juga belum nampak batang hidungnya. Mungkin karena rumahnya deket sini, makanya di santai-santai aja." Imbuh Muslihan.
"Emang kamu sampai jam berapa?"
"Jam 07.30!"
Kami segera hanyut dalam obrolan kami. Senyum dan sesekali tawa selalu menghiasi setiap bibir kami. Kira-kira pukul 08.00 Azam datang dengan senyum khasnya mengembang. tak ketinggalan topi merahnya yang selalu ia bawa kemanapun dia bergerak. Bahkan itu jadi icon dan penanda bagi Azam.
"Ha..ha..ha.., jam berapa kalian pada datang?" Itu yang kudengar darinya pertama kali kala ia mendekat.
"Aku udah dari tadi pagi, jam 07.30!" Jawab Muslihan.
"Mentang-mentang rumahnya deket, trus datangnya molor-molor." Sahut Ali.
"Bukannya aku molor men..., tapi kan kalian sendiri tahu-lah 'kebijakan' orang-orang Mesir itu. Dan lagian ga bakalan kereta api berangkat pukul 08.00. Wong janjiannya aja jam segitu, he.he.he.!" Elaknya sambil terkekeh.

Tak terasa dua jam kami larut dalam obrolan. Sudah jam 10.00 tepat. Kulihat digelang jam-ku, juga di dinding stasiun. Sama, jam 10.00. Namun
belum ada tanda-tanda KA yang bakal membawa kami ke Alexandria masuk ke jalur. Kulihat raut bertanya-tanya dari setiap peserta yang ada. Kuhapus bosanku dengan jalan-jalan sambil melihat jadwal keberangkatan KA.

Perhatian-perhatian..., kereta api untuk para peserta muaskar dengan jurusan Alexandria akan masuk di jalur 4. Diharap para peserta muaskar menuju roshif 4!!
Perhatian-perhatian..., kereta api untuk para peserta muaskar dengan jurusan Alexandria akan masuk di jalur 4. Diharap para peserta muaskar menuju roshif 4!!
Demikian bunyi pengumuman dari pengeras suara didalam stasiun. Kami semua bergegas menuju jalur 4. Walopun jalur itu masih kosong, namun dari jauh kulihat sebuah naga besi dengan perlahan bergerak memasuki jalur 4. Ada tujuh gerbong kuhitung. Aku dan teman-teman masuk digerbong kedua dari depan. Dengan nomor gerbong 16459.

Sejenak kuberpikir, kalo dalam satu gerbong ada 13 sub tempat duduk. Dengan satu sub berisi 8 tempat duduk, berarti dalam satu gerbong bisa menampung 104 orang. Nah kalo ada tujuh gerbong, dengan asumsi tidak semua tempat duduk penuh, berarti acara ini diikuti tidak kurang dari 600 peserta. Ck..ck..ck..!! Ternyata banyak juga ya. Dalam perkiraanku, pesertaya hanya dalam kisaran 300-an orang.

Kalopun 600 orang tersebut dalam sehari memerlukan konsumsi, dengan 3 kali makan, sebesar -katakanlah- 15,00 Le. Berarti dalam 10 hari kami memerlukan uang setidaknya 9.000 Le, sekitar Rp 13.500.000. Dengan krus 1,00 Le = Rp 1.500,00. Itu dari 'energi' saja. Belum lagi hal-hal lain yang mungkin diluar dugaan. Semisal kalo ada yang sakit dan harus dirujuk ke rumah sakit atau yang lainnya. Dan uang itu murni, 100%, dari pihak penyelenggara. Majlis A'la dibawah Kementrian Wakaf Mesir. Karena setiap dari kami tidak dipungut sepeserpun uang administrasi. Jadi dalam setahun, majlis A'la harus menyediakan uang kurang lebih Rp 54.000.000,00. Itu hanya untuk acara muaskar yang berlangsung setiap liburan musim panas, yang dibagi dalam empat gelombang.

Ah sudahlah. Kutepis lamuannku tersebut, kembali kubergabung dalam obrolan bersama teman-temanku. Sub tempat duduk kami hanya berisi 3 orang dari 4 tempat duduk yang tersedia. Perlahan kereta bergerak meninggalkan peron. Kulirik jam ditanganku, pukul 10.15. Deru diesel dan lengkingan klakson mengawali perjalanan kami.

Dengan jarak Cairo-Alexandria 228 km, kalo kecepatan kereta mencapai 80 km/hr, berarti kami akan sampai di Alexandria pada pukul 13.30-an. Kira-kira 3,5 jam kami bakal di perjalanan. Walopun kami tidak berhenti disemua stasiun, karena kereta ini telah disewa hanya untuk membawa peserta muaskar, tujuan Cairo-Alexandria. Namun kereta ini bukanlah kereta api eksekutif. Namun kuyakin, ini akan jadi perjalanan yang tak terlupakan dalam hidupku.

wafidiin : orang asing cowo'
Masriyyiin : orang Mesir cowo'
Masriyyaat : orang Mesir cewe'
wafidaat : orang asing cewe'
halaqah : lingkaran/kelompok
muaskar : program liburan dengan jadwal yang sedemikian hingga
roshif
: peron

Sabtu, 12 Juli 2008

Verna itu telah dalam 'genggamanku' II

"Kemana kita ini San?" Tanyaku padanya kala kutelah menjalankan mobil di jalan raya.
"Langsung ke Kuliyah Banat (komplek perkuliyahan putri Al Azhar)!" Jawabnya pendek.
Aku hanya mengangguk saja tanda setuju. Tentu dengan tetap berusaha konsentrasi pada mobil dan jalan. Karena, inilah kali pertama aku menjalankan mobil di jalan raya. Kalo motor sich sudah sering, tapi ini mobil. Gugup dan ragu seringkali hinggap di benakku. Namun kutetap berusaha fokus pada depan, belakang, kanan dan kiri. Sesekali aku ngobrol dengan Sanee. Kurasakan pinggang ini terasa kaku.

Kuliyah Banat telah tak jauh dari depan mataku. Walopun belum jelas kulihat, namun kelokan untuk menuju kesana, jelas dari jarakku kini.
"Terus langsung ke bu'ust (asrama mahasiswa asing) Mas!" Kata Sanee pendek. Aku setengah agak gugup mendengar ini.
"Bener nih San...?!" Tanyaku setengah meyakinkanku.
"Ya iya lah. Sudahlah, mudah kok..!" jawbnya enteng.
"Ok, siapa takut!!" Sambil kulirik wajahnya. Seulas senyum terkulum dibibirnya kala mendengar ku mengatakan demikian.
Kembali konsentrasiku pada jalanan dan mobilku. Mobil melaju tenang, namun aku yang belum bisa menenangkan diriku dengan baik. Karena benakku terus membayangkan jalanan yang bakal kutempuh. Sebuah hal yang belum pernah terlintas di benakku.

Begitu masuk jalan yang lebih besar, dimana monumen Anwar Sadat berada, mataku tak henti-hentinya melihat kaca sepion kanan-kiri juga tengah. Mengingat jalan ini mempunyai lima lajur. Aku masuk dari sisi kanan jalan, sedangkan aku harus bisa mengambil dilajur yang paling kiri, karena aku akan berputar diputaran depan. Tak lupa lampu shine kiri kunyalakan. Ah.., lega rasanya bisa menyeberang jalana yang sebegitu luas dan padat. Apalagi itu adalah jalan bebas hambatan.
"Ok mas, pelajaran satu telah mas lalui. Karena itu termasuk hal yang rumit bagi pemula." Terang Sanee padaku. Aku hanya terdiam sambil mengulang dalam benakku hal yang baru saja kulakukan.

Kulihat jam telah menunjukkan pukul 11.00. Ini berarti aku bakal menghadapi kemacetan lalu-lintas. Mengingat sekarang waktunya orang balik kantor. Dan Nasr City termasuk kota yang sibuk. Benar dugaanku. Dari jauh, kulihat fly-over didepanku telah penuh sesak akan mobil yang ignin saling mendahului.
"Tenagn aja mas, mas konsen aja pada pedal dan depan." Sanee selalu mengingatkanku demikian.
Dengan perlahan dan sesekali berhenti mobil kujalankan. Sempat mesin mobil mati, karena aku memang belum lihai memainan gas-kopling. Kubiarkan mobil belakang yang selalu menyalak dengan klaksonnya. Cuek! Bahkan kunyalakan lampu emergency-ku. Jujur, aku gugup banget, sedemikian hingga kumencoba untuk tetap fokus dan menghilangakn gugupku.

Pada saat dibelokan bu'us, sempat mobilku mati. Karena belokan itu sempit, ramai dan kondisi badan jalan yang miring, mobilku sempat mundur. Sehingga kugunakan hand-rem untuk itu.

Hhhff....!!
Akhirnya aku bisa dan mempunya pengalaman mengemudikan mobil yang indah. Sebuah hal yang sedari dulu hanya ada dalam benak dan bayangku. Kini aku tahulah kalo mengemudikan mobil, tentu bukan pada tingkatan lihai. Dan sampai kini (tulisan ini kubuat), aku belum lagi mengemudikan mobil. Suatu hari nanti, PASTI!!

Kamis, 26 Juni 2008

Verna itu telah dalam 'genggamanku' I

Akhirnya Verna 1500 CC itu telah dalam tanganku. Setelah sedari pagi nuggu di bawah flat, molor sampe satu jam. Padahal janjinya mobil itu bakal diantar jam 08.00. Emang sih, ini pertama kalinya aku pegang mobil. Ya, hari ini aku mo belajar mobil. Sedari kemaren aku udah berangan-angan terus. Gimana ya rasanya nyetir mobil itu? Tepatnya empat hari yang lalu. Ketika Sanee nawariku belajar mobil. Mumpung lagi senggang aja.

Kuingat setahun yang lalu. Waktu itu Sanee lagi nganter temen Thailand kebandara. Baliknya kan denganku dan kawan-kawan dia. Tengsin juga sih, masak malah cewek yang bawa. Habis gimana lagi, aku juga ga bisa, daripada maksain diri ntar 'nyium' mobil lain ato trotoar. Bahkan saking pengin bisanya, aku sempat coba-coba melihat sopir angkot mengemudi.

"Gimana,mo belajar dimana nih?" tanya Sanee padaku.
"Ya aku sih ngikut gurunya aja lah." Selorohku.
"Ya kali aja mas tahu tempat yang sepi."
"Gimana kalo di areal pasar mobil, ato kalo ga gitu di jalan tembus Distrik 8?" Coba kutawarkan.
"Ya terserah mas lah."
"Ya udah lah, dijalan belakang Distrik 8 saja lah, biar sekalian praktek dijalanan."

Setelah mengisi bensin dan menurunkan temenku yang nganar mobil tadi aku dan Sanee langsung menuju kesana. Jalanan yang lumayan sepi, lebar, ada belokannya. Pokoknya enak banget dan pas banget deh buat belajar nyetir mobil. Apalagi bagiku yang, jujur aja ya, masih awam banget dalam hal bawa mobil. Emang sih, banyak temenku yagn bilang, nyetir mobil itu persis kayak naik sepeda motor laki. Kalo udah bisa naik sepeda motor laki, pasti udah bisa nyetir mobil. Hampir semua temenku yang bisa nyetir mobil bilang gitu. Namun karena aku emang belum pernah bawa mobil, hanya bisa ngebayangin saja. Lagian, kupikir kalo sepeda motor kan yang perlu kita ukur ga sebanyak mobil. Dimana mobil ada buntut dan moncongnya. Jadi harus mikir depan belakang, kanan dan kiri. Apalagi kalo sampe kejebak macet.

Kini aku telah duduk dibelakang kemudi. Kudengarkan Sanee memberikan petunjuk-petunjuk padaku.
"Gimana mas udah paham dan siap?"
"Insyaalloh.." Jawabku mencoba meyakinkan diriku sendiri.
"Ya udah nunggu apa lagi, starter dong...!"
Ceerrsss...grreengng...ngng!! Kuinjak pedal kopling dalam-dalam. Lalu kumasukkan kegigi satu. Namun karena masih pertama, nginjek pedal gasnya langsung gede banget dan ga imbang dengan kopling. Mobilpun langsung mati.
"Tenang aja mas, coba mulai lagi. Usahakan antara melepas kopling dengan injakan gas itu seimbang."
"Ok..!!" Jawabku pendek.

Kucoba untuk men-stater lagi. Kuinjak pedal kopling dan kumasukkan kegigi satu. Kulihat kanan kiri, belakang kalo-kalo ada mobil. Setelah kupastikan ga ada, perlahan kulepaskan pedal kopling dan kuinjak perlahan pedal gas. Perlahan dan kuusahakan secara berimbang. Perlahan mobilpun maju kedepan. Ada semacam kesenangan, kepuasan dan hal yang ga bisa kutuliskan disini tentang perasaanku kala itu. Karena baru pertama kali ini aku coba bawa mobil.

Kucoba terus fokus pada kaki dalam mengendalikan kopling dan gas. Tanganku erat dikendali. Mataku jelalatan ditiga penjuru kaca spion. Kalo-kalo ada mobil yang mo mendahuluiku dan sebagainya. Sementara Sanee disisiku terus memberikan arahan agar tetep fokus, lihat jalan, jangan lupa lampu sein klao mo belok, dsb.

Takterasa, jam sudah mengarah diangka 10.45. Berarti aku telah menghabiskan masa hampir dua jam untuk belok kanan, kiri, memutar, kopling, perpindahan gigi, serta berusaha mencari celah kala ingin belok, dll.
"Gimana San, kita berhenti sebentar ya?"
"Boleh mas.., mas capek ya?"
"Ga juga seh.."
Lalu kutepikan mobil desebelah Cairo International School. Dimana Kaka Bella dan Mas Kiki bersekolah. Mereka adalah anak-anak tetanggaku yang selalu menolongku.

"Sebentar ya mas..." Sejenak kulihat Sanee menuju warung kecil untuk beli minuman. Sementara itu kuambil agar-agar yang kubuat semalam. Lagian emang sedari pagi aku belum sarapan.
"Yuk San..." Kutawarkan sendok satunya untuknya. Kami minum dan makan agar-agar sembari istirahat. Walopun kurasa agar-agar yang kubuat terlalu kebanyakan air, tetep saja kumakan. Setelah kurasa cukup kucoba starter Verna lagi. Berhubung depanku ada mobil parkir, jadi aku harus mundur. Sekalian praktek.

Gigi kuarahkan pada 'R'. Perlahan kulepaskan kopling dan kuinjak gas dengan perlahan. Aku dan Sanee telah melaju lagi dijalanan. Kutelusuri jalanan yang tadi. Termasuk aku ajak Sanee melihat flatku yang dulu. Sebelum aku pindah diflat yang sekarang.
"Gimana San..?" Aku meminta pendapat Sane mengenai cara mengemudiku.
"Ya udah bagus mas..., tapi mas kudu fokus dan hati-hati. Jangan sampai mobil jalannya belok-belok."
"Trus...?"
"Trus..., habis ini kita langsugn ke jalan raya!"
"Kejalan raya San.., sambil kutoleh sani?!" Aku seperti tak percaya. Ada sedikit rasa canggung dan nervous. Belum lagi ngebayngin cara mengemudinya orang-orang mesir yang semaunya sendiri. Hii..., ngeri juga sih!!
"Ya gimana mau bisa kalo mas ga pernah coba dulu." Sanee menambahi omongannya, yang sarat akan tantangan dan dorongan agar aku mau melakukannya.
"So kemana kita sekarang?" Tanyaku sembari memantapkan diriku.
"Ke Kuliyah Banat."

Tanpa kujawab lagi, kuarahkan mobil kejalan raya. aku mulai membayangkan apa yang bakal aku alami ntar. Namun aku tetep fokus dengan kemudiku. Hanya rasa ingin bisa mengemudi yang selalu mendorongku unutk memberanikan diri menjalankan Verna di jalan raya...

Sabtu, 21 Juni 2008

summer trip...


mentari kian membumbung. thermometer raksa merah di kamarku menunjukkan angka 40'C. padahal baru jam 12.00 siang. bisa kubayangkan suhu udara ini disaat dua sampai tiga jam mendatang. karena aku sudah lumayan terbiasa dengan ini semua.ato saat jam 21.oo ntar. padahal waktu itu saat yang asik buat lihat gelaran euro 2008 austri-swiss, bareng kawan-kawan.

ya..., masa-masa ujian telah berakhir. sehingga gelaran euro 2008 kali ini sama sekali ga ganggu 'perjuangan kami'. kali aja event organizern-ya udah memperkirakan biar ga ngeganggu yang lagi ujian, he.he.he.he.!!

walopun pana-panas, namun acara nobar dirumahku tetep rame aja. lihat di channel al-jazeerah sport+1. dengan dukungan sony 3 System/Dual Dinamic Sound 21 inch. sudah cukup membahana dan bikin suara kian riuh rendah.

setelah ujian biasanya kami pada rihlah (jalan2). ada yang ke pantai, ke gunung, ato sekedar mancing di Nil. namun sering kali temen2 menawarkan jalan2 dengan system paket. semisal Saint Catrine (Tour Sina), Sarm el-Seikh (pantai), dll! ada juag yang balik ke indonesia, namun itu bagi temen-temen yang berduit. kalo kayak aku, karena ga ada doku, ya mending menikamti sepuasnya setiap jengkal dari negeri warisan musa-firuan ini aja.

emang sih..., aku udah pernah ke saint catrine. bahkan ilang di Sinai pun juga pernah. bahkan hampir di tahan oleh polisi perbatsan. gara-gara surat jalan dari temenku ada yang kurang. namun beruntung kami bisa lepas dari singa-singa gurun itu.

rencanaku sendiri, untuk liburan ini, aku mo di alexandria aja deh. kalo sepuluh hari disana, kuras sudah cukup 'kenyang'. sebenarnya aku telah kesana, setidaknya, 3 kali. namun itu hanya jalan-jalan singkat sehari. kalo 10 hari kupikir akan sangat berbeda banget bukan? ntah...aku sendiri juga belum tahu apa yang bakal kulakukan disana. yang jelas pantai yeng berkelok menyusuri jalanan kota, taman kota yang asri, perpustakaan raksasa yang view laut, dan masih banyak hal lagi. tentu itu bisa untuk mengenyangkan otak dan perasaan ini.

ada yang mo ikut...??


Senin, 26 Mei 2008

Jumat Ceria Yang Biasa

Cairo; 240508
Assalaamu 'Alaikum Warahmatullaahi Wabarokaatuh

Untuk : Abah, Umi, Mba' dan keluargaku
di Ngadipuro

Abah, Umi, Mbak, Mak dan keluarga semua, gimana abarnya? Semoga semua keluarga tetap dalam lindungan-Nya. Amin! Alhamdulillah ade sehat dan baik-baik saja.

Makasih ya Mbak udah kirim foto-foto nikahannya. Maaf ya Mbak, ade ga bisa hadir dalam acara yang sangat sakral dan tentu sangat membahagiakan itu. Bukan ade ga ingin ikut menjadi saksi atas sejarah di bani H. Salim itu, namun ada tugas yang ga bisa ade tinggalin. Dan harus ade selesaikan. Namun semua foto itu telah (setidaknya) menjadi obat kangenku pada keluarga juga betapa meriahnya acara itu. Yang ga bisa ade bayangin, kala mbak membujurkan kaki karena kesemutan. Bukankah pada waktu itu masih acara akad? Geli aja mba, he..he..he..!!

Ade makin seneng, karena sebentar lagi akan jadi paman. Wah ga bisa ade bayangin deh. Serasa baru kemaren ade dan mbak bertengkar karena berebut oleh-oleh dari Abah-Umi sehabis belanja dagangan di kota. Mbak masih ingat itu kan?

Oh ya, apa Mak (Mbah Putri) udah bisa jalan lagi. Katanya kemaren baru terjatuh saat belajar berjalan? Slama kangenku pada Mak, semoga lekas sembuh. Semoga Mak bisa belajar sabar, dan ga suka ngambek (emang anak kecil?). Ade masih teringat saat masih di-TK dulu. Setiap ada pisang goreng, weci (ote-ote) ataupun cilok, pasti Mak belikan untuk ade. Karena Mak tahu baget, itu semua kue-kue kesukaanku. Maafkan ade ya Mak, ade selalu merepotkan Mak dari dulu sampai sekarang. Dan belum bisa membalas jasa Mak pada ade. Bahkan waktu meninggalnya Mbah Kung saja, ade ga bisa. Padahal itu waktu yang paling tarkhir bagi ade untuk bisa menyentuh gurat kulit yang selalu mengantar ade pergi sekolah, kala TK dulu. Selamat jalan Mbah Kung, semoga panjenengan mendapat tempat terbaik disisi-Nya. Amin!

Abah-Umi, yang selalu mengingatkan ade setiap saat. Abah-Umi yang selalu berjuang untuk keluarga. Abah-Umi yang selalu ada unutk keluarga. Gimana kabarnya? Semoga kesehatan, kemudahan selalu mengiringi kehidupan kita.

Abah, Umi, Mak, Mbak dan keluargaku. Ade yakin, kalian semua selalu sayang dan rindukan aku. Ade juga tahu, bahwa kalian smua juga akan selalu ingat akan hari kelahiranku. Kemaren Mbak dan suaminya telah kirim SMS. De Rida juga kirim SMS. Juga teman-teman ade yang lain. Walopun Abah-Umi ga kirirm ucapan selamat tuk ade, namuna de yakin, kalian punya cara tersendiri unutk hal ini. Karena kalian adalah asal-usulku. ade moceritakan apa saja yang ade lakuin dihari ulang tahunku ya. Mau kan?

"Hari ini 230508; umurku genap 24 tahun! Hari ini bertepatan dengan hari Jumat. jadi lebih banyak malas-malasan (bo'ong, hari lain juga) Semalam, aku, Rio, dan Ruri nongkrong sambil minum-minum. Eits.., eits.., jangan salah sangak dulu. Kita cuma minum ashir (juz) melon, mangga, asem, dan sobia. Tak terasa obrolan kami sampai pukul 02.30 dini hari. Karena lelah telah menghinggap, kamipun pulang. Pagi-pagi mo bangun males banget. kira-kira pukul 11.00 siang kupaksakan membuka mataku. Aku mandi untuk persiapan Sholat Jumat. Setelah Sholat Jumat selesai, ga ada yang istimewa. Biasa seperti adanya. Nongkrongin PC dan surving-surving aja. Habis resiko banget sih utah di minggu ke-empat. Budget pasti udah nguap tinggal kantongnya, he..he..!! Oh ya.., semalam tepat di pukul 00.00 Sanee telpon untuk ngucapin selamat. She is the first. Lalu kemudian Mas Haris yang kebetulan lagi di Jogja untuk ngantar mbak. Karena mbak wisuda dihari itu. Se-siang aku hanya nongkrong didepan PC-ku sambil melihat dunia luar. Sending mail, approve ucapan-ucapan selamat di FS, baca-baca mail dan ucapan selamat dari forum-forum yang kuikuti didunia maya. Abah-Umi dan keluarga masih baca kan? He..he..:D! Kemudian disore hari, ade bersih-bersih PC pake blower temen. Juga kamar ade. Oh ya, Cairo sekarang sudah masuk musim panas, jadi mudah cepet sekali kotor oleh debu. Apalagi rumah ade yang sekarang ditepi jalan tepat. Jadi bisa dibayangin deh. Selesai bersih-bersih, kembali kepersiapan 'pertempuran' hari Senin. Karena aku lagi ujian."

Abah, Umi, Mak, Mbak dan keluarga. Demikian sekilas dititik-24 dari kehidupan ade. Maafkan segala kesalahan ade, baik yang ade sengaja maupun ga. Maafkan juga, karena samapi kini ade belum bisa membalas segala hal yang kalian curahkan untukku. Kutahu, kalian teramat sayang dan rindu padaku. Aku juga!

Doa dan restu yang selalu ade harap guna berjuang disini. Kuyakin, ruang dan waktu takkan mengubah sayang dan rinduku pada kalian!

Terimakasih Abah, Umi, Mak, Mbak dan seluruh keluargaku dimanapun kalian berada. I love and miss u so much...

Sabtu, 10 Mei 2008

Astronomy Day 2008

Hari Astronomi untuk tahun 2008 ini jatuh pada Sabtu, 10 Mei 2008. Peringatan Hari Astronomi ini dari tahun ke tahun jatuh pada tanggal yang berbeda. Hari Astronomi ditetapkan untuk diperingati tiap tahun pada tanggal tertentu antara pertengahan April sampai pertengahan Mei, yaitu pada hari Sabtu saat fase bulan sekitar atau sebelum seperempat awal (berumur sekitar tujuh hari). Untuk tahun 2008 ini, antara pertengahan April dan pertengahan Mei, fase bulan seperempat awal terjadi hari Sabtu tanggal 10 Mei. Dan hari itulah diperingati sebagai Hari Astronomi.

Perayaan Hari Astronomi berawal dari kegiatan yang dilakukan oleh Doug Berger (mantan presiden Astronomical Association of Northern California) pada tahun 1973. Doug mengadakan kegiatan untuk memberi kesempatan kepada publik yang berada jauh dari observatorium, agar bisa ikut menikmati astronomi lewat pameran dan kegiatan astronomi.

Kegiatan yang dilakukan oleh Doug ini berdampak luas. Sejak saat itu, berbagai organisasi astronomi mengadakan kegiatan serupa. Seiring dengan berjalannya waktu, skala dan lingkup acara menjadi semakin besar. Dan saat ini, kegiatan yang dirintis oleh Doug telah menjadi gerakan arus bawah skala internasional yang secara resmi bertujuan mempromosikan semua kegiatan ilmiah astronomi, dan menyediakan informasi, sumber daya, dan dukungan pada semua aspek astronomi. Dalam kegiatan ini, astronom amatir dan profesional berkesempatan menunjukkan kepada publik apa yang menarik perhatian mereka dalam pengamatan dan penelitian astronomi. Tanggal 26-29 Juli 2005 tahun lalu Astronom Asia Pasifik kembali bertemu dalam Konferensi Regional Astronomi Asia-Pasifik (APRIM) yang berlangsung di Nusa Dua Bali. Dalam salah satu hasil Konferensi APRIM 2005 yang diikuti 34 negara tersebut adalah Keputusan mengenai Pendidikan dan Populerisasi astronomi di Indonesia dan negara-negara Asia Pasifik. Diharapkan dengan diselenggarakannya peringatan Hari Astronomi Tahun 2008 (Astronomy Day 2008) ini dapat menjadi sebuah media pendidikan dan media untuk mempopulerkan atronomi kepada para pelajar serta masyarakat umum.

Bertempat di Kompleks Pondok Pesantren Modern Islam "Assalaam" Sukoharjo, Solo, Jogja Astro Club (JAC) turut mengambil bagian dalam perayaan Hari Astronomi atau Astronomy Day 2008 tahun ini. JAC bekerjasama dengan Club Astronomi Santri Assalaam (CASA) menggelar serangkaian kegiatan bertajuk astronomi Astronomi. Sehari sebelumnya CASA telah memulai kegiatannya dengan mengadakan "Workshop Roket dan Aeromodelling" di Kompleks Pondok ini. Kecuali itu Astronomy Day di PPMI Assalaam ini juga diadakan Seminar Astronomy.

Pameran direncanakan berlangsung selama 2 hari (Sabtu-Ahad) ini berlangsung mulai pukul 12:00 WIB sampai pukul 22:00 malam. Pameran Astronomy Day 2008 menampilkan berbagai macam tema yaitu;

1. Video Astronomi yaitu Pemutaran film/movie dan video pendidikan bertema astronomi.
2.
Slide Show Astrofotografi berupa foto-foto matahari, bulan, planet, komet, galaksi, nebula, pesawat luar angkasa dsb.
3.
Pameran peralatan astronomi amatir meliputi teleskop, binokuler, CCD imaging, peralatan fotografi, peta bintang dsb.
4.
Pameran buku dan majalah astronomi dalam bhs. Indonesia dan asing.
5.
Simulasi Pertunjukan Planetarium menggunakan Starrynight Pro 5.8.2.
6.
Observasi permukaan matahari, bulan dan planet dengan menggunakan teleskop dan video astronomi.
7.
Astronomi untuk anak berupa kegiatan mewarna kuis dan puzzel.

8. Demonstrasi Water Rocket (roket air).
9. Poster-poster astronomi berbagai ukuran.

oleh : Mutoha Arkanuddin
Jogja Astro Club (JAC)
http://mutoha. blogspot. com

Senin, 05 Mei 2008

Good Bye My Soul

Kehidupan memang terus mengalir. Ada siang ada malam. Ada sedih ada senang. Ada pergi ada datang. Silih berganti sesuai dengan kodratnya. Pun demikian hal yang mengenai aku hari ini.

Dulu kubeli karena aku ikut kerja sampingan. Nah karena posisi rumahku dan tempat kerjaku dekat, untuk ukuran naik kendaraan, tapi jauh bila harus jalan kaki. Makanya aku beli sepeda saja. Sekalian sepeda yang agak lumayan keren. Kubeli kurang lebih 150$. Itu dari hasil kerjaku yag aku kumpulkan. Akhirnya kudaptkan juga.

Untuk urusan jalan-jalan sore, naik trotoar, ga pernah kena macet. Dia adalah jagonya. pernah juga waktu malam, kurang lebih jam 01.30 dini hari, aku gunakan dia untuk melawan dan mengejar anjing-anjing malam yang selalu berkeliaran di jalan-jalan. Seneng banget rasanya!
Namun mulai hari ini, agaknya aku harus bisa melupakannya. Walopun ga harus menghapus dia dari otakku. Namun setidaknya, aku sudah tidak bisa lagi bersepeda sore, mengejar anjing di malam hari, naik trotoar dll, bareng dengannya. Hari ini ada salah satu temenku yang berminat membelinya. Sebenarnya sudah lama aku ingin menjualnya. Waktu itu aku mo berangkat haji, jadi butuh duit yagn ga sedikit. Namun agaknya rizki itu baru datang hari ini. Dan tadi pagi temenku membawanya.

"Daripada ga ada yang mo beli, dan aku kadang juga sudah merasa jenuh dengan sepeda itu. Ditambah ada yang mo beli, ya sudah kulepas saja. Lagian lumayanlah buat tambah-tambah bayar telpon rumah, internet, dan mbenerin kipas angin." Pikirku.Karena musim panas tanpa kipas angin, sama dengan ga munkgin, he..he..!!
Siang hari ada temenku yang mo make sepedaku.
"Ad sepedanya kupake ya..?"
"Pake aja!" Jawabku enteng.
"Kok ga ada..., kemana?"
"Dipake anak-anak kali..."
"Wong seedanya dah laku kok, masih di cari..." Celetuk temenku yang satunya.
"Ooo...dasar!!"
"He..he..he..!" Aku hanya teekekeh melihat hal itu.

Rabu, 30 April 2008

I Was Talked...

Pukul 09.00 aku mulai bersiap diri untuk pergi ke taman kota. Sebuah tempat yang menjadi salah satu favorit teman-teman untuk refreshing. Letaknay di tengah kota, namun arealnya yang luas, sehingga bisa duduk dimanapun kita suka. Ya, hari ini aku ada janji dengan Sanee untuk ketemuan disana. Semalam, sepulang dari bandara mengantar temannya, kami sepakat untuk jalan-jalan refreshing di Hadiqoh Dawleyya.

Pukul 10.58 aku sampai di depan pintu gerbang taman, lengkap dengan dua buah tiket, minuman dan camilan untuk teman ngobrol. Kok Sanee belum kelihatan ya, batinku. Lalu kutelpon dia, namun tak diangkat juga. Kring..kring..!! HP-ku berbunyi, oh dari Sanee.

"Iya hallo, Sanee dimana?" Tanyaku.
"Aku didepan pintu gerbang." Jawabnya.
"Lho aku juga didepan pintu gerbang." Sembari menerima telpon Sanee, aku berusaha mencari-cari Sanee. Lalu tanpa sengaja melalui jendela loket aku melihat Sanee. Ternyata dia digerbang masuk satu, sedangkan aku didepan gerbang masuk dua. Pantesan kita ga ketemu. Nampaknya dia masih belum bisa melihatku. Aku sengaja membiarkan sampai dia bisa melihatku juga. Setelah Sanee bisa melihatku, kami sama-sama menutup HP kami.

"Udah lama?" Sembari kuberjalan kearahnya.
"Barusan juga, saat mas telpon tadi saya lagi jalan kesini." jelasnya.
"Ooo...ya sudah masuk yuk!" Waktu masuk, kami saling bertukar tentengan. Camilan yang kubeli dibawa Sanee, sedangkan camilannya aku bawa.
"Nyari tempat dimana San...masih basah semua nih?"
"Mana aja mas." Jawabnya singkat.
"Yuk coba kesana aja." Ajakku.

Aku ajak Sanee duduk disebuah kursi kosong. Aku baru sadar aklo itu ternyata kursi cafe. Karena kami duduk di kursi cafe, maka petugas cafe-pun datang dan menawari kami minuman ato sejenisnya. Namun karena kami telah bawa camilan dan minuman sendiri, maka kami lebih memilih duduk ditempat yang lain. Namun demikian kami masih terus di tawarin minuman, ice cream dan macama-macam. Namun kami tetep menolaknya, abis ntar siapa dong yang ngabisin bekalnya? Gerutuku.

Kamipun saling ngobrol. Entah siapa yang mulai tadi. Obrolan kamipun bermacam-macam. Mulai dari masalah ujian, liburan, kejadian semalam di bandara, haji, juga hal-hal yang menyangkut keluarga kami berdua.

Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk mengatakan maksudku yang sebenarnya. Mengapa aku ajak jalan dia hari ini. Ini semua tak lepas dari dorongan, support dari kakakku yang terus menyemangati aku untuk mencoba mengatakan apa yang sedang kurasakan. Karena hanya itu jalan satu-satunya. Kalo tidak aku bakal terus gelisah dan 'hanya' memendam rasa itu seorang diri. Tanpa orang lain tahu apa yang aku rasakan.

"Sanee, sebenarnya maksudku ngajak jalan kamu hari ini, aku hanya ingin mengatakan satu hal padamu." Kulihat dia termangu sembari menunggu apa yang akan kukatakan lagi.
"Sebenarnya ini ingin kukatakan sejak awal, namun karena kesibukan dan waktu yang tak memungkinkan aku tuk mengatakan pada waktu itu, sampai saat ini."
"Maksud mas...?" Sahut Sanee.
"Aku sayang Sani sudah lama, namun sayangku kini 'lebih' dari sayangku yang dulu. Aku hanya ingin jujur pada diri sendiri juga pada Sanee, bahwa aku sayang dan cinta kamu."

Nampak raut wajah Sanee sedikit ada perubahan. Entah apa yang ia rasakan. Namun aku yakin ia sedang gundah juga, sebagaimana aku kini. Bedanya, ia gundah dalam 'menjawab' sedangkan aku gundah menati 'jawaban'.

"Apa bener apa yang mas katakan ini?" Sanee mencoba meyakinkan dirinya terhadapku.
"Aku ga tahu, namun aku hanya mengatakan sesuatu hal yang sedang aku rasakan kini."
"Aku mau mas jadikan yang keberapa?" Tanyanya padaku.
"Pertama dan terakhir!"
"Masak..., mas dulu kan pernah cerita bahwa ada si-A dan si-B dalam diri mas."
"Itu masa laluku San.., dan aku telah melupakannya. Walopun hubunganku dengannya masih, namun itu semua hanyalah sebuah hubungan seorang teman lama, ga lebih!" Tegasku padanya.
"Mas kan belum tahu banyak mengenai aku, keluargaku. Bahkan umurkupun mas belum tahu. Mestinya kalo mas sayang aku, mas cari tahu dong.."
"Bukannya aku ga mau cari tahu, namun setiap aku tanya, kamunya selalu ga mau jawab."
"Ya cari dari orang lain kek." Jawabnya enteng.
"Aku sudah mencoba cari data dikekeluargaan, bahkan di almamater kita. Namun itu semuanya nihil. Yah..mau gimana lagi?"
"Gini lho mas.., aku dulu pernah merasakan apa yang mas rasakan sekarang, namun itu semua segera kutepis jauh-jauh. Karena aku takut itu hanya 'tepukan sebelah tangan' dan hanya perasaan Sanee saja. Sengaja Sanee biarkan semuanya berlalu. Sanee biarkan.., Sanee tungu sampai mas mengatakannya sendiri. Dan hanya satu yang Sanee minta, kalopun mas bener-bener sayang dan cinta Sanee, kuharap ini bukan cinta lokasi ato cinta semusim, juga bukan main-mian. Sanee ga ingin dibohongi, dan biarkan semuanya mengalir apa adanya. Karena kalo memang kita jodoh takkan kemana."

"Yah...aku pun demikian, kalopun kita berjodoh takkan lari kemana. San.., yang jelas hari ini aku telah mengatakan apa yang aku rasakan, aku jujur pada diriku sendiri. Mengenai jawaban Sanee, aku ga mengharuskan hari ini dan itu hak Sanee. Aku ga bisa maksa Sanee." Sambungku.
"Dan mas..., apa mas tahu berapa umur Sanee? Aku lebih tua dari mas beberapa bulan."
"Apa itu penting dan mengganggu?" Tanyaku pada Sanee.
"Ya enggak sih."
"Ya sudah.., yang penting kan kita jalani aja dulu." Seringkali kami saling terdiam, temangu oleh keadaan. Seakan kami kehabisan kata-kata, saling tunggu dan membisu. Padahal hal demikian tak pernah terjadi sebelum-sebelumnya. Namun, ahh!!

"Lho kok diam..." Kata kami hampir bersamaan, sehingga kami malah saling tertawa. Tawa yang renyah. Namun, seringkali juga aku tercekat dalam pembicaraan itu. Kuteguk air aqua yang telah kubeli tadi.

Tak terasa Adzan Dhuhur telah berkumandang. Panas mentari makin menjadi.
"Mas yuk pulang aja yuk!"
"Lho katanya mo kerumahku sambil meng-copy film, jadi ga?"
"Ga mau ah, banyak cowok pasti."
"Ga ada kok, paling cuma satu orang, temen-temen rumah pada rihlah semua hari ini."
"Ya sudah lah, kapan-kapan aja ya, Sanee ga kuat panas."
"Terserah Sanee."

Kami berjalan keluar taman, sembari terus melanjutkan obrolan kami tadi.
"Agaknya ku potong rambut tahun ini deh San..." Aku mmemecah keheningan sembari jalan.
"Lho kok ngomong rambut sih, tahu ga aku tadi juga lagi mikir dan mo tanya, kapan mas mo potong rambut?" Semoga tahun ini aku bisa potong rambut. Amin!

Kami terus berjalan kearah Bank terdekat, karena Sanee mo ambil uang dulu. Saat menyebrang jalan itulah aku berusaha menggandeng pergelangan tangan Sanee. Sebagaimana semalam sehabis ngembalikan mobil kerental. Tau sendiri kan, kalo orang Mesir itu cara mengemudikan mobilnya gila-gilaan. Setelah ambil uang, kami minum asyir mangga untuk penyegar dahaga.
Saat mo ku antar balik, Sanee menolakku dengan halus, dan akupun ga bisa memaksanya. Setelah hilang dari pandanganku, akupun putar haluan tuk pulang. Kebetulana da KRL lewat. Telah lama aku tak naik KRL. Enak juga rasanya!
"i din't say, you are beautiful
but i said, you are beloved
i din't say, you are perfect
but i say, we'll adjust each other
i din't say, you are wicked
but i say, you was pilfered my nerve"
0(^_^)0

Selasa, 29 April 2008

Cinta adalah Memberi

Lelaki tua menjelang 80-an itu menatap istrinya. Lekat-lekat. Nanar. Gadis itu masih terlalu belia. Baru saja mekar. Ini bukan persekutuan yang mudah. Tapi ia sudah memutuskan untuk mencintainya. Sebentar kemudian ia pun berkata,"Kamu kaget melihat semua ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang kamu temui di sini". Itulah kalimat pertama Utsman bin Affan ketika menyambut istri terakhirnya dari Syam, Naila. Selanjutnya adalah bukti. Sebab cinta adalah kata lain dari memberi. Sebab memberi adalah pekerjaan.. sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi itu berat. Sebab pekerjaan berat itu harus ditunaikan dalam waktu lama. Sebab pekerjaan berat dalam waktu lama begitu hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian kuat dan tangguh.

Maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia mengatakan, "Aku mencintaimu". Kepada siapapun! Sebab itu adalah keputusan besar. Ada taruhan kepribadian disitu. Aku mencintaimu, adalah ungkapan lain dari "Aku ingin memberimu sesuatu". Yang terakhir ini juga adalah ungkapan lain dari, "Aku akan memperhatikan dirimu dan semua situasimu untuk mengetahui apa yang kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia..." "Aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi dirimu agar bisa tumbuh semaksimal mungkin..." "Aku akan merawat dengan segenap kasih sayangku proses pertumbuhan dirimu melalui kebajikan harian yang akan kulakukan padamu ..." "Aku juga akan melindungi dirimu dari segala sesuatu yang dapat merusak dirimu...."

Dan proses pertumbuhan itu taruhannya adalah kepercayaan orang yang kita cintai terhadap integritas kepribadian kita. Sekali kamu mengatakan kepada seseorang, "Aku mencintaimu", kamu harus membuktikan ucapan itu. Itu deklarasi jiwa bukan saja tentang rasa suka dan ketertarikan, tapi terutama tentang kesiapan dan kemampuan memberi, kesiapan dan kemampuan berkorban, kesiapan dan kemampuan pekerjaan-pekerjaan cinta: memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi. Sekali deklarasi cinta tidak terbukti, kepercayaan hilang lenyap. Tidak ada cinta tanpa kepercayaan. Begitulah bersama waktu suami atau istri kehilangan kepercayaan kepada pasangannya. Atau anak kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya. Atau sahabat kehilangan kepercayaan kepada kawannya. Atau rakyat kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya. Semua dalam satu situasi: cinta yang tidak terbukti. Ini yang menjelaskan mengapa cinta yang terasa begitu panas membara di awal hubungan lantas jadi redup dan padam pada tahun kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Dan tiba-tiba saja perkawinan bubar, persahabatan berakhir, keluarga berantakan, atau pemimpin jatuh karena tidak dipercaya rakyatnya.

Jalan hidup kita biasanya tidak linear. Tidak juga seterusnya pendakian. Atau penurunan. Karena itu, konteks di mana pekerjaan-pekerjaan cinta dilakukan tidak selalu kondusif secara emosional.

Tapi disitulah tantangannya: membuktikan ketulusan di tengah situasi-situasi yang sulit. Di situ konsistensi teruji. Di situ juga integritas terbukti. Sebab mereka yang bisa mengejawantahkan cinta di tengah situasi yang sulit, jauh lebih bisa membuktikannya dalam waktu yang longgar.
Mereka yang dicintai dengan cara begitu, biasanya mengatakan bahwa hati dan jiwanya penuh seluruh. Bahagia s ebahagia-bahagianya. Puas sepuas-puasnya. Sampai tak ada tempat bagi yang lain. Bahkan setelah sang pencinta mati.

Begitulah Naila. Utsman telah memenuhi seluruh jiwanya dengan cinta. Maka ia memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah suaminya terbunuh. Ia bahkan merusak wajahnya untuk menolak semua pelamarnya. Tak ada yang dapat mencintai sehebat lelaki tua itu.

Lunch

Siang itu mentari tegak berdiri di atas ubun-ubun. Tak mempedulikan segala hiruk pikuk mahluk yang berlalu lalang dibawahnya. Tetap saja dia memancarkan sinar tergarangnya menurut kodratnya.

Aku segera menyelesaikan tugas memasakku. Sebenarnya kalo hari Minggu seperti ini, petugas masaknya random. Maksudnya siapa saja yang mau. Karena memang satu rumah kami cuma ber-enam. Sehingga lubang satu hari. Nah kami sepakatan dibikin random. Berhubung lagi ingin masak, ya sudah aku masak aja.

Masak pun kelar sudah. Jarum jam dikamarku telah mendekati angka 12.00 WK. Berarti aku harus segera bersiap-siap untuk ngambil pesanan dirumah temenku. Ya.., hari ini aku ada janji dengan temanku. Sanee namanya. Dia temen kuliyahku. Dan kami juga berasal dari daerah yang sama, Blitar. Kemaren Sanee bilang kalo pesenanku sudah ada, sekalian dia ngajak makan siang bareng. Lagi ada rizki nomplok kali dia. Atau baru dapat kiriman. Ah bodo amat, yang jelas aku bisa dapat pesenanku tersebut, juga ketemu Sanee. He..he..he..!

Aku langsung mandi dan mempersiapkan diri. Sudah jam 12.10, aku bersegera ke halte bus. Karena jarak flatku dan tempat tinggal Sanee lumayan jauh. Kira-kira 45-an menit perjalanan. Belom lagi nanti kalo terjebak dalam kemacetan. Biasa, kota besar jam-jam segini-kan sering kali macet. Sesekali aku melihat jam dipergelangan tanganku, berharap laju bus semakin cepat agar aku tidak terlambat lagi. Seperti waktu janjian kami yang pertama dulu.

Deru mesin bus tahun 1980-an yang memekakkan telinga, panas mentari yang makin sangar, bau badan dan keringat begitu kental dan bercampur aduk dalam bus yang aku naiki. Dalam siang yang seolah ingin melumat segala apa yang ada didalamnya. Segera kusumpal telingaku dengan MP3 yang selalu menemaniku kemanapun aku jalan. Biar sedikit ada hiburan saja, dari pada mendengarkan deru bus dan ocehan orang-orang Mesir yang kadang marah-marah ga jelas maksudnya. Malah bikin otak jadi ilfill.

Tittit..titit..!! Ah ada SMS masuk ternyata, dari Sanee. Dia menanyakan keberadaanku sekarang sudah dimana
"Halo Sanee...!"
"Iya mas...!" Sanee memang memanggilku mas, karena aku memang lebih tua dari dia, setidaknya ditingkat kuliyah. Namun kami beda fakultas.
"Sanee dimana sekarang?"
"Sanee sedang jalan keluar..., Mas Fuad dimana sekarang?"
"Aku sudah di Manseyya...!"
"Mana itu..?"
"Itu yang daerah yang banyak kuburannya!" Sambil aku sedikit mengangkat suaraku karena deru mesin yang nyaring.
"Oo..berarti sudah deket dong, 10 menit-an lagi ya?"
"Iya..., ya sudah ya, yuk Assalaamu alaikum!"
"Ok mas..., Wa'alaikumussalaam..!"

Begitu sampai ditempat kami janjian aku mencari Sanee. Kemana ya..., gumamku dalam hati, kok ga ada? Sembari mataku celingukan mencari Sanee. Sejenak kemudian, nah itu dia.
"Sehat San...?" Sebuah basa basi yang biasa aku lakukan bila bertemu dengan teman-temanku.
"Alhamdulillah sehat mas..., Mas Fuad sendiri..?"
"Ya seperti yang kamu lihat lah."
"Oh iya mas..., ini barang pesenan Mas Fuad kemaren" Sembari dia mengulurkan bungkusan plastik hitam. Aku segera mengambilnya dan memasukkan kedalam tas yang telah aku persiapkan sejak berangkat tadi.
"Trus kita mo kemana lagi nih?" Tanyaku membuka percakapan.
"Kesitu lho mas..., kayaknya disitu ada Rumah Makan Thailand dech." Sambil jarinya menunjuk kearah depan.
Kami melangkahkan kaki menuju arah yang Sanee tunjuk. Namun ternyata Rumah Makan Thailand yang Sanee maksud itu masih tertutup rapat."Sanee.., gimana kalo kita Sholat Dhuhur aja dulu, sepertinya sudah adzan deh." Aku mencoba menawarkan.
"Sanee ga punya wudhu, mas sholat aja dulu deh."
"Trus kamu mo kemana..., balik?" "Sanee tunggu disini aja deh, sambil nunggu warung ini buka."
"Ya sudah...aku sholat dulu ya!""Iya mas."

Segera aku menuju masjid di seberang jalan. Untuk mendapatkan sebuah bangunan masjid, di Mesir ini, tentunya bukanlah perkara yang susah. Apalagi dengan mayoritas penduduknya yang muslim. Aku segera masuk ke dalam masjid, karena aku masih mempunyai wudhu. Tak selang lama, dari sholat sunnahku, iqomah-pun berkumandang. Pertanda sholat berjamaah akan didirikan.Sebelum sholat dimulai, sang-imam memperingatkan para jamaahnya agar merapatkan shof dan mematikan HP. Biar kami semua khsusuk dalam beribadah.

Setelah sholat aku segera balik ketempat tadi. Aku melihat Sanee masih tetap menunggu di depan warung Thailand itu. Namun ku lihat warung itu tetap seperti waktu kutinggal untuk Sholat Dhuhur tadi. Tetap tertutup rapat.
"Balum buka juga ya San...?" Aku membuka percakapan.
"Iya nih mas, kali memang tutup karena ujian!"
Wajah Sanee kelihatan agak kesal. Lantaran setelah di tunggu sekian lama, warung itu belum buka juga. Memang bulan Mei dan Juni adalah bulan ujian bagi kami. Sehingga wajar sekali kalo banyak sekali kegiatan yang mandeg dan libur. Untuk mencari ketenangan dan konsentrasi dalam belajar. Termasuk warung Thailand tersebut. Walopun masih ada beberapa yang berjalan seperti sediakala.
"Trus gimana dong San..?"
"Gimana kalo kita ke Nile Restoran saja mas?" Sanee mencoba menawarkan alternatif lain.
"Emang Kamis ini Sanee ga ada mata ujian to..?"
"Ada sih mas..."
"Nah.., gimana kalo makan siangnya itu ditunda aja sampai habis ujian, lagian-kan ga wajib dan bisa kapan-kapan bukan? Lagian barang pesenannya kan sudah aku dapat." Aku mencoba meyakinkan Sanee.
"Gapapa ko mas, lagian Sanee juga mo jemput temen Sanee yang hari ini ada ujian sore" Jawab Sanee mencoba meyakinkan aku.
"Ya sudah kalo gitu..." Jawabku singkat.

Kami segera naik bus yang menuju District 7. Jam di tanganku menunjukkan pukul 13.30 WK. Kurang lebih 30 menit kami berada dalam deru mesin yang tak kalah bisingnya dengan bus yang aku naiki kala berangkat tadi. Memang masih banyak di Mesir ini armada bus yang sudah berumur, walopun sudah ada peremajaan armada yang telah berjalan setahunan ini.

Kami saling ngobrol. Tentang ujian, apa rencana sehabis ujian, gimana kalo ga naik dalam ujian, sehabis lulus kuliyah nanti, dan masih banyak lagi."Ya sudah lah San..., ujian saja belum selesai semua, kok malah mikir kalo ga naik, gimana sih kamu ini, kok menyerah sebelum selesai semua?"
"Yang penting kuliyah aja dulu, mengenai hal nanti sehabis kuliyah...itu perkara nanti!" Imbuhku padanya. Dia hanya diam dan menganggukkan kepala. Kelihatannya bisa memahami apa yang aku maksud.
"San...kelihatannya dah dekat ni, yuk turun!"
Begitu turun dari bus, kami segera menuju Nile Restoran. Ini adalah salah satu restoran favorit temen-temenku. Selain harganya yang masih terjangkau, rasa makanannya memang ga perlu dipertanyakan lagi. Restoran ini menyediakan menu-menu Thailand dan dimasak oleh orang asli Thailand juga. Sehingga cita rasa yang tepat dan mengundang selera menjadi nilai plus dan daya tawar dari restoran tersebut.

Kami memilih duduk di bangku dalam, karena selain panas, bangku yang luar sedikit bising serta banyak orang yang berlalu lalang. Sejenak kemudian pramusaji, yang nampaknya orang pribumi, datang sembari membawa lembaran menu makanan untuk kami.
"Mo pesen apa Sanee..?" Tanyaku pada Isna, sembari ku membolak balik lembaran menu yang aku pegang.
" Mas Fuad sendiri apa..?" Dia balas bertanya padaku.
"Aku ini aja deh...Tom Yam Campur..., sudah lama aku ga makan Tom Yam, kamu apa San?"
"Aku ini Kwee Teaw Biasa..."
"Kwee Teaw tidak ada..." Sambut pelayan itu memberitahukan pada Sanee, denga bahasa Melayu yang masih kaku.
"Kalo Kwee Teaw Goreng..?" Sanee bertanya lagi.
"Kwee Teaw tidak ada..." Pelayan itu menjawab lagi.
"Kwee Teaw-nya yang ga ada San..." Jelasku padanya.
"Ya sudah lah, aku sama aja dengan Mas Fuad, Tom Yam Campur juga.."
"Ga nyesel pesen sama.." Godaku padanya.
"Minumnya...?" Pelayan itu bertanya pada kami.
"Aku.., hhmm..., Pandan Ice satu!"
"Aku..., Nescafe O Ice!" Sanee menyebutkan minuman yang ia pesan.
"Ya amm,Wahid kaman*... bebola daging!" Sanee memberitahukan pada pelayan tersebut.
"Nasi putih..?" Pelayan tersebut mencoba bertanya lagi pada kami.
"Nasi putihnya satu saja!" Jawabku singkat.

Sembari menunggu pesanan kami datang, kami ngobrol banyak hal yang telah kami alami beberapa hari ini. Termasuk melanjutkan obrolan dibus tadi. Sejenak kemudian pesanan kami datang. Kami segera menyantap pesanan kami. Karena sedari pagi aku juga belom makan, walopun aku tadi masak, karena keburu waktu. Tak lupa obrolan pun terus kami lanjutkan. Seolah obrolan antara kami adalah bumbu tersendiri dalam makan siang kami. Makanan kami terasa lebih ringan dan lezat. Tawa dan kadang saling memperolok diantara aku dan Sanee menyelingi makan siang kami.

Jam sudah menunjukkan pukul 14.30. Sanee memberitahukan padaku, kalo ia hanya punya waktu sampai jam 15.00 saja. Karena setelah itu ia harus menjemput temennya yang hari itu ada ujian sore, dan memasak untuknya. Namanya Vitri. Karena mereka berbagi tugas. Kala Sanee ujian pagi, Vitri yang memasak untuk Sanee. Kalo Vitri ujian sore, giliran Sanee yang memasak untuknya. Karena mereka berdua satu kamar.
"Sanee dah jam 15.00 nih, yuk jalan." Ajakku padanya.
"Ntar malah si-Vitri cemberut gara-gara nyari-nyari Sanee ga ada." Imbuhku.
"Yuk mas..."

Setelah membayar, kami berjalan menuju kuliyah putri yang memang ga jauh dari tempat kami makan siang. Memang dikuliyah kami antara kuliyah putra dan putri dipisah. Sehingga kami bisa berhubungan kala kami diluar kuliyah. Baik waktu bimbel (bimbingan belajar), oragnisasi atau yang lainnya.
Sesampainya di halte bus, Sanee bilang kepadaku"Sudah mas, Mas Fuad balik saja ke H-10, dan Sanee tak cari Vitri!" Terangnya padaku.
"Kenapa ga ditelpon saja?"
"Dia ga bawa HP."
"Ya sudah-lah kalo gitu, aku balik dulu ya. Dan makasih pesenannya, juga waktu tuk makan siangnya."
"Sama-sama Mas Fuad..." Jawabnya singkat padaku.

Aku langsung berlari mengejar bus 993 yang kebetulan lewat didepanku, yang tentunya akan membawaku ke District 10, tempatku tidur dan segalanya bersama teman-temanku yang lain.

District-08/290408
*Ya amm,Wahid kaman* : Hai pak, tambah satu lagi.

Jumat, 18 April 2008

Point itu belum bisa kami pegang...

Break..k, breakk..kk!!
Cari posisi...cari posisi!!
Defend.., defend... Hands Up.., hands up!!
Kalimat itu yang beberapa hari ini sering aku ucapkan waktu team kami bertanding. Team yang terdiri atas:
Islahuddin (fw) (C), Zaenal (fw), Agam (fw), Mujahid (fw), Salman (fw), Maulana (fw), Panjul (center), Roji' (center), Afif (center), Nadzim (gd), Nasrul (gd), Faisol (gd).
Nama-nama tersebut yang mengisi line-up ASC Basket Ball dalam kejuaraan 'Minang Cup' tahun ini. Saya sendiri, tahun ini, sebagai official team. Mengingat kakiku tak mengijinkan ikut bertanding . Sekaligus memberikan kesempatan bagi wajah-wajah baru dalam Skuad ASC Basket Ball. Dimana tahun ini lumayan banyak anggota yang masuk. Sehingga ada aroma segar dan pola main yang pasti baru.
Sore ini kami telah menorehkan sejarah baru bagi Gamajatim. Semenjak berdirinya ASC, 12 Oktober 1998, belum pernah sekalipun kami menginjakkan kaki di perempat final. Dan hari ini, Rabu; 19/04/2008, kami akan menghadapi lawan yang tangguh, KPJ. Guna memperebutkan juara tiga. Sedangkan juara pertama diperebutkan anatara KPMJB (Jabar) vs KMM (Minang Sayo) juga selaku event organiser. Dimana sebelumnya kami harus mengakui ketangguhan Team KMM. Yang merupakan sarangnya skuad Timnas Indonesia di Cairo ini.
Berkat kerja keras seluruh anggota team. Mulai dari pemain, pengurus ASC, official dan suporter, kami bisa beraksi sore ini. Dimana dalam fase grup kami bisa menjadi 'kuda hitam'. Dan menduduki klasmen kedua. Dimana kami bisa mengkandaskan KMNTB, SIC dan KEMASS. Kami hanya kalah dari pemuncak group, KPMJB.
Yang paling menjadi laga emosional bagiku adalah waktu kami bisa menang atas SIC (SekolahIndonesia Cairo). Mengingat, setiap kami bertemu dengannya, dalam berbagai event, belum pernah sekalipun kami memetik poin. Kami hanya menang setengah bola, dengan point akhir 26 - 27, untuk ASC. Pada waktu itu, temen-temen kuarahkan agar main santai, karena psikologi SIC telah jatuh. Terbukti, saat kami ketinggalan 3 bola, kami bisa mengejarnya. Dan kami bisa mematikan semua lini serangannya. Bahkan kami bisa unggul sampai 3 bola. Namun karena kami kehilangan sedikit konsentrasi, dan main yang terlalu hati-hati, sehingga mereka hampir bisa mengejar balik. Untung kami masih bisa menjaga tempo permainan. Sehingga poin penuh pun dapat kami bawa pulang. Dan itu yang paling membagiakan aku. That's so emotional!!
Kembali kepermainan antara ASC vs KPJ. Permainan begitu alot, saling cetak poin. Sungguh seru pada permulaan babak. Pada sore ini aku menerapkan strategi yang berbeda. Aku memasukkan para pemain yang sering di-bench. Maksudku untuk sejenak bisa mempelajarai gaya permainan KPJ. Ini terbukti! Laga berjalan 10 menit, aku minta time-out pada wasit. Aku memasukkan Afif, dan Roji'. Afif mengganti Nasrul dan Roji' mengganti Faisol. Mengingat Roji' mempunyai daya lompat yang tinggi plus mempunyai kecepatan. Mengingat KPJ menggunakan taktik fast-break. Sehingga aku membutuhkan orang untuk meredamnya. Dan Roji'lah yang kuanggap mampu.
Prriii..ttt, pprrii..iitt, pprrii..iitt!!
Babak pertama telah berakhir, untuk keunggulan KPJ. Namun kami hanya terpaut 3 bola, sehingga kami yakin bisa mengejarnya. Dalam segi materi, kami tak kalah jauh, namun segi pengalaman dan pasing yang kami sedikit ketinggalan. Para pemain kuinstruksikan untuk main santai, tapi ganas di bawah ring. Terutama Panjul dan Afif yang memiliki tinggi badan plus.
Pertandingan tinggal 5 menit lagi. Namun papan sekor lebih memihak pada KPJ. Penyelesaian yang kurang akurat, passing, juga seringnya kami kena stiling yang mengakibatkan kami tertinggal dari lawan. Termasuk saat kami dapat fast-break, dengan guard yang hanya satu. Harusnya kami bisa mencetak point, namun itu urung kami lakukan. Juga seringnya kami gagal dalam memanfaatkan bola-bola rebound.
Prrii..ttt, pprrriii..iittt, pprrii..iitt!!
Pertandingan telah berakhir. Skor terakhir ASC 31 - 40 KPJ. Kami kalah empat setengah bola. Bukanlah kekalahan yang fantastis, dan bisa kami kejar. Namun sore ini nampaknya kami memang harus mengakui ketangguhan KPJ. Dan menerima dengan legowo, bahwa kami harus banyak belajar dan praktek dengan berbagai strategi guna meredam strategi lawan.
Apapun yang terjadi, kami semua telah menorehkan sebuah raihan sejarah baru bagi ASC Gamajatim. Dalam belantika Bola Basket masisir. Dimana event tahunan selalu digelar untuk penyaluran bakat dan sportifitas.
Thank's guys, for your fight, and standing applause for you....!!
Let's do it again next time. With a new spirit, wish, and strategy.