Selasa, 18 Maret 2008

Haruskah Kita Bersyukur....(?)

Pagi telah menjelang. Hari baru telah menyambutku. Seperti biasanya, segera kulaksanakan sujudku pada-Nya di pagi buta ini. Kupanjatkan doa dan harapan pada Tuhan, agar aku dan semua orang yang kenal dan menyayangiku bisa mendapatkan kemudahan dalam setiap kondisinya. Amin!

Ternyata komputerku telah bangun terlebih dulu, mungkin Chosim yang nyalain. Karea waktu kubangun tadi, dia masih asik dengn file-file download-annya. Sudah menjadi trend-nya, kalo tidurnya dia pindah di pagi hari. Sedangkan malam adalah habitatnya.

Kubuka jendela kamarku. Seketika menyeruak masuk segala hawa baru dihari yang baru ini. Seolah angin berebut, saling mendahului untuk jadi yang pertama masuk di kamarku. Saputan angin pagi yang segar menyentuh setiap pori di wajahku dengan lembut. Tak sabar, segera kuhirup kuat-kuat seluruh udara itu untuk masuk kedalam rongga dadaku. Sekuat tenaga kumenghisapnya. Puas dan plong..ngng!! Itu yang kurasa. Badan terasa segar dan ringan setelah semalaman terlelap dalam kematian semu.

Kuambil udara pagi ini sekali lagi dengan sekuat tenagaku. Kuingin setiap laring di paru-paruku bisa merasakan kehadiran hari baru yang dirasakan oleh jiwaku. Dengan samar-samar kulihat orang mulai lalu-lalang dengan kesibukannya sendiri-sendiri. Oh.., alhamdulillah, mataku masih bisa untuk melihat, walopun semenjak dua tahun terahir ini, aku harus menggunakan alat bantu. Sebuah besi warna hitam, dengan garis putih di tepinya, yang mengapit benda bening di tengahnya. Kaca mata, kata temenku. Tiba-tiba telingaku menangkap sebuah bunyi. Alhamdulillah.., aku masih bisa mendengar. Seperti halnya sebelum aku tidur semalam. Aku ga bisa bayangkan seandainya ada semut atau serangga masuk ditelingaku semalam. Sehingga merusak gendang telingaku, nisacaya dipagi yang cerah ini aku tak bisa mendengarkan ceceruit burung kecil-kecil di belakang rumah. Jari dan rambutku masih bisa saling bersentuhan. Buakankah itu sebuah nikmat yang besar (sangat) untuk kita renungi dan syukuri?!

Coba kita pilah, sepanjang yang kita mampu saja. Kita diberi mata yang kita gunakan untuk melihat, menikmati, mentransfer, mengenali segala hal dunia luar terhadap diri kita. Sehingga kita bisa mengatakan, oh..ini buruk ini baik. Ini tembok ini jalan, ini makanan ini racun dan sebagainya. Seandainya saja, kalau setelah kita bangun tidur tiba-tiba daya pengelihatan kita hilang. Atau berkurag seperti saya. Pasti kita akan merasa bahwa, Tuhan tidak adil terhadap kita. Kita merasa dipermalukan oleh Tuhan dihadapan para mahluk-Nya. Namun apa demikian adanya? Tidak! Ternyata Tuhan sangat menyayangi kita semua sebagai mahluknya. Tuhan tidak mau tahu akan kita apakan mata kita. Apa akan kita gunakan untuk kebaikan ato sebaliknya. Bahkan Tuhan tidak marah walopun mata kita, kita gunakan untuk hal buruk sekalipun. Namun pertanyannya, apa itu patut kita lakukan sebagai hamba-Nya?

Semisal saja, karena kita berprestasi kita dibelikan motor oleh orang tua kita. Memang motor itu menjadi milik kita sepenuhnya. namun apakah serta merta kita akan menggunakan seenaknya saja. Apalagi pada Dzat yang telah menciptakan kita. Karena kita diciptakan oleh Tuhan untuk belajar saling menghargai dan tanggung jawab terhadap diri kita masing-masing.

Itu salah satu contoh kecil saja. Mau yang lain? Well.., coba kita bayangkan seandainya saja, hati kita yang fungsinya memompa darah kesekujur tubuh kita, tiba-tiba letih dan berhenti sebentar saja. Tidak usah satu detik, seper-sekian detik saja lah. Kita bisa bayangkan, apa yang bakal terjadi pada diri kita? Tubuh kita bakal lemas, kita akan jatuh, semua orangyang disekeliling kita bakal panik, membawa kita kerumah sakit terdekat, mengupayakan hal yang terbaik dan sebagainya. Itu baru fungsi hati, yang mana logikanya, seandainya fungsi hati kita dimatikan oleh si-Penciptanya, itu kan hak Dia sebagai pemegang hak paten. Apa hak kita, yang beposisi hanya sebagai konsumen/pengguna. Bila dipikir secara kasat mata, kalopun hati kita tiada, toh kita masih ada otak, tangan, mulut, mata, telinga, paru-paru dan masih banyak lagi.

Mungkin kita bakal menjawab, karena fungsi hati sangat fundamental bagi kelangsungan hidup kita. Bahkan sampe ada usaha operasi pencangkokan hati. Ok lah, mungkin hati terlalu mahal dan tinggi bagi kita. Coba kita ganti dengan jari telunjuk kita.

Jari yang dalam keseharian kita pakai untuk nunjuk barang yang kita maksud, menulis, menambahkan keterangan dengan bahasa isyarat, bahkan kadang kita gunakan untuk mengorek hidung kita. Bukankah itu sebuah nikmat bukan? yang seringkali tidak kita sadari. Seolah itu hal biasa, lumrah adanya. Bagaimana jika tiba-tiba anda terlibat kecelakaan, atau mengidap penyakit yang menjalar, sehingga mengharuskan jari telunjuk anda di amputasi. Pasti kita akan menghakimi Tuhan. Tuhan yang telah menciptakan kita, alam beserta isinya. Kita pasti mengatakan dengan sangat emosinya...Tuhan tidak adil terhadap saya!!

Namun apakah itu pantas kita alamatkan pada-Nya. Tuhan tidak pernah meminta balasan apa-apa setelah Dia menciptakan kita. Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk membayar terhadap segala hal yang telah Tuhan lekatkan pada diri kita. Namun Tuhan hanya meminta kita untuk bersyukur terhadap apa yang telah diberikan-Nya pada kita semua. Itu saja!

Ada duapuluh satu ayat, dalam Al Qur'an, menyebutkan kewajiban kita sebagai mahluk untuk bersyukur pada-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam S. Al Baqarah, ayat 152 :

فاذكرونى أذكركم واشكروالى ولا تكفرون

" Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu[*], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku
Betapa Agung dan Maha Besar Allah swt. dengan segala sifat kamal-Nya. Allah tidak pernah sekalipun memberikan beban, kewajiban yang sekira mahluk-Nya tidak kuasa menanggungnya. Dari sekian banyak nikmat Allah yang telah kita terima, baik yang nikmat yang bisa kita rasakan secara langsung, seperti mata, telinga, nafas, kesehatan dan lain-lain. Ataupun yang secara ga langsung, seperti hasil bumi yang melimpah ruah, lancarnya segala usaha, lulusnya kita dari jenjang pendidikan, dan lain sebgainya. Walopun itu semua terkesan kita sendiri yang mengusahkan, namun pada hakekatnya segala keputusan finalnya kembali pada Dzat yang menciptakan hijau dan kuningnya daun di dunia ini.
Jadi apalah artinya kita berusaha, bekerja siang dan malam, tanpa dibarengi rasa syukur dan nriman ing pandum. Bukankah itu justru malah membuat diri kita tersiksa, terbelenggu dalam rasa selalu kekurangan dan ketidakpuasan, terhadap apa yang telah kita capai. Alangkah enaknya jika mendapat sedikit atau banyak, tetap saja kita syukuri. Bukankah hidup ini untuk dinikmati. So, bagaimana kita bisa menikmatinya kalo kita belum bisa menerapkan rasa syukur dalam hidup kita sehari-hari. Bukankah aliran sungai yang santai dan pasti itu justru sangat indah dan mengasikkan. Dibanding deras, namun akhirnya malah kacau dan amburadul.
Allah telah menyebutkan dalam S. Ibrahim, ayat 7 :

وإذ تأذّن ربّكم لأنشكرتم لأزيدنّكمۖ ولأنكفرتم إنّ عذابى لشديد

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."
Ini adalah salah satu manifestasi janji Allah pada mahluk-Nya yang mau bersyukur pada-Nya. Bagi yang mau bersyukur, maka akan Allah swt. tambah segala nikmat dan rizkinya. Tapi bagi yang mengingkari dan kufur pada-Nya, maka besiaplah mendapatkan balasan atas segala kecongkakannya. Menerima dan mengembalikan segala hasil dari usahanya pada Allah swt. adalah jalan yang terbaik bagi kita setelah seharian penuh kita berusaha di kelas ataopun di kantor. Toh Allah swt. juga Maha Mengerti atas segala tindakan dan usaha kita. Karena Allah swt. tidak tidur. Namun demikian, bukan serta merta kita hanya bergantung pada Allah swt. semata, karena Allah sangat tidak suka pada umatnya yang malas dan hanya berdoa tanpa berusaha. Karena 'doa - usaha = bohong!
Oleh karena itu, marilah kita sambut hari-hari baru dalam hidup kita dengan berhiaskan syukur. Karena dengan demikian hati dan pikira kita akan selalu tenang, damai. Dan ga akan ada stres, rasa dengki, iri hati dan dendam dalam hidup ini. Karena hidup terlalu mahal untuk digadaikan dengan itu semua.
[*] Maksudnya: Aku limpahkan rahmat dan ampunan-Ku kepadamu.

Tidak ada komentar: