Rabu, 30 April 2008

I Was Talked...

Pukul 09.00 aku mulai bersiap diri untuk pergi ke taman kota. Sebuah tempat yang menjadi salah satu favorit teman-teman untuk refreshing. Letaknay di tengah kota, namun arealnya yang luas, sehingga bisa duduk dimanapun kita suka. Ya, hari ini aku ada janji dengan Sanee untuk ketemuan disana. Semalam, sepulang dari bandara mengantar temannya, kami sepakat untuk jalan-jalan refreshing di Hadiqoh Dawleyya.

Pukul 10.58 aku sampai di depan pintu gerbang taman, lengkap dengan dua buah tiket, minuman dan camilan untuk teman ngobrol. Kok Sanee belum kelihatan ya, batinku. Lalu kutelpon dia, namun tak diangkat juga. Kring..kring..!! HP-ku berbunyi, oh dari Sanee.

"Iya hallo, Sanee dimana?" Tanyaku.
"Aku didepan pintu gerbang." Jawabnya.
"Lho aku juga didepan pintu gerbang." Sembari menerima telpon Sanee, aku berusaha mencari-cari Sanee. Lalu tanpa sengaja melalui jendela loket aku melihat Sanee. Ternyata dia digerbang masuk satu, sedangkan aku didepan gerbang masuk dua. Pantesan kita ga ketemu. Nampaknya dia masih belum bisa melihatku. Aku sengaja membiarkan sampai dia bisa melihatku juga. Setelah Sanee bisa melihatku, kami sama-sama menutup HP kami.

"Udah lama?" Sembari kuberjalan kearahnya.
"Barusan juga, saat mas telpon tadi saya lagi jalan kesini." jelasnya.
"Ooo...ya sudah masuk yuk!" Waktu masuk, kami saling bertukar tentengan. Camilan yang kubeli dibawa Sanee, sedangkan camilannya aku bawa.
"Nyari tempat dimana San...masih basah semua nih?"
"Mana aja mas." Jawabnya singkat.
"Yuk coba kesana aja." Ajakku.

Aku ajak Sanee duduk disebuah kursi kosong. Aku baru sadar aklo itu ternyata kursi cafe. Karena kami duduk di kursi cafe, maka petugas cafe-pun datang dan menawari kami minuman ato sejenisnya. Namun karena kami telah bawa camilan dan minuman sendiri, maka kami lebih memilih duduk ditempat yang lain. Namun demikian kami masih terus di tawarin minuman, ice cream dan macama-macam. Namun kami tetep menolaknya, abis ntar siapa dong yang ngabisin bekalnya? Gerutuku.

Kamipun saling ngobrol. Entah siapa yang mulai tadi. Obrolan kamipun bermacam-macam. Mulai dari masalah ujian, liburan, kejadian semalam di bandara, haji, juga hal-hal yang menyangkut keluarga kami berdua.

Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk mengatakan maksudku yang sebenarnya. Mengapa aku ajak jalan dia hari ini. Ini semua tak lepas dari dorongan, support dari kakakku yang terus menyemangati aku untuk mencoba mengatakan apa yang sedang kurasakan. Karena hanya itu jalan satu-satunya. Kalo tidak aku bakal terus gelisah dan 'hanya' memendam rasa itu seorang diri. Tanpa orang lain tahu apa yang aku rasakan.

"Sanee, sebenarnya maksudku ngajak jalan kamu hari ini, aku hanya ingin mengatakan satu hal padamu." Kulihat dia termangu sembari menunggu apa yang akan kukatakan lagi.
"Sebenarnya ini ingin kukatakan sejak awal, namun karena kesibukan dan waktu yang tak memungkinkan aku tuk mengatakan pada waktu itu, sampai saat ini."
"Maksud mas...?" Sahut Sanee.
"Aku sayang Sani sudah lama, namun sayangku kini 'lebih' dari sayangku yang dulu. Aku hanya ingin jujur pada diri sendiri juga pada Sanee, bahwa aku sayang dan cinta kamu."

Nampak raut wajah Sanee sedikit ada perubahan. Entah apa yang ia rasakan. Namun aku yakin ia sedang gundah juga, sebagaimana aku kini. Bedanya, ia gundah dalam 'menjawab' sedangkan aku gundah menati 'jawaban'.

"Apa bener apa yang mas katakan ini?" Sanee mencoba meyakinkan dirinya terhadapku.
"Aku ga tahu, namun aku hanya mengatakan sesuatu hal yang sedang aku rasakan kini."
"Aku mau mas jadikan yang keberapa?" Tanyanya padaku.
"Pertama dan terakhir!"
"Masak..., mas dulu kan pernah cerita bahwa ada si-A dan si-B dalam diri mas."
"Itu masa laluku San.., dan aku telah melupakannya. Walopun hubunganku dengannya masih, namun itu semua hanyalah sebuah hubungan seorang teman lama, ga lebih!" Tegasku padanya.
"Mas kan belum tahu banyak mengenai aku, keluargaku. Bahkan umurkupun mas belum tahu. Mestinya kalo mas sayang aku, mas cari tahu dong.."
"Bukannya aku ga mau cari tahu, namun setiap aku tanya, kamunya selalu ga mau jawab."
"Ya cari dari orang lain kek." Jawabnya enteng.
"Aku sudah mencoba cari data dikekeluargaan, bahkan di almamater kita. Namun itu semuanya nihil. Yah..mau gimana lagi?"
"Gini lho mas.., aku dulu pernah merasakan apa yang mas rasakan sekarang, namun itu semua segera kutepis jauh-jauh. Karena aku takut itu hanya 'tepukan sebelah tangan' dan hanya perasaan Sanee saja. Sengaja Sanee biarkan semuanya berlalu. Sanee biarkan.., Sanee tungu sampai mas mengatakannya sendiri. Dan hanya satu yang Sanee minta, kalopun mas bener-bener sayang dan cinta Sanee, kuharap ini bukan cinta lokasi ato cinta semusim, juga bukan main-mian. Sanee ga ingin dibohongi, dan biarkan semuanya mengalir apa adanya. Karena kalo memang kita jodoh takkan kemana."

"Yah...aku pun demikian, kalopun kita berjodoh takkan lari kemana. San.., yang jelas hari ini aku telah mengatakan apa yang aku rasakan, aku jujur pada diriku sendiri. Mengenai jawaban Sanee, aku ga mengharuskan hari ini dan itu hak Sanee. Aku ga bisa maksa Sanee." Sambungku.
"Dan mas..., apa mas tahu berapa umur Sanee? Aku lebih tua dari mas beberapa bulan."
"Apa itu penting dan mengganggu?" Tanyaku pada Sanee.
"Ya enggak sih."
"Ya sudah.., yang penting kan kita jalani aja dulu." Seringkali kami saling terdiam, temangu oleh keadaan. Seakan kami kehabisan kata-kata, saling tunggu dan membisu. Padahal hal demikian tak pernah terjadi sebelum-sebelumnya. Namun, ahh!!

"Lho kok diam..." Kata kami hampir bersamaan, sehingga kami malah saling tertawa. Tawa yang renyah. Namun, seringkali juga aku tercekat dalam pembicaraan itu. Kuteguk air aqua yang telah kubeli tadi.

Tak terasa Adzan Dhuhur telah berkumandang. Panas mentari makin menjadi.
"Mas yuk pulang aja yuk!"
"Lho katanya mo kerumahku sambil meng-copy film, jadi ga?"
"Ga mau ah, banyak cowok pasti."
"Ga ada kok, paling cuma satu orang, temen-temen rumah pada rihlah semua hari ini."
"Ya sudah lah, kapan-kapan aja ya, Sanee ga kuat panas."
"Terserah Sanee."

Kami berjalan keluar taman, sembari terus melanjutkan obrolan kami tadi.
"Agaknya ku potong rambut tahun ini deh San..." Aku mmemecah keheningan sembari jalan.
"Lho kok ngomong rambut sih, tahu ga aku tadi juga lagi mikir dan mo tanya, kapan mas mo potong rambut?" Semoga tahun ini aku bisa potong rambut. Amin!

Kami terus berjalan kearah Bank terdekat, karena Sanee mo ambil uang dulu. Saat menyebrang jalan itulah aku berusaha menggandeng pergelangan tangan Sanee. Sebagaimana semalam sehabis ngembalikan mobil kerental. Tau sendiri kan, kalo orang Mesir itu cara mengemudikan mobilnya gila-gilaan. Setelah ambil uang, kami minum asyir mangga untuk penyegar dahaga.
Saat mo ku antar balik, Sanee menolakku dengan halus, dan akupun ga bisa memaksanya. Setelah hilang dari pandanganku, akupun putar haluan tuk pulang. Kebetulana da KRL lewat. Telah lama aku tak naik KRL. Enak juga rasanya!
"i din't say, you are beautiful
but i said, you are beloved
i din't say, you are perfect
but i say, we'll adjust each other
i din't say, you are wicked
but i say, you was pilfered my nerve"
0(^_^)0

Selasa, 29 April 2008

Cinta adalah Memberi

Lelaki tua menjelang 80-an itu menatap istrinya. Lekat-lekat. Nanar. Gadis itu masih terlalu belia. Baru saja mekar. Ini bukan persekutuan yang mudah. Tapi ia sudah memutuskan untuk mencintainya. Sebentar kemudian ia pun berkata,"Kamu kaget melihat semua ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang kamu temui di sini". Itulah kalimat pertama Utsman bin Affan ketika menyambut istri terakhirnya dari Syam, Naila. Selanjutnya adalah bukti. Sebab cinta adalah kata lain dari memberi. Sebab memberi adalah pekerjaan.. sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi itu berat. Sebab pekerjaan berat itu harus ditunaikan dalam waktu lama. Sebab pekerjaan berat dalam waktu lama begitu hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian kuat dan tangguh.

Maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia mengatakan, "Aku mencintaimu". Kepada siapapun! Sebab itu adalah keputusan besar. Ada taruhan kepribadian disitu. Aku mencintaimu, adalah ungkapan lain dari "Aku ingin memberimu sesuatu". Yang terakhir ini juga adalah ungkapan lain dari, "Aku akan memperhatikan dirimu dan semua situasimu untuk mengetahui apa yang kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia..." "Aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi dirimu agar bisa tumbuh semaksimal mungkin..." "Aku akan merawat dengan segenap kasih sayangku proses pertumbuhan dirimu melalui kebajikan harian yang akan kulakukan padamu ..." "Aku juga akan melindungi dirimu dari segala sesuatu yang dapat merusak dirimu...."

Dan proses pertumbuhan itu taruhannya adalah kepercayaan orang yang kita cintai terhadap integritas kepribadian kita. Sekali kamu mengatakan kepada seseorang, "Aku mencintaimu", kamu harus membuktikan ucapan itu. Itu deklarasi jiwa bukan saja tentang rasa suka dan ketertarikan, tapi terutama tentang kesiapan dan kemampuan memberi, kesiapan dan kemampuan berkorban, kesiapan dan kemampuan pekerjaan-pekerjaan cinta: memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi. Sekali deklarasi cinta tidak terbukti, kepercayaan hilang lenyap. Tidak ada cinta tanpa kepercayaan. Begitulah bersama waktu suami atau istri kehilangan kepercayaan kepada pasangannya. Atau anak kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya. Atau sahabat kehilangan kepercayaan kepada kawannya. Atau rakyat kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya. Semua dalam satu situasi: cinta yang tidak terbukti. Ini yang menjelaskan mengapa cinta yang terasa begitu panas membara di awal hubungan lantas jadi redup dan padam pada tahun kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Dan tiba-tiba saja perkawinan bubar, persahabatan berakhir, keluarga berantakan, atau pemimpin jatuh karena tidak dipercaya rakyatnya.

Jalan hidup kita biasanya tidak linear. Tidak juga seterusnya pendakian. Atau penurunan. Karena itu, konteks di mana pekerjaan-pekerjaan cinta dilakukan tidak selalu kondusif secara emosional.

Tapi disitulah tantangannya: membuktikan ketulusan di tengah situasi-situasi yang sulit. Di situ konsistensi teruji. Di situ juga integritas terbukti. Sebab mereka yang bisa mengejawantahkan cinta di tengah situasi yang sulit, jauh lebih bisa membuktikannya dalam waktu yang longgar.
Mereka yang dicintai dengan cara begitu, biasanya mengatakan bahwa hati dan jiwanya penuh seluruh. Bahagia s ebahagia-bahagianya. Puas sepuas-puasnya. Sampai tak ada tempat bagi yang lain. Bahkan setelah sang pencinta mati.

Begitulah Naila. Utsman telah memenuhi seluruh jiwanya dengan cinta. Maka ia memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah suaminya terbunuh. Ia bahkan merusak wajahnya untuk menolak semua pelamarnya. Tak ada yang dapat mencintai sehebat lelaki tua itu.

Lunch

Siang itu mentari tegak berdiri di atas ubun-ubun. Tak mempedulikan segala hiruk pikuk mahluk yang berlalu lalang dibawahnya. Tetap saja dia memancarkan sinar tergarangnya menurut kodratnya.

Aku segera menyelesaikan tugas memasakku. Sebenarnya kalo hari Minggu seperti ini, petugas masaknya random. Maksudnya siapa saja yang mau. Karena memang satu rumah kami cuma ber-enam. Sehingga lubang satu hari. Nah kami sepakatan dibikin random. Berhubung lagi ingin masak, ya sudah aku masak aja.

Masak pun kelar sudah. Jarum jam dikamarku telah mendekati angka 12.00 WK. Berarti aku harus segera bersiap-siap untuk ngambil pesanan dirumah temenku. Ya.., hari ini aku ada janji dengan temanku. Sanee namanya. Dia temen kuliyahku. Dan kami juga berasal dari daerah yang sama, Blitar. Kemaren Sanee bilang kalo pesenanku sudah ada, sekalian dia ngajak makan siang bareng. Lagi ada rizki nomplok kali dia. Atau baru dapat kiriman. Ah bodo amat, yang jelas aku bisa dapat pesenanku tersebut, juga ketemu Sanee. He..he..he..!

Aku langsung mandi dan mempersiapkan diri. Sudah jam 12.10, aku bersegera ke halte bus. Karena jarak flatku dan tempat tinggal Sanee lumayan jauh. Kira-kira 45-an menit perjalanan. Belom lagi nanti kalo terjebak dalam kemacetan. Biasa, kota besar jam-jam segini-kan sering kali macet. Sesekali aku melihat jam dipergelangan tanganku, berharap laju bus semakin cepat agar aku tidak terlambat lagi. Seperti waktu janjian kami yang pertama dulu.

Deru mesin bus tahun 1980-an yang memekakkan telinga, panas mentari yang makin sangar, bau badan dan keringat begitu kental dan bercampur aduk dalam bus yang aku naiki. Dalam siang yang seolah ingin melumat segala apa yang ada didalamnya. Segera kusumpal telingaku dengan MP3 yang selalu menemaniku kemanapun aku jalan. Biar sedikit ada hiburan saja, dari pada mendengarkan deru bus dan ocehan orang-orang Mesir yang kadang marah-marah ga jelas maksudnya. Malah bikin otak jadi ilfill.

Tittit..titit..!! Ah ada SMS masuk ternyata, dari Sanee. Dia menanyakan keberadaanku sekarang sudah dimana
"Halo Sanee...!"
"Iya mas...!" Sanee memang memanggilku mas, karena aku memang lebih tua dari dia, setidaknya ditingkat kuliyah. Namun kami beda fakultas.
"Sanee dimana sekarang?"
"Sanee sedang jalan keluar..., Mas Fuad dimana sekarang?"
"Aku sudah di Manseyya...!"
"Mana itu..?"
"Itu yang daerah yang banyak kuburannya!" Sambil aku sedikit mengangkat suaraku karena deru mesin yang nyaring.
"Oo..berarti sudah deket dong, 10 menit-an lagi ya?"
"Iya..., ya sudah ya, yuk Assalaamu alaikum!"
"Ok mas..., Wa'alaikumussalaam..!"

Begitu sampai ditempat kami janjian aku mencari Sanee. Kemana ya..., gumamku dalam hati, kok ga ada? Sembari mataku celingukan mencari Sanee. Sejenak kemudian, nah itu dia.
"Sehat San...?" Sebuah basa basi yang biasa aku lakukan bila bertemu dengan teman-temanku.
"Alhamdulillah sehat mas..., Mas Fuad sendiri..?"
"Ya seperti yang kamu lihat lah."
"Oh iya mas..., ini barang pesenan Mas Fuad kemaren" Sembari dia mengulurkan bungkusan plastik hitam. Aku segera mengambilnya dan memasukkan kedalam tas yang telah aku persiapkan sejak berangkat tadi.
"Trus kita mo kemana lagi nih?" Tanyaku membuka percakapan.
"Kesitu lho mas..., kayaknya disitu ada Rumah Makan Thailand dech." Sambil jarinya menunjuk kearah depan.
Kami melangkahkan kaki menuju arah yang Sanee tunjuk. Namun ternyata Rumah Makan Thailand yang Sanee maksud itu masih tertutup rapat."Sanee.., gimana kalo kita Sholat Dhuhur aja dulu, sepertinya sudah adzan deh." Aku mencoba menawarkan.
"Sanee ga punya wudhu, mas sholat aja dulu deh."
"Trus kamu mo kemana..., balik?" "Sanee tunggu disini aja deh, sambil nunggu warung ini buka."
"Ya sudah...aku sholat dulu ya!""Iya mas."

Segera aku menuju masjid di seberang jalan. Untuk mendapatkan sebuah bangunan masjid, di Mesir ini, tentunya bukanlah perkara yang susah. Apalagi dengan mayoritas penduduknya yang muslim. Aku segera masuk ke dalam masjid, karena aku masih mempunyai wudhu. Tak selang lama, dari sholat sunnahku, iqomah-pun berkumandang. Pertanda sholat berjamaah akan didirikan.Sebelum sholat dimulai, sang-imam memperingatkan para jamaahnya agar merapatkan shof dan mematikan HP. Biar kami semua khsusuk dalam beribadah.

Setelah sholat aku segera balik ketempat tadi. Aku melihat Sanee masih tetap menunggu di depan warung Thailand itu. Namun ku lihat warung itu tetap seperti waktu kutinggal untuk Sholat Dhuhur tadi. Tetap tertutup rapat.
"Balum buka juga ya San...?" Aku membuka percakapan.
"Iya nih mas, kali memang tutup karena ujian!"
Wajah Sanee kelihatan agak kesal. Lantaran setelah di tunggu sekian lama, warung itu belum buka juga. Memang bulan Mei dan Juni adalah bulan ujian bagi kami. Sehingga wajar sekali kalo banyak sekali kegiatan yang mandeg dan libur. Untuk mencari ketenangan dan konsentrasi dalam belajar. Termasuk warung Thailand tersebut. Walopun masih ada beberapa yang berjalan seperti sediakala.
"Trus gimana dong San..?"
"Gimana kalo kita ke Nile Restoran saja mas?" Sanee mencoba menawarkan alternatif lain.
"Emang Kamis ini Sanee ga ada mata ujian to..?"
"Ada sih mas..."
"Nah.., gimana kalo makan siangnya itu ditunda aja sampai habis ujian, lagian-kan ga wajib dan bisa kapan-kapan bukan? Lagian barang pesenannya kan sudah aku dapat." Aku mencoba meyakinkan Sanee.
"Gapapa ko mas, lagian Sanee juga mo jemput temen Sanee yang hari ini ada ujian sore" Jawab Sanee mencoba meyakinkan aku.
"Ya sudah kalo gitu..." Jawabku singkat.

Kami segera naik bus yang menuju District 7. Jam di tanganku menunjukkan pukul 13.30 WK. Kurang lebih 30 menit kami berada dalam deru mesin yang tak kalah bisingnya dengan bus yang aku naiki kala berangkat tadi. Memang masih banyak di Mesir ini armada bus yang sudah berumur, walopun sudah ada peremajaan armada yang telah berjalan setahunan ini.

Kami saling ngobrol. Tentang ujian, apa rencana sehabis ujian, gimana kalo ga naik dalam ujian, sehabis lulus kuliyah nanti, dan masih banyak lagi."Ya sudah lah San..., ujian saja belum selesai semua, kok malah mikir kalo ga naik, gimana sih kamu ini, kok menyerah sebelum selesai semua?"
"Yang penting kuliyah aja dulu, mengenai hal nanti sehabis kuliyah...itu perkara nanti!" Imbuhku padanya. Dia hanya diam dan menganggukkan kepala. Kelihatannya bisa memahami apa yang aku maksud.
"San...kelihatannya dah dekat ni, yuk turun!"
Begitu turun dari bus, kami segera menuju Nile Restoran. Ini adalah salah satu restoran favorit temen-temenku. Selain harganya yang masih terjangkau, rasa makanannya memang ga perlu dipertanyakan lagi. Restoran ini menyediakan menu-menu Thailand dan dimasak oleh orang asli Thailand juga. Sehingga cita rasa yang tepat dan mengundang selera menjadi nilai plus dan daya tawar dari restoran tersebut.

Kami memilih duduk di bangku dalam, karena selain panas, bangku yang luar sedikit bising serta banyak orang yang berlalu lalang. Sejenak kemudian pramusaji, yang nampaknya orang pribumi, datang sembari membawa lembaran menu makanan untuk kami.
"Mo pesen apa Sanee..?" Tanyaku pada Isna, sembari ku membolak balik lembaran menu yang aku pegang.
" Mas Fuad sendiri apa..?" Dia balas bertanya padaku.
"Aku ini aja deh...Tom Yam Campur..., sudah lama aku ga makan Tom Yam, kamu apa San?"
"Aku ini Kwee Teaw Biasa..."
"Kwee Teaw tidak ada..." Sambut pelayan itu memberitahukan pada Sanee, denga bahasa Melayu yang masih kaku.
"Kalo Kwee Teaw Goreng..?" Sanee bertanya lagi.
"Kwee Teaw tidak ada..." Pelayan itu menjawab lagi.
"Kwee Teaw-nya yang ga ada San..." Jelasku padanya.
"Ya sudah lah, aku sama aja dengan Mas Fuad, Tom Yam Campur juga.."
"Ga nyesel pesen sama.." Godaku padanya.
"Minumnya...?" Pelayan itu bertanya pada kami.
"Aku.., hhmm..., Pandan Ice satu!"
"Aku..., Nescafe O Ice!" Sanee menyebutkan minuman yang ia pesan.
"Ya amm,Wahid kaman*... bebola daging!" Sanee memberitahukan pada pelayan tersebut.
"Nasi putih..?" Pelayan tersebut mencoba bertanya lagi pada kami.
"Nasi putihnya satu saja!" Jawabku singkat.

Sembari menunggu pesanan kami datang, kami ngobrol banyak hal yang telah kami alami beberapa hari ini. Termasuk melanjutkan obrolan dibus tadi. Sejenak kemudian pesanan kami datang. Kami segera menyantap pesanan kami. Karena sedari pagi aku juga belom makan, walopun aku tadi masak, karena keburu waktu. Tak lupa obrolan pun terus kami lanjutkan. Seolah obrolan antara kami adalah bumbu tersendiri dalam makan siang kami. Makanan kami terasa lebih ringan dan lezat. Tawa dan kadang saling memperolok diantara aku dan Sanee menyelingi makan siang kami.

Jam sudah menunjukkan pukul 14.30. Sanee memberitahukan padaku, kalo ia hanya punya waktu sampai jam 15.00 saja. Karena setelah itu ia harus menjemput temennya yang hari itu ada ujian sore, dan memasak untuknya. Namanya Vitri. Karena mereka berbagi tugas. Kala Sanee ujian pagi, Vitri yang memasak untuk Sanee. Kalo Vitri ujian sore, giliran Sanee yang memasak untuknya. Karena mereka berdua satu kamar.
"Sanee dah jam 15.00 nih, yuk jalan." Ajakku padanya.
"Ntar malah si-Vitri cemberut gara-gara nyari-nyari Sanee ga ada." Imbuhku.
"Yuk mas..."

Setelah membayar, kami berjalan menuju kuliyah putri yang memang ga jauh dari tempat kami makan siang. Memang dikuliyah kami antara kuliyah putra dan putri dipisah. Sehingga kami bisa berhubungan kala kami diluar kuliyah. Baik waktu bimbel (bimbingan belajar), oragnisasi atau yang lainnya.
Sesampainya di halte bus, Sanee bilang kepadaku"Sudah mas, Mas Fuad balik saja ke H-10, dan Sanee tak cari Vitri!" Terangnya padaku.
"Kenapa ga ditelpon saja?"
"Dia ga bawa HP."
"Ya sudah-lah kalo gitu, aku balik dulu ya. Dan makasih pesenannya, juga waktu tuk makan siangnya."
"Sama-sama Mas Fuad..." Jawabnya singkat padaku.

Aku langsung berlari mengejar bus 993 yang kebetulan lewat didepanku, yang tentunya akan membawaku ke District 10, tempatku tidur dan segalanya bersama teman-temanku yang lain.

District-08/290408
*Ya amm,Wahid kaman* : Hai pak, tambah satu lagi.

Jumat, 18 April 2008

Point itu belum bisa kami pegang...

Break..k, breakk..kk!!
Cari posisi...cari posisi!!
Defend.., defend... Hands Up.., hands up!!
Kalimat itu yang beberapa hari ini sering aku ucapkan waktu team kami bertanding. Team yang terdiri atas:
Islahuddin (fw) (C), Zaenal (fw), Agam (fw), Mujahid (fw), Salman (fw), Maulana (fw), Panjul (center), Roji' (center), Afif (center), Nadzim (gd), Nasrul (gd), Faisol (gd).
Nama-nama tersebut yang mengisi line-up ASC Basket Ball dalam kejuaraan 'Minang Cup' tahun ini. Saya sendiri, tahun ini, sebagai official team. Mengingat kakiku tak mengijinkan ikut bertanding . Sekaligus memberikan kesempatan bagi wajah-wajah baru dalam Skuad ASC Basket Ball. Dimana tahun ini lumayan banyak anggota yang masuk. Sehingga ada aroma segar dan pola main yang pasti baru.
Sore ini kami telah menorehkan sejarah baru bagi Gamajatim. Semenjak berdirinya ASC, 12 Oktober 1998, belum pernah sekalipun kami menginjakkan kaki di perempat final. Dan hari ini, Rabu; 19/04/2008, kami akan menghadapi lawan yang tangguh, KPJ. Guna memperebutkan juara tiga. Sedangkan juara pertama diperebutkan anatara KPMJB (Jabar) vs KMM (Minang Sayo) juga selaku event organiser. Dimana sebelumnya kami harus mengakui ketangguhan Team KMM. Yang merupakan sarangnya skuad Timnas Indonesia di Cairo ini.
Berkat kerja keras seluruh anggota team. Mulai dari pemain, pengurus ASC, official dan suporter, kami bisa beraksi sore ini. Dimana dalam fase grup kami bisa menjadi 'kuda hitam'. Dan menduduki klasmen kedua. Dimana kami bisa mengkandaskan KMNTB, SIC dan KEMASS. Kami hanya kalah dari pemuncak group, KPMJB.
Yang paling menjadi laga emosional bagiku adalah waktu kami bisa menang atas SIC (SekolahIndonesia Cairo). Mengingat, setiap kami bertemu dengannya, dalam berbagai event, belum pernah sekalipun kami memetik poin. Kami hanya menang setengah bola, dengan point akhir 26 - 27, untuk ASC. Pada waktu itu, temen-temen kuarahkan agar main santai, karena psikologi SIC telah jatuh. Terbukti, saat kami ketinggalan 3 bola, kami bisa mengejarnya. Dan kami bisa mematikan semua lini serangannya. Bahkan kami bisa unggul sampai 3 bola. Namun karena kami kehilangan sedikit konsentrasi, dan main yang terlalu hati-hati, sehingga mereka hampir bisa mengejar balik. Untung kami masih bisa menjaga tempo permainan. Sehingga poin penuh pun dapat kami bawa pulang. Dan itu yang paling membagiakan aku. That's so emotional!!
Kembali kepermainan antara ASC vs KPJ. Permainan begitu alot, saling cetak poin. Sungguh seru pada permulaan babak. Pada sore ini aku menerapkan strategi yang berbeda. Aku memasukkan para pemain yang sering di-bench. Maksudku untuk sejenak bisa mempelajarai gaya permainan KPJ. Ini terbukti! Laga berjalan 10 menit, aku minta time-out pada wasit. Aku memasukkan Afif, dan Roji'. Afif mengganti Nasrul dan Roji' mengganti Faisol. Mengingat Roji' mempunyai daya lompat yang tinggi plus mempunyai kecepatan. Mengingat KPJ menggunakan taktik fast-break. Sehingga aku membutuhkan orang untuk meredamnya. Dan Roji'lah yang kuanggap mampu.
Prriii..ttt, pprrii..iitt, pprrii..iitt!!
Babak pertama telah berakhir, untuk keunggulan KPJ. Namun kami hanya terpaut 3 bola, sehingga kami yakin bisa mengejarnya. Dalam segi materi, kami tak kalah jauh, namun segi pengalaman dan pasing yang kami sedikit ketinggalan. Para pemain kuinstruksikan untuk main santai, tapi ganas di bawah ring. Terutama Panjul dan Afif yang memiliki tinggi badan plus.
Pertandingan tinggal 5 menit lagi. Namun papan sekor lebih memihak pada KPJ. Penyelesaian yang kurang akurat, passing, juga seringnya kami kena stiling yang mengakibatkan kami tertinggal dari lawan. Termasuk saat kami dapat fast-break, dengan guard yang hanya satu. Harusnya kami bisa mencetak point, namun itu urung kami lakukan. Juga seringnya kami gagal dalam memanfaatkan bola-bola rebound.
Prrii..ttt, pprrriii..iittt, pprrii..iitt!!
Pertandingan telah berakhir. Skor terakhir ASC 31 - 40 KPJ. Kami kalah empat setengah bola. Bukanlah kekalahan yang fantastis, dan bisa kami kejar. Namun sore ini nampaknya kami memang harus mengakui ketangguhan KPJ. Dan menerima dengan legowo, bahwa kami harus banyak belajar dan praktek dengan berbagai strategi guna meredam strategi lawan.
Apapun yang terjadi, kami semua telah menorehkan sebuah raihan sejarah baru bagi ASC Gamajatim. Dalam belantika Bola Basket masisir. Dimana event tahunan selalu digelar untuk penyaluran bakat dan sportifitas.
Thank's guys, for your fight, and standing applause for you....!!
Let's do it again next time. With a new spirit, wish, and strategy.

Sabtu, 05 April 2008

kakiku

Sore ini cairo begitu bersahabat. Panas mentari tidak menyengat. Tiupan angin bikin kelopak mata serasa ingin terkatup. silir..rr!!

"Aku ingin foto..."
"Untuk paspor ya?"
"Iya!"
Jrek..kk!! Dengan cekatan tukang foto membidikkan lensa kameranya, sebagaimana biasanya.
"Kapan mbak aku bisa ambil?" Sambil kuulurkan selembar 10.00 LE padanya.
"Besok sore mas, jam lima sore!" Jawabnya sembari memberikan selembar faturoh padaku.

Rencanaku sekarang tinggal ke Hadar el-Tuny, Yosef el-Abbas. Aku mau mbenerin kakiku yang sudah lama terasa ga enak buat aktifitas. Terlebih untuk basket, padahal itu olah raga kegemaranku.
"Pak kiri..!!" Teriakku pada kumsary angkot.

Sembari kususuri trotoar jalan, kutelpon Muslihan. Dia adalah temenku yang sering menolong aku.
"Mus...dimana rumahnya, aku sudah sampe Hadar el-Tuny?"
"Kamu dimana sekrang?"
"Aku lagi jalan dari masjid al-Fath kepertigaan Smile. Ya udah aku tungu di sebelah penjual bunga ya..!"
"Ya sudah.., aku langsung kesana!"
Kututup telponku dan kuletakkan pantatku di halte KRL.

Sejenak kemudian, kudengar suara yang memanggil-manggil suaraku. Aku tolah-toleh mencarinya, ternyata suara Muslihan dari arah belakangku. Aku diajak menyusuri gang-gang kecil diantara banguna-bangunan '80-an. Tak lupa aku membeli camilan untuk dirumah nanti.

"Yuk masuk Ad..."
"Hhm..ini to rumahnya, lumayan juga" Gumamku.
"Ntar ya, aku mo Sholat Asyar dulu.."
"Ya.., eh Mi' gimana kabarnya?" Kusapa Fahmi yang sedari tadi asik melototi streaming Naruto di PC-nya.

Kulihat Muslihan telah selesai sholat.
"Gimana Mus, sekarang..?"
"Ya ayo...!"
Segera kupersiapkan diriku, aku pakai sarung hijau yang nglumbruk di kursi.
"Apa yang kamu rasakan..?"
Kuterangkan padanya hal-ihwal kakiku. Termasuk rasa sakit dipinggangku yang kudapat kemaren waktu di NU GAMES. Kurasakan Muslihan mengoleskan minyak urut di kakiku. Menekan, memijat, mengurutkan setiap urat dikakiku. Sering kali kumenahan nafas dan suaraku karena rasa sakit akibat dipijat.
"Aduh..aduh, sakit Mus"
"Ya namanya juga mertombo...namanya jamu itu ya pahit!" Jawab Muslihan yag sok-berfilsafat.
"Sudah....coba kamu buat jalan biasa. Apa yang kamu rasakan?"
"Ga ada apa-apa kalo gini, aku ngerasa sakit itu kalo habis duduk lama, kakiku kulipat lalu kalo berdiri aku pasti pincang." Terangku padanya.
"Ya udah, isyaalloh aku ntar senin ke rumahmu, ntar kulihat lagi."

Alloo..hu akbar, alloo..hu akbar!! Adzan isya' telah berkumandang. Kami semua jalan bareng ke Masjid sebelah untuk menunaikan sholat isya'. Jam telah menunjukkan jam 20.30. seusai sholat isya' aku langsung pulang.

Selasa, 01 April 2008

Emosiku

Seringkali aku merasa bisa mendapatkan apa yang aku mau, yang telah aku rencanakan. Namun lagi-lagi kuhanya seorang manusia biasa yang tak urung hanya 'wayang' dari Sang-Dalang dalam sebuah pentas dunia. Meskipun aku berusaha se-perfect mungkin, dalam pentas ini, namun toh tetaplah Sang-Dalang yang akan melakukan finishing.

Seminggu ini ku diributkna oleh otak dan perasaanku sendiri. Entah perasaan ini datangnya dari mana, namun kurasa nyata dan ada hal lain. Walopun kucoba untuk menangkis segalanya itu, dan kuanggap hanay sebuah lamunanku, nmaun ternyata segala perasaanku itu benar.

Semalam, selesai main basket, aku jalan-jalan ke Sarag Mall untuk cari RAM SDR 512 mb. Biar PC ku ga lemot-lemot banget. Aku langsung menuju lantai 3. Karena kuyakin, ga bakalan ada SDR di lantai dasar. Keluar masuk toko aku mencarinya. Namun selalu saja ada yang ga cocok, mulai dari harganya, barangya.

Sejenak kemudian ada SMS, ternyata dari Sani. Dia yang seminggu ini bergelayut di benakku, entah karena apa akupun juga ga tahu? Pertama kubalas pakai PCM saja. Namun sejurus kemudian kuberanikan diri menlpon dia. Karena akhir-akhir ini, setiap kutelpon dia enggan mengangkat. Namun maalm ini nampaknya berpihak padaku, telponku ternyata diangkat.
"Halo...?"
"Ya halo..?"
"Gimana kabarnya San.., kok setiap kutepon gha pernah di angkat?"
"Alhamdulilah baik saja.."
"Kamu sakit ya, kok suaranya lemes banget?"
"Enggak kok mas, namun entah kenapa maes aja..."
Suaranya datar menanggapi semkua pertanyaanku.

Lama kami ngobrol ditelpon. Aku bertanya padanya ada apa sebenarnya, namun agaknya di memang sedang 'not on top perform'.
"Ya udah, istirahat dan insyaalloh besok kutelpon lagi ya..?"
"Makasih ya mas..."

Akhirnya aku segera pulang, karena RAM telah kudapat. Dan kini PC ku lumyan, ga lemot-lemot amat.