Pukul 09.00 aku mulai bersiap diri untuk pergi ke taman kota. Sebuah tempat yang menjadi salah satu favorit teman-teman untuk refreshing. Letaknay di tengah kota, namun arealnya yang luas, sehingga bisa duduk dimanapun kita suka. Ya, hari ini aku ada janji dengan Sanee untuk ketemuan disana. Semalam, sepulang dari bandara mengantar temannya, kami sepakat untuk jalan-jalan refreshing di Hadiqoh Dawleyya.
Pukul 10.58 aku sampai di depan pintu gerbang taman, lengkap dengan dua buah tiket, minuman dan camilan untuk teman ngobrol. Kok Sanee belum kelihatan ya, batinku. Lalu kutelpon dia, namun tak diangkat juga. Kring..kring..!! HP-ku berbunyi, oh dari Sanee.
"Iya hallo, Sanee dimana?" Tanyaku.
"Aku didepan pintu gerbang." Jawabnya.
"Lho aku juga didepan pintu gerbang." Sembari menerima telpon Sanee, aku berusaha mencari-cari Sanee. Lalu tanpa sengaja melalui jendela loket aku melihat Sanee. Ternyata dia digerbang masuk satu, sedangkan aku didepan gerbang masuk dua. Pantesan kita ga ketemu. Nampaknya dia masih belum bisa melihatku. Aku sengaja membiarkan sampai dia bisa melihatku juga. Setelah Sanee bisa melihatku, kami sama-sama menutup HP kami.
"Udah lama?" Sembari kuberjalan kearahnya.
"Barusan juga, saat mas telpon tadi saya lagi jalan kesini." jelasnya.
"Ooo...ya sudah masuk yuk!" Waktu masuk, kami saling bertukar tentengan. Camilan yang kubeli dibawa Sanee, sedangkan camilannya aku bawa.
"Nyari tempat dimana San...masih basah semua nih?"
"Nyari tempat dimana San...masih basah semua nih?"
"Mana aja mas." Jawabnya singkat.
"Yuk coba kesana aja." Ajakku.
Aku ajak Sanee duduk disebuah kursi kosong. Aku baru sadar aklo itu ternyata kursi cafe. Karena kami duduk di kursi cafe, maka petugas cafe-pun datang dan menawari kami minuman ato sejenisnya. Namun karena kami telah bawa camilan dan minuman sendiri, maka kami lebih memilih duduk ditempat yang lain. Namun demikian kami masih terus di tawarin minuman, ice cream dan macama-macam. Namun kami tetep menolaknya, abis ntar siapa dong yang ngabisin bekalnya? Gerutuku.
Kamipun saling ngobrol. Entah siapa yang mulai tadi. Obrolan kamipun bermacam-macam. Mulai dari masalah ujian, liburan, kejadian semalam di bandara, haji, juga hal-hal yang menyangkut keluarga kami berdua.
Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk mengatakan maksudku yang sebenarnya. Mengapa aku ajak jalan dia hari ini. Ini semua tak lepas dari dorongan, support dari kakakku yang terus menyemangati aku untuk mencoba mengatakan apa yang sedang kurasakan. Karena hanya itu jalan satu-satunya. Kalo tidak aku bakal terus gelisah dan 'hanya' memendam rasa itu seorang diri. Tanpa orang lain tahu apa yang aku rasakan."Sanee, sebenarnya maksudku ngajak jalan kamu hari ini, aku hanya ingin mengatakan satu hal padamu." Kulihat dia termangu sembari menunggu apa yang akan kukatakan lagi.
"Sebenarnya ini ingin kukatakan sejak awal, namun karena kesibukan dan waktu yang tak memungkinkan aku tuk mengatakan pada waktu itu, sampai saat ini."
"Maksud mas...?" Sahut Sanee.
"Aku sayang Sani sudah lama, namun sayangku kini 'lebih' dari sayangku yang dulu. Aku hanya ingin jujur pada diri sendiri juga pada Sanee, bahwa aku sayang dan cinta kamu."
Nampak raut wajah Sanee sedikit ada perubahan. Entah apa yang ia rasakan. Namun aku yakin ia sedang gundah juga, sebagaimana aku kini. Bedanya, ia gundah dalam 'menjawab' sedangkan aku gundah menati 'jawaban'.
"Apa bener apa yang mas katakan ini?" Sanee mencoba meyakinkan dirinya terhadapku.
"Aku ga tahu, namun aku hanya mengatakan sesuatu hal yang sedang aku rasakan kini."
"Aku mau mas jadikan yang keberapa?" Tanyanya padaku.
"Pertama dan terakhir!"
"Masak..., mas dulu kan pernah cerita bahwa ada si-A dan si-B dalam diri mas."
"Itu masa laluku San.., dan aku telah melupakannya. Walopun hubunganku dengannya masih, namun itu semua hanyalah sebuah hubungan seorang teman lama, ga lebih!" Tegasku padanya.
"Mas kan belum tahu banyak mengenai aku, keluargaku. Bahkan umurkupun mas belum tahu. Mestinya kalo mas sayang aku, mas cari tahu dong.."
"Bukannya aku ga mau cari tahu, namun setiap aku tanya, kamunya selalu ga mau jawab."
"Ya cari dari orang lain kek." Jawabnya enteng.
"Aku sudah mencoba cari data dikekeluargaan, bahkan di almamater kita. Namun itu semuanya nihil. Yah..mau gimana lagi?"
"Gini lho mas.., aku dulu pernah merasakan apa yang mas rasakan sekarang, namun itu semua segera kutepis jauh-jauh. Karena aku takut itu hanya 'tepukan sebelah tangan' dan hanya perasaan Sanee saja. Sengaja Sanee biarkan semuanya berlalu. Sanee biarkan.., Sanee tungu sampai mas mengatakannya sendiri. Dan hanya satu yang Sanee minta, kalopun mas bener-bener sayang dan cinta Sanee, kuharap ini bukan cinta lokasi ato cinta semusim, juga bukan main-mian. Sanee ga ingin dibohongi, dan biarkan semuanya mengalir apa adanya. Karena kalo memang kita jodoh takkan kemana."
"Yah...aku pun demikian, kalopun kita berjodoh takkan lari kemana. San.., yang jelas hari ini aku telah mengatakan apa yang aku rasakan, aku jujur pada diriku sendiri. Mengenai jawaban Sanee, aku ga mengharuskan hari ini dan itu hak Sanee. Aku ga bisa maksa Sanee." Sambungku.
"Dan mas..., apa mas tahu berapa umur Sanee? Aku lebih tua dari mas beberapa bulan."
"Apa itu penting dan mengganggu?" Tanyaku pada Sanee.
"Ya enggak sih."
"Ya sudah.., yang penting kan kita jalani aja dulu." Seringkali kami saling terdiam, temangu oleh keadaan. Seakan kami kehabisan kata-kata, saling tunggu dan membisu. Padahal hal demikian tak pernah terjadi sebelum-sebelumnya. Namun, ahh!!
"Lho kok diam..." Kata kami hampir bersamaan, sehingga kami malah saling tertawa. Tawa yang renyah. Namun, seringkali juga aku tercekat dalam pembicaraan itu. Kuteguk air aqua yang telah kubeli tadi.
Tak terasa Adzan Dhuhur telah berkumandang. Panas mentari makin menjadi.
"Mas yuk pulang aja yuk!"
"Lho katanya mo kerumahku sambil meng-copy film, jadi ga?"
"Ga mau ah, banyak cowok pasti."
"Ya sudah lah, kapan-kapan aja ya, Sanee ga kuat panas."
"Terserah Sanee."
Kami berjalan keluar taman, sembari terus melanjutkan obrolan kami tadi.
"Agaknya ku potong rambut tahun ini deh San..." Aku mmemecah keheningan sembari jalan.
"Lho kok ngomong rambut sih, tahu ga aku tadi juga lagi mikir dan mo tanya, kapan mas mo potong rambut?" Semoga tahun ini aku bisa potong rambut. Amin!
Kami terus berjalan kearah Bank terdekat, karena Sanee mo ambil uang dulu. Saat menyebrang jalan itulah aku berusaha menggandeng pergelangan tangan Sanee. Sebagaimana semalam sehabis ngembalikan mobil kerental. Tau sendiri kan, kalo orang Mesir itu cara mengemudikan mobilnya gila-gilaan. Setelah ambil uang, kami minum asyir mangga untuk penyegar dahaga.
Saat mo ku antar balik, Sanee menolakku dengan halus, dan akupun ga bisa memaksanya. Setelah hilang dari pandanganku, akupun putar haluan tuk pulang. Kebetulana da KRL lewat. Telah lama aku tak naik KRL. Enak juga rasanya!
"i din't say, you are beautiful
but i said, you are beloved
i din't say, you are perfect
but i say, we'll adjust each other
i din't say, you are wicked
but i say, you was pilfered my nerve"
0(^_^)0



Tidak ada komentar:
Posting Komentar