Selasa, 29 April 2008

Lunch

Siang itu mentari tegak berdiri di atas ubun-ubun. Tak mempedulikan segala hiruk pikuk mahluk yang berlalu lalang dibawahnya. Tetap saja dia memancarkan sinar tergarangnya menurut kodratnya.

Aku segera menyelesaikan tugas memasakku. Sebenarnya kalo hari Minggu seperti ini, petugas masaknya random. Maksudnya siapa saja yang mau. Karena memang satu rumah kami cuma ber-enam. Sehingga lubang satu hari. Nah kami sepakatan dibikin random. Berhubung lagi ingin masak, ya sudah aku masak aja.

Masak pun kelar sudah. Jarum jam dikamarku telah mendekati angka 12.00 WK. Berarti aku harus segera bersiap-siap untuk ngambil pesanan dirumah temenku. Ya.., hari ini aku ada janji dengan temanku. Sanee namanya. Dia temen kuliyahku. Dan kami juga berasal dari daerah yang sama, Blitar. Kemaren Sanee bilang kalo pesenanku sudah ada, sekalian dia ngajak makan siang bareng. Lagi ada rizki nomplok kali dia. Atau baru dapat kiriman. Ah bodo amat, yang jelas aku bisa dapat pesenanku tersebut, juga ketemu Sanee. He..he..he..!

Aku langsung mandi dan mempersiapkan diri. Sudah jam 12.10, aku bersegera ke halte bus. Karena jarak flatku dan tempat tinggal Sanee lumayan jauh. Kira-kira 45-an menit perjalanan. Belom lagi nanti kalo terjebak dalam kemacetan. Biasa, kota besar jam-jam segini-kan sering kali macet. Sesekali aku melihat jam dipergelangan tanganku, berharap laju bus semakin cepat agar aku tidak terlambat lagi. Seperti waktu janjian kami yang pertama dulu.

Deru mesin bus tahun 1980-an yang memekakkan telinga, panas mentari yang makin sangar, bau badan dan keringat begitu kental dan bercampur aduk dalam bus yang aku naiki. Dalam siang yang seolah ingin melumat segala apa yang ada didalamnya. Segera kusumpal telingaku dengan MP3 yang selalu menemaniku kemanapun aku jalan. Biar sedikit ada hiburan saja, dari pada mendengarkan deru bus dan ocehan orang-orang Mesir yang kadang marah-marah ga jelas maksudnya. Malah bikin otak jadi ilfill.

Tittit..titit..!! Ah ada SMS masuk ternyata, dari Sanee. Dia menanyakan keberadaanku sekarang sudah dimana
"Halo Sanee...!"
"Iya mas...!" Sanee memang memanggilku mas, karena aku memang lebih tua dari dia, setidaknya ditingkat kuliyah. Namun kami beda fakultas.
"Sanee dimana sekarang?"
"Sanee sedang jalan keluar..., Mas Fuad dimana sekarang?"
"Aku sudah di Manseyya...!"
"Mana itu..?"
"Itu yang daerah yang banyak kuburannya!" Sambil aku sedikit mengangkat suaraku karena deru mesin yang nyaring.
"Oo..berarti sudah deket dong, 10 menit-an lagi ya?"
"Iya..., ya sudah ya, yuk Assalaamu alaikum!"
"Ok mas..., Wa'alaikumussalaam..!"

Begitu sampai ditempat kami janjian aku mencari Sanee. Kemana ya..., gumamku dalam hati, kok ga ada? Sembari mataku celingukan mencari Sanee. Sejenak kemudian, nah itu dia.
"Sehat San...?" Sebuah basa basi yang biasa aku lakukan bila bertemu dengan teman-temanku.
"Alhamdulillah sehat mas..., Mas Fuad sendiri..?"
"Ya seperti yang kamu lihat lah."
"Oh iya mas..., ini barang pesenan Mas Fuad kemaren" Sembari dia mengulurkan bungkusan plastik hitam. Aku segera mengambilnya dan memasukkan kedalam tas yang telah aku persiapkan sejak berangkat tadi.
"Trus kita mo kemana lagi nih?" Tanyaku membuka percakapan.
"Kesitu lho mas..., kayaknya disitu ada Rumah Makan Thailand dech." Sambil jarinya menunjuk kearah depan.
Kami melangkahkan kaki menuju arah yang Sanee tunjuk. Namun ternyata Rumah Makan Thailand yang Sanee maksud itu masih tertutup rapat."Sanee.., gimana kalo kita Sholat Dhuhur aja dulu, sepertinya sudah adzan deh." Aku mencoba menawarkan.
"Sanee ga punya wudhu, mas sholat aja dulu deh."
"Trus kamu mo kemana..., balik?" "Sanee tunggu disini aja deh, sambil nunggu warung ini buka."
"Ya sudah...aku sholat dulu ya!""Iya mas."

Segera aku menuju masjid di seberang jalan. Untuk mendapatkan sebuah bangunan masjid, di Mesir ini, tentunya bukanlah perkara yang susah. Apalagi dengan mayoritas penduduknya yang muslim. Aku segera masuk ke dalam masjid, karena aku masih mempunyai wudhu. Tak selang lama, dari sholat sunnahku, iqomah-pun berkumandang. Pertanda sholat berjamaah akan didirikan.Sebelum sholat dimulai, sang-imam memperingatkan para jamaahnya agar merapatkan shof dan mematikan HP. Biar kami semua khsusuk dalam beribadah.

Setelah sholat aku segera balik ketempat tadi. Aku melihat Sanee masih tetap menunggu di depan warung Thailand itu. Namun ku lihat warung itu tetap seperti waktu kutinggal untuk Sholat Dhuhur tadi. Tetap tertutup rapat.
"Balum buka juga ya San...?" Aku membuka percakapan.
"Iya nih mas, kali memang tutup karena ujian!"
Wajah Sanee kelihatan agak kesal. Lantaran setelah di tunggu sekian lama, warung itu belum buka juga. Memang bulan Mei dan Juni adalah bulan ujian bagi kami. Sehingga wajar sekali kalo banyak sekali kegiatan yang mandeg dan libur. Untuk mencari ketenangan dan konsentrasi dalam belajar. Termasuk warung Thailand tersebut. Walopun masih ada beberapa yang berjalan seperti sediakala.
"Trus gimana dong San..?"
"Gimana kalo kita ke Nile Restoran saja mas?" Sanee mencoba menawarkan alternatif lain.
"Emang Kamis ini Sanee ga ada mata ujian to..?"
"Ada sih mas..."
"Nah.., gimana kalo makan siangnya itu ditunda aja sampai habis ujian, lagian-kan ga wajib dan bisa kapan-kapan bukan? Lagian barang pesenannya kan sudah aku dapat." Aku mencoba meyakinkan Sanee.
"Gapapa ko mas, lagian Sanee juga mo jemput temen Sanee yang hari ini ada ujian sore" Jawab Sanee mencoba meyakinkan aku.
"Ya sudah kalo gitu..." Jawabku singkat.

Kami segera naik bus yang menuju District 7. Jam di tanganku menunjukkan pukul 13.30 WK. Kurang lebih 30 menit kami berada dalam deru mesin yang tak kalah bisingnya dengan bus yang aku naiki kala berangkat tadi. Memang masih banyak di Mesir ini armada bus yang sudah berumur, walopun sudah ada peremajaan armada yang telah berjalan setahunan ini.

Kami saling ngobrol. Tentang ujian, apa rencana sehabis ujian, gimana kalo ga naik dalam ujian, sehabis lulus kuliyah nanti, dan masih banyak lagi."Ya sudah lah San..., ujian saja belum selesai semua, kok malah mikir kalo ga naik, gimana sih kamu ini, kok menyerah sebelum selesai semua?"
"Yang penting kuliyah aja dulu, mengenai hal nanti sehabis kuliyah...itu perkara nanti!" Imbuhku padanya. Dia hanya diam dan menganggukkan kepala. Kelihatannya bisa memahami apa yang aku maksud.
"San...kelihatannya dah dekat ni, yuk turun!"
Begitu turun dari bus, kami segera menuju Nile Restoran. Ini adalah salah satu restoran favorit temen-temenku. Selain harganya yang masih terjangkau, rasa makanannya memang ga perlu dipertanyakan lagi. Restoran ini menyediakan menu-menu Thailand dan dimasak oleh orang asli Thailand juga. Sehingga cita rasa yang tepat dan mengundang selera menjadi nilai plus dan daya tawar dari restoran tersebut.

Kami memilih duduk di bangku dalam, karena selain panas, bangku yang luar sedikit bising serta banyak orang yang berlalu lalang. Sejenak kemudian pramusaji, yang nampaknya orang pribumi, datang sembari membawa lembaran menu makanan untuk kami.
"Mo pesen apa Sanee..?" Tanyaku pada Isna, sembari ku membolak balik lembaran menu yang aku pegang.
" Mas Fuad sendiri apa..?" Dia balas bertanya padaku.
"Aku ini aja deh...Tom Yam Campur..., sudah lama aku ga makan Tom Yam, kamu apa San?"
"Aku ini Kwee Teaw Biasa..."
"Kwee Teaw tidak ada..." Sambut pelayan itu memberitahukan pada Sanee, denga bahasa Melayu yang masih kaku.
"Kalo Kwee Teaw Goreng..?" Sanee bertanya lagi.
"Kwee Teaw tidak ada..." Pelayan itu menjawab lagi.
"Kwee Teaw-nya yang ga ada San..." Jelasku padanya.
"Ya sudah lah, aku sama aja dengan Mas Fuad, Tom Yam Campur juga.."
"Ga nyesel pesen sama.." Godaku padanya.
"Minumnya...?" Pelayan itu bertanya pada kami.
"Aku.., hhmm..., Pandan Ice satu!"
"Aku..., Nescafe O Ice!" Sanee menyebutkan minuman yang ia pesan.
"Ya amm,Wahid kaman*... bebola daging!" Sanee memberitahukan pada pelayan tersebut.
"Nasi putih..?" Pelayan tersebut mencoba bertanya lagi pada kami.
"Nasi putihnya satu saja!" Jawabku singkat.

Sembari menunggu pesanan kami datang, kami ngobrol banyak hal yang telah kami alami beberapa hari ini. Termasuk melanjutkan obrolan dibus tadi. Sejenak kemudian pesanan kami datang. Kami segera menyantap pesanan kami. Karena sedari pagi aku juga belom makan, walopun aku tadi masak, karena keburu waktu. Tak lupa obrolan pun terus kami lanjutkan. Seolah obrolan antara kami adalah bumbu tersendiri dalam makan siang kami. Makanan kami terasa lebih ringan dan lezat. Tawa dan kadang saling memperolok diantara aku dan Sanee menyelingi makan siang kami.

Jam sudah menunjukkan pukul 14.30. Sanee memberitahukan padaku, kalo ia hanya punya waktu sampai jam 15.00 saja. Karena setelah itu ia harus menjemput temennya yang hari itu ada ujian sore, dan memasak untuknya. Namanya Vitri. Karena mereka berbagi tugas. Kala Sanee ujian pagi, Vitri yang memasak untuk Sanee. Kalo Vitri ujian sore, giliran Sanee yang memasak untuknya. Karena mereka berdua satu kamar.
"Sanee dah jam 15.00 nih, yuk jalan." Ajakku padanya.
"Ntar malah si-Vitri cemberut gara-gara nyari-nyari Sanee ga ada." Imbuhku.
"Yuk mas..."

Setelah membayar, kami berjalan menuju kuliyah putri yang memang ga jauh dari tempat kami makan siang. Memang dikuliyah kami antara kuliyah putra dan putri dipisah. Sehingga kami bisa berhubungan kala kami diluar kuliyah. Baik waktu bimbel (bimbingan belajar), oragnisasi atau yang lainnya.
Sesampainya di halte bus, Sanee bilang kepadaku"Sudah mas, Mas Fuad balik saja ke H-10, dan Sanee tak cari Vitri!" Terangnya padaku.
"Kenapa ga ditelpon saja?"
"Dia ga bawa HP."
"Ya sudah-lah kalo gitu, aku balik dulu ya. Dan makasih pesenannya, juga waktu tuk makan siangnya."
"Sama-sama Mas Fuad..." Jawabnya singkat padaku.

Aku langsung berlari mengejar bus 993 yang kebetulan lewat didepanku, yang tentunya akan membawaku ke District 10, tempatku tidur dan segalanya bersama teman-temanku yang lain.

District-08/290408
*Ya amm,Wahid kaman* : Hai pak, tambah satu lagi.

Tidak ada komentar: