Selasa, 29 Juli 2008

San Stefano I

Pagi-pagi sekali aku dan konco-koncoku pergi kepantai. Aku mo mandi sekalian menjemput temen-temen yang semalam berangkat dair Cairo. Lewat pasar Ashafra dan menyeberangi rel kereta api, itu jalan yang hraus kutempuh kalo ingin kedaerah Bahriy. Oh ya, untuk asramaku masuk didaerah Ibly.

Semburat mega diterjang matahari pagi. Kuning berpaduan dengan langit biru. Hembusan angin pantai pagi yang meraba kulit. Lekukan garis pantai, dengan barisan gedung yang siap menerima sapaan angin laut setiap saat. Jerit dan tawa bahagia telah berbaur dengan deburan ombak pagi. Satu persatu temen-temenku menceburkan dirinya kelaut. Sementara kutahan diriku untuk berennang. Aku masih asik mengamati laut, langit, orang-orang yang berenang dan suasana pagi yang elok.

Keingin akan sentuhan air telah begitu kuat dalam dadaku. Kemudian kulepas pakaianku, kuganti dengan pakaian renangku. Dan byuurrr..rr!!! Hhaaahh..hhh, rasa segar dan sejuk begitu mengelus semua pori-poriku. Ternyata memang enak juga mandi dipantai dipagi hari. Pantas, sudah banyak penduduk yang mandi kala kudatang tadi.

Pukul delapan, kami semua pulang ke asrama. Sudah waktunya sarapan. Sementar aku dan Ali beli ta'meyya dan sawabe' untuk 'teman' kala sarapan nanti. Sempat, saat masuk asrama, kami semua ditanya penjaganya. Kami jawab kami dari pantai. "Ya sudah, makan sana sudah waktunya futur. Kulihat temen-temen sudah pada tabur. Menu sarpan pagi ini;
- full - lamun satu butir
- 2 eisy - jubna satu potong
- halaweyyat
Namun kutadi telah beli ta'meyya, jadi santai aja. Oh ya, kalo sarapan pagi, kami ada secangkir teh anget, manis dan pekat bagi yang menginginkan. Uuhh enaa...kkk banget!! Sarapanku kali ini barneg dengan para mas'ul. Bahkan pada waktu aku mengambil jatah sarapanku tadi, qoid muaskar bilang, kalo kalian makannya molor maka kamipun juga molor. Demikian terangnya pada kami yang agak telat dari jadwal. Memang, waktu makan mas'ul dan pengasuh asalah setelah semua peserta muaskar mendapat jatah makan. Kalo ada yang belum mendapat jatah, maka mereka belum mulai makan. Betul-betul sebuah hal yang patut dicontoh.

Selesai sarapan aku naik kekamar, namun karena jam sudh menunjukkan pukul 09.00, maka sekarang waktunya kamar dibersihkan. Dan semuanya harus keluar dari kamar, tak terkecuali. Kami semua keluar kamar, sementara aku and the gank memilih duduk-duduk dibawah pohon di halaman depan. Menikmati semilirnya angin menjelang siang hari, sembari main kartu.

Pukul 11.30, aku dan Asep jalan ke Bibliotheca Library of Alexandria. Sebenarnya aku sudah dua kali masuk ke perpustakaan yang konon terbesar didunia ini. Namun rencanaku kali ini untuk mencari Peta Alexandria. Dengan peta itu, kelak aku akan menlusuri Alexandria. Kami ke perpustakaan naik angkota. Kami harus jalan kaki, kira-kira 1 km, karena angkota itu tidak lewat jalur biasanya, namun lewat jalur belakang. Namun bagikuitu tidak jadi masalah. Malah aku begitu menikmatinya. Jalan disepanjang trotoar yang bersih, menyusuri kuburan Kristen Koptik dengan cuaca yang bersahabat. Adalah hal yang sempurna.

Begitu peta kudapat, aku langsung membuka peta itu dimeja parpustakaan. Tak sabar aku mempelajari jalanan yang bakal kutelusuri guna mendatangi semua objek yang ada. Setelah kurasa cukup, aku pulang. Semsampai di asrama, aku segera makan siang. Sempat juga dimarahi karen alagi-lagi aku telat dari jadwal makan yang telah ditetapkan. Bahkan dalam benaku, andaia aku ga dikasihpun, aku siap dan legowo. Karena emang aku yang salah. Namun, alhamdulillah, ternyata kalo emang udah rizki kita, ga bakal lari kemana. Aku bisa makan siang sepuasku, sembari menahan senyum dengan Asep.

Sore harinya, kuterbangun dari tidurku. Kulihat teman-teman telah main-main di lapangan. Ada yang main sepak bola, basket dan bola volly. Aku jadi ingin banget main volly. Ternyata ada lomba antar kelompok muaskar. Sampai akhirnya kami, dari kelompok Muaskar Othman bisa masuk final, melawan Muaskar Omar. Untuk pemain Muaskar Othman, semuanya dari Indonesia. Sedangkan Muaskar Omar didominasi oleh para pemain dari Uzbekistan. Jadi partai final ini bisa dikatakan Indonesia VS Uzbekistan. Dan kamilah, Muaskar Othman, yang menjadi pemenang.

- ta'meyya : sejenis ba'wan
-
sawabe' : kentang goreng (stick)
- futur : sarapan
- tabur : antri
- full : kacang yang digiling
- lamun :
jeruk lemon
- jubna : keju
- halaweyyat
: sejenis manisan
- qoid muaskar : ketua muaskar


Minggu, 27 Juli 2008

Selamat Pagi Alexandria....

Cahaya dan bau laut telah menerobos jendela atas ranjangku. Silir dan segar. Hari ini adalah hari keduaku di Alexandria, dimana akan dilaksanakan pembukaan. Katanya sich, pembukaan akan dihadiri oleh Grand Syeikh Al Azhar, Wazirotul Auqof, Gubernur Alexandria beserta rombongan. Kuseruput teh yang tadi telah kubuat, sembari kuhirup kuat-kuat aroma laut yang menggugah rasa.

Pukul 09.30 kami semua disuruh turun ke aula, karena sebentar lagi acara akan dimulai. Begitu keterangan mas'ul pada kami. Setelah mempersiapkan diri, aku dan teman-teman turun kelantai dasar. Disana telah tertata rapi kursi-kursi yang berbaris, tiap deret, rapi dari depan ke belakang. Dengan sebuah meja memanjang diantara keduanya. Dan diakhir barisan, didinding menempel gambar Presiden Muhammad Husni Mubarok, dengan karismanya. Sementara didepan, sebuah meja dengan taplak warna biru, berhiaskan bunga-bunga lengkap dengan speakernya, untuk Grand Syeikh beserta rombongan. Dengan sebuah lafal Alloh, berbingkai besar, menjadi backgroundnya. Sementara disisi kiri panggung, ada sebuah kursi dengan sebuah speaker, nampaknya itu untuk qori' Al Quran.

Telah dua jam aku menunggu mereka, namun belum juga ada tanda-tanda mereka hadir. Aku lebih banyak menguap dalam masa dua jam itu. Sementara teman-teman ada yang foto-foto, bincang-bincang, bahkan ada yang tidur-an dengan tangan sebagai bantal. Pasti mereka juga merasakan jenuh, sebagaimana yang aku rasakan.

Sampai akhirnya, plokk...plokk..plokk..!! Masul memberitahukan suapaya semuanya tenang dan kembali ketempat masing-masing. Nampak mata-mata sayu dan malas, dari mereka yang tadi sempat tertidur, terjaga. Namun mereka dan aku tak ada pilihan. Sebisa mungkin mata ini tetap terbuka, menyambut rombongan. Nampaknya Grand Syeikh beserta rombongan telah hadir. Tak berapa lama kemudian, Grand Syeikh Al Azhar beserta rombongan memasuki ruangan. Nampak rombongan Grand Syeikh dari berbagai kalangan, ada yang dari masyayikh AL Azhar, insan press, pejabat pemerintahan dan lain-lain. Sementara yang duduk dimeja depan, dari sebelah kiri, Wazirotul Auqof - Hamdi Zaqzuq, wakil dari Majlis A'la (siapa sich namanya?), Grand Syeikh Al Azhar - Muhammad Sayeed Tanthowi, Gubernur Alexandria - Adel Labib. Sementara Dosen Ushuluddin sekaligus moderator acara - Dr. Zakky Awwad duduk disebelah panggung beserta rombongan. Yang didaulat sebagai qori' Al Qur'an, Husni dari Indonesia. Memang bener kata temenku, selalu orang Indonesia yang dipilih untuk qori' di sesi pembukaan. Apalagi ini yang hadir adalah 'kalangan atas'.

Bahkan pernah, pada acara Grand Opening of Al Azhar International Park, pun mereka (orang-orang mesir) meminta bantuan dari teman-teman Indonesia untuk berpartisipasi didalamnya. Acara itu disiarkan live di Channel 3 Mesir. Bahkan host acara tersebut-pun sempat ga percaya kalo suara orang Indonesia bisa sebagus itu. Mulai dari situlah, hampir setiap acara yang bertaraf internasional di Mesir, Indonesia menduduki opsi yang pertama untu fungsi ini.

Acara pembukaan sediri hanya berlangsung satu jam. Begitu acara berakhir, applause dari para peserta muaskar menggema. Banyak dari teman-teman yang mencoba untuk foto bersama mereka. Apalagi dengan Grand Syeikh Al Azhar. Namun nampaknya scurity rombongan menyadari hal itu, sehingga mereka lebih cepat bertindak untuk menghalanginya. Sementara aku sendiri lebih memilih untuk naik kekamar, punggung dan mata ini berat rasanya untuk duduk lebih lama lagi. Langsung kuhempaskan tubuhku keranjang. Ughh...enak...kk banget!

Pada malam hari ada nadwah, yang disampaikan oleh Dr. Ahmadi Nur. Acara tersebut selesai pada pukul 21.30. Sebenarnya temen-temen ngajak jalan-jalan keluar, sekedar membeli buah ato apalah. Namun aku malas banget, jadi aku hanya titip beberapa barang saja. Diantaranya bateray, karena kuyakin besok free, ga ada acara. jadi waktu itu akan kugunakan untuk jalan-jalan menyusuri jalanan Alexandria. Utamanya mencari peta Alexandria untuk memudahkanku dalam penyusuran.

Wazirotul Auqof : Kementrian Wakaf
qori' : Pembaca
nadwah : Simposium

Sabtu, 19 Juli 2008

We are coming Alexandria...!!

Perkiraanku tidak meleset, pukul 13.35 kami semua sampai di Stasiun Alexandria atau Stasiun Masr. Ciri Setaiun Alexandria sendiri mirip dengan Stasiun Ramsees. Merupakan khas bangunan tua, penuh pola artistik. Dengan atap peron yang tinggi dan besar, jam dengan jarum yang besar terpasang kokoh di tembok peron. Sehingga memudahkan bagi semua orang yang ingin mengetahui waktu. Berapa menit lagi yang dipunyai seseorang untuk bisa menepati janji bertemu dengan client-nya. Sembari kuangkat tasku yang lumayan berat, kulirik jam ditanganku, sama dengan jam ditembok stasiun tersebut.

Kulihat para mas'ul terus memberikan arahan agar semuanya segera keluar dan mengikuti pemandu jalan. Diepan telah berjalan beberapa mas'ul yang lain. Merekalah para pemandu jalan. Begitu keluar, sebuah hembusan udara panas menyeruak diantara pori-pori wajahku. Namun panas yang kurasakan amat berbeda dengan panas yagn selama ini kuraskan ditengah hiruk-pikuk kebisingan Cairo. Sebuah panas yang sedikit basah, bukannya panas kering yang kurasakan 4 jam yang lalu. Kami terus bergerak maju. Begitu kelaur dari stasiun, sebuah alun-alun, taman kota, dengan sebuah tugu yang menjulang tinggi menyambut setiap dari kami. Aku tak ingat lagi apa yag ntertulis disana, namun bangunan itu tepat di tengah taman tersebut. Sedangkan tepat didepan Stasiun Masr, terdapat bangku-bangku panjang yang kosong. Sebagian daripadanya dimanfaatkan oleh orang-orang unutk tiduran dan jualan ditengah teriknya musim panas. Namun kubayangkan, kala senja menjelang dan menghsbisakn waktu dibangku-bangku terseebut. Berbincang dan bertukar pikiran dengan orang cocok. Serta sebungkus camilan dan minuman ringan ditangan. Uughh...nikamt sekali kubayangkan itu!

Telah siap beberapa bus menanti kami. Namun nampaknya telah penuh oleh teman-teman yang keluar lebih dulu. Aku dan kelompokku lebih memilih bersabar, menunggu bus berikutnya. Kulihat , walopun bus itu telah penuh, namun ga ada yang berdiri. Nampaknya peraturan di Alexandria, tidak mempebolehkan sebuah bus pariwisata sampai over passanger. Kami berteduh dibawah pohon yang ada.

Ayo-ayo cepetan naik..!! teriak mas'ul pada kami yang memang belum kebagian bus. Namun entah karena apa, kami harus turun lagi. Memang bus yang aku naiki buaknlah bus pariwisata, namun bus umum yang dipanggil untuk membawa kami. Oh iya, sekedar tahu saja, disebrang alun-alun Alexandria adalah terminal bus kota yang bisa membawa kita kemana saja. Aku dan kelompokku masih menunggu dibawah pohon seperti tadi. Semua teman-teman kami yang lain telah berangkat lebih dulu. Hanya tinggal kami dan para mas'ul.

Sejenak kemudian, ada sebuah bus warna putih dengan kapasitas 24-an orang menepi. Ayo-ayo cepet naik...!! Demikain komando dari mereka. Setiap dari kami bergegas menuju pintu bus yang telah terbuka. Kalo kuperhatikan, bus ini lebih baik daripada bus-bus terdahulu yang dinaiki oleh teman-teman. Sebuah bus full option, AC, dengan sebuah tv 14 inchi -yang sedang memutar Shaolin Soccer- terpampang diatas kaca depan. Begitu semua orang-orang telah masuk semua, bus perlahan bergerak. belok kekanan melewati Roman Amphitheater.

Bus terus bergerak menyusuri jalanan Alexandria yang sempit. Nampak disisi kananku Alexandria Stadium. Tempat dimana Alexandria Football Club (AFC) menjamu para 'tamu'nya. Kuingat, beberapa tahun lalu Mesir menjadi tuan rumah African Cup. Dan stadion ini juga digunakan dalam event tersebut. Dan tuan rumah keluar sebagai juaranya. Setelah melewati Champolion st. bus belok kekanan. Seketika angin yang segar berhembus dengan kencang. Bau laut begitu menyengat. Seketika setiap dari kami menoleh kesisi kiri jalan.

Sebauh hamparan laut dengan riak-riak yang kecil seolah mengucapkan 'welcome to Alexandria' pada kami. Orang-orang sudah tidak mempeduliakn Shaolin Soccer lagi, padahal sudah masuk pada babak akhir film. Nampak orang-orang telah terbius oleh air laut yang tak henti-hentinya beriak serta angin yang terus menyegarkan suasana.

Bus ini terus melaju diterik mentari. Menyusuri setiap kelokan El Cournish Rd. Nampak Bibliotecha Alexandria sedang kami lewati. Kokoh menghadap kelaut, menunggu setiap salam angin yang terlontar oleh air yang ingin menjilat patung Alexander The Great di halaman Bibliotecha Alexandria. Mentari yang menyebarkan panas terus memayugn diatas kami.

Stanly Beach, dengan khas Stanly Bridge-nya, telah kami lewati. Nampak San Stefano, dengan Cafe Starbucks-nya dipojok depan merupakan daya tarik Alexandria tersendiri. Sederet cafe-cafe yang view of beach, nampak berjajar rapi. Menunggu pelanggan yang ingin menghabiskan waktu dengan suasana pantai, sembari menyeruput kopi atau yang lainnya. Sungguh suasana yang sempurna untuk sebuah liburan. Refreshing!

Nampak didepan sebuah taman yang besar, ditepi laut. Itulah El Montaza Gardens. Sebauh taman ditepi pantai, ada menara suarnya, hotel, resorts dan taman bermainnya. Dua kali aku kesana. Kala itu dengan teman-teman kekeluargaan, lalu dengan teman-teman afiliatif.

Kemudian bus belok kekanan, keluar dari laut, masuk El Za'eim Anwar El Sadat. Atau oleh masyarakat setempat lebih dikenal dengan khomsa wa arba'ein (45) st. Setelah memutar, bus berbelok kekakan, masuk jalan yang lebih kecil lagi. Bus terus menyususri jalanan yang sempit. Badan jalan ini terasa lebih sempit lagi, apalagi ditambah dengan badan bus yang memang besar. Sehingga sangat sulit untuk bersisipan dengan mobil yang lain.

Sejenak kemudian, kami masuk kesebuah pintu gerbang warna hitam. Dibalik gerbang itu terhampar sebuah halaman yang sangat lebar. Dengan sebuah kerangka tenda, nampaknya untuk acara pembukaan, yang belum sempurna. Halaman itu juga difungsikan untuk lapangan bola. Dan disisi lapanagn itu, ada dua lapangan voli dikedua sisinya dan sebuah lapangan basket disatu sisinya saja.

Diujung lapangan itu nampak sebuah bangunan, empat lantai, dengan warna putih gagah menyambut kami. Nampak teman-teman kami yang telah datang lebih dulu telah bergerombol disana. Dan disinilah kami bakal menghabiskan sepuluh hari kami di Alexandria. Semuanya diminta baris teratur sesuai dengan kelompok masing-masing. Aku termasuk dalam Muaskar Othman.

Lantai dasar merupakan ruangan yang multi fungsi. Selain sebagai aula pertemuan, juga digunakan untuk ruang makan. Sedangakn lantai satu untuk Muaskar Omar. Lantai dua untuk Muaskar Othman. Dimana aku dan teman-teman yang sekelompok denganku berada. Lantai tiga untuk Muaskar 'Aly dan lantai empat untuk Muaskar Kholid. Kami ditempatkan didalam kamar yang besar dengan kapasitas 30 ranjang. Ranjangku berada di no.04 dari pintu masuk. Ini sangat memudahkanku untuk untuk keluar masuk. Dengan sebuah jendela besar diatas kepalaku. ini sangat menguntungkanku, dimana aku tak terkena angin ato matahari senja secara langsung. Untuk Muaskar Othman dibawah pengarahan Ust. Yahya dan Ust. Yusuf.
Setelah mendapat kamar sendiri, badan ini tiba-tiba merasa letih sekali. Tiga setengah jam diperjalanan ternyata sangat menguras tenaga. Apalagi perjalanan ini dalam musim panas dibawah terik mentari. Belom lagi, tadi temen-temen ga ada yang bawa minuman dan cemilan. Haya aku yang iseng-iseng bawa sekotak anggur, dua bungkus biskuit dan sebotol kecil air mineral. Itupun masih dipakai temenku untuk kencing. Terpaksa tenggorokan ini 'puasa' sementara waktu.

Melihat ranjang yang empuk, mataku jadi 'tertegun'. Kuletakkan barangku disebuah kotak yang berfungsi sebagai almari, disebelah setiap ranjang dari kami semua. Kemudian mataku mulai melemah dan meredup. Sejurus kemudian kusudah tak tahu apa yang terjadi disekelilingku.

Sampai akhirnya kudengar teriakan instruksi dari mas'ul.
"Ayo..ayo..semuanya turun, waktunya makan siang..!!" Demikian teriakan berulang-ulang sembari tepuk tangan, sampai ditelan dikejauhan. Perlahan kuusap mataku, kulihat jam dilayar HP-ku, jam 15.45. Ternyata teman-temanku juga sudah mulai bersiap turun untuk mengambil makan siang pertama kami.

Kubasuh mukaku di kamar mandi. Oh iya, Muaskar Othman terdiri dari empat kamar besar. Kalo satu kamar berisi 30 orang, berarti Muaskar Othman beranggotakan 180 orang. Karena untuk dua kamar yang lain, menggunakan ranjang susun.

Kubergegas kebawah, karena selain ini adalah makan siang pertama kami, tentu akan diberitahukan tata-tertib dan maklumat dari para pengasuh. Taklupa kubawa peralatan makanku serta kartu makanku, sekaligus berfungsi sebagai kartu anggota. Setelah pemberitahuan tata-tertib dan sebagainya, kami dipersilahkan masuk ruang makan sesuai dengan barisan. Untuk makan siang ini menunya :
- nasi samin
- syalattoh
- roti eisy
- dua potong daging
- sayur dari kedelai dan
- 1/4 semangka
sebuah menu makanan yang tentunya bikin perut penuh sesak.

Nampaknya aku ga kuat 'membereskan' menu siangku ini. Lalu kuhabiskan saja semangkaku. Lumayan, bikin tenggorokan segar. Lalu aku naik kekamarku dan meneruskan mimpiku yang terputus tadi.

Begitu malam menjelang, aku dan temen-temen jalan kepantai. Ternyata masih banyak juga yang mandi, padahal sudah jam 22.00. Mungkin karena musim panas, jadi pantai Alexandria terasa penuh sesak. Ada yang main layang-layang, bola, kejar-kejaran dan masih banyak lagi. Mulanya aku berada dibibir pantai, namun karena capek berdiri, lagian malam hari, aku lebih memilih untuk duduk ditepi jalan. Sembari kuseruput soft-drink, kuamati anak-anak yang sedang berlarian mencoba menaikkan layang-layangnya.

Lalu lintas didepan Regency Hotel begitu rapat. Pukul 22.45 kami balik ke asrama. Tak lupa aku beli gelas, karena kulupa bawa dari Cairo, serta buah untuk camilan diasrama. Sebelum tidur, aku charge baterai kamera. Untuk persiapan esok harinya.

- mas'ul : penanggung jawab
- khomsa wa arba'ein : empatpuluh lima
- nasi samin : nasi yang masaknya menggunakan minyak
- syalattoh :
sayuran cincang yang diberi cuka dan garam
- roti eisy
: roti yang terbuat dari biji gandum, makanan pokok penduduk Mesir

Selasa, 15 Juli 2008

Alexandria '08 on my mind

Kupercepat langkahku kejalan raya. Jarum jam menunjuk angka 07.30. Sedangkan aku harus sampai di Ramsees Stasiun pukul 08.00. Setidaknya kumasih punya waktu 30 menit. Jadi gerah juga, meskipun sudah mandi, karena jarak antara rumahku dan jalan raya 700 meter-an. Belum lagi tas yang aku bawa lumayan berat. Maklum, aku terbiasa membawa peralatan dan persiapan yang sekiranya bakal aku perlukan nanti di Alexandria. Mulai dari baju ganti, t-shirt, baju untuk renang, peralatan renang, keperluan jalan, peralatan makan, mandi dan masih banyak lagi.

Memang, aku telah pergi ke Alexandria dua kali, namun itu hanya dalam hitungan jam. Pagi sampai petang saja. Sedangkan dalam liburan musim panas ini, aku berencana menikmati Alexandria beserta pesonanya untuk jangka yang lebih lama lagi. Sepuluh hari! Oleh karenanya, kupersiapkan diriku semaksimal mungkin. Apalagi hal dokumentasi, kamera. Aku paling suka traveling serta mengabadikan setiap moment darinya. Makanya kubawa kamera dan ATM (Alat Tulis Menulis), he3!

Untung angkot yang kunaiki cepat penuh, sehingga sejenak kemudian mobilpun melesat diantara mobil-mobil yang lain. Cepat, seolah ada yang mengejar. Jarak antara rumahku dengan Ramsees Stasiun biasanya ditempuh dalam waktu 30 menit. Namun kali ini, saking cepatnya angkot bergerak, waktu itu terpangkas jadi setengahnya. Limabelas menit. Kulihat jam ditanganku, 07.45. Berarti aku ga terlambat. Bergegas kujinjing tas adidas, yang kemaren dipinjami oleh Sanee.

Riuh-rendah kudengar. Ada yang menawarkan barang dagangan, menarik penumpang, memanggil teman agar ga ketinggalan mobil, dan masih banyak lagi. Diseberang jalan kulihat bangunan yang besar bertuliskan Ramsees Stasiun. Kuambil jalan pintas untuk kesana. Aahh.., sampai juga aku. Kulihat teman-teman dari berbagai negara telah datang. Nampak wajah ceria dari setiap mereka. Maklum saja, karena acara ini diadakan oleh Majlis A'la, dibawah Kementrian Wakaf Mesir. Jadi pesertanya dari berbagai negara dibelahan dunia. Banyak sekali teman-temanku yang ingin ikut serta dalam "Summer Program in Alexandria 2008". Namun karena pesertanya dibatasi, jadi siapa yang cepat dia yang dapat. Acara seperti ini rutin diadakan setiap tahunnya. Bahkan sampai empat gelombang. Gelombang pertama diikuti oleh wafidiin. Untuk gelombang kedua dan ketiga, pesertanya dari Masriyyiin. Sedangkan gelombang empat, pesertanya teman-teman Masriyyaat dan wafidaat.

Kulihat masing-masing bergerombol asik membicarakan sesuatu. Entah apa, yang jelas hal yang menggembirakan. Kulihat senyum dan tawa terdengar silih berganti dari halaqah-halaqah tersebut. Kalo pembacaanku, mereka membicarakan rencana-rencana serta bayangan mereka nanti di Alexandria. Mungkin bagi teman-eman yang pernah ikut tahun-tahun sebelumnya, sudah ada gambaran yang jelas. Namun bagi yang belum pernah, seperti aku ini, tentu hanya bisa membayangkan dan berandai-andai saja. Namun, setidaknya aku sudah pernah kesana dua kali, kupikir aku ga buta banget perihal Alexandria.

Kulihat Muslihan dan kawan-kawan telah datang juga. Mereka membentuk lingkaran sebagaimana yang lain. Dengan tas beserta bawaan yang lain berada di tengah-tengah lingkaran.
"Assalaamu alaikum!" Kusapa mereka semua.
"Wa'alaikum salam" Jawab mereka. Lalu aku salami mereka semua. Ada Muslihan, Haidar, Kang Ihsan, Ali, Habibi, Asep, Yuri, Nurudin dkk.
"Mana Azam,kok belum nampak?" Tanyaku pada Muslihan.
"Ga tahu juga, dari tadi aku juga belum nampak batang hidungnya. Mungkin karena rumahnya deket sini, makanya di santai-santai aja." Imbuh Muslihan.
"Emang kamu sampai jam berapa?"
"Jam 07.30!"
Kami segera hanyut dalam obrolan kami. Senyum dan sesekali tawa selalu menghiasi setiap bibir kami. Kira-kira pukul 08.00 Azam datang dengan senyum khasnya mengembang. tak ketinggalan topi merahnya yang selalu ia bawa kemanapun dia bergerak. Bahkan itu jadi icon dan penanda bagi Azam.
"Ha..ha..ha.., jam berapa kalian pada datang?" Itu yang kudengar darinya pertama kali kala ia mendekat.
"Aku udah dari tadi pagi, jam 07.30!" Jawab Muslihan.
"Mentang-mentang rumahnya deket, trus datangnya molor-molor." Sahut Ali.
"Bukannya aku molor men..., tapi kan kalian sendiri tahu-lah 'kebijakan' orang-orang Mesir itu. Dan lagian ga bakalan kereta api berangkat pukul 08.00. Wong janjiannya aja jam segitu, he.he.he.!" Elaknya sambil terkekeh.

Tak terasa dua jam kami larut dalam obrolan. Sudah jam 10.00 tepat. Kulihat digelang jam-ku, juga di dinding stasiun. Sama, jam 10.00. Namun
belum ada tanda-tanda KA yang bakal membawa kami ke Alexandria masuk ke jalur. Kulihat raut bertanya-tanya dari setiap peserta yang ada. Kuhapus bosanku dengan jalan-jalan sambil melihat jadwal keberangkatan KA.

Perhatian-perhatian..., kereta api untuk para peserta muaskar dengan jurusan Alexandria akan masuk di jalur 4. Diharap para peserta muaskar menuju roshif 4!!
Perhatian-perhatian..., kereta api untuk para peserta muaskar dengan jurusan Alexandria akan masuk di jalur 4. Diharap para peserta muaskar menuju roshif 4!!
Demikian bunyi pengumuman dari pengeras suara didalam stasiun. Kami semua bergegas menuju jalur 4. Walopun jalur itu masih kosong, namun dari jauh kulihat sebuah naga besi dengan perlahan bergerak memasuki jalur 4. Ada tujuh gerbong kuhitung. Aku dan teman-teman masuk digerbong kedua dari depan. Dengan nomor gerbong 16459.

Sejenak kuberpikir, kalo dalam satu gerbong ada 13 sub tempat duduk. Dengan satu sub berisi 8 tempat duduk, berarti dalam satu gerbong bisa menampung 104 orang. Nah kalo ada tujuh gerbong, dengan asumsi tidak semua tempat duduk penuh, berarti acara ini diikuti tidak kurang dari 600 peserta. Ck..ck..ck..!! Ternyata banyak juga ya. Dalam perkiraanku, pesertaya hanya dalam kisaran 300-an orang.

Kalopun 600 orang tersebut dalam sehari memerlukan konsumsi, dengan 3 kali makan, sebesar -katakanlah- 15,00 Le. Berarti dalam 10 hari kami memerlukan uang setidaknya 9.000 Le, sekitar Rp 13.500.000. Dengan krus 1,00 Le = Rp 1.500,00. Itu dari 'energi' saja. Belum lagi hal-hal lain yang mungkin diluar dugaan. Semisal kalo ada yang sakit dan harus dirujuk ke rumah sakit atau yang lainnya. Dan uang itu murni, 100%, dari pihak penyelenggara. Majlis A'la dibawah Kementrian Wakaf Mesir. Karena setiap dari kami tidak dipungut sepeserpun uang administrasi. Jadi dalam setahun, majlis A'la harus menyediakan uang kurang lebih Rp 54.000.000,00. Itu hanya untuk acara muaskar yang berlangsung setiap liburan musim panas, yang dibagi dalam empat gelombang.

Ah sudahlah. Kutepis lamuannku tersebut, kembali kubergabung dalam obrolan bersama teman-temanku. Sub tempat duduk kami hanya berisi 3 orang dari 4 tempat duduk yang tersedia. Perlahan kereta bergerak meninggalkan peron. Kulirik jam ditanganku, pukul 10.15. Deru diesel dan lengkingan klakson mengawali perjalanan kami.

Dengan jarak Cairo-Alexandria 228 km, kalo kecepatan kereta mencapai 80 km/hr, berarti kami akan sampai di Alexandria pada pukul 13.30-an. Kira-kira 3,5 jam kami bakal di perjalanan. Walopun kami tidak berhenti disemua stasiun, karena kereta ini telah disewa hanya untuk membawa peserta muaskar, tujuan Cairo-Alexandria. Namun kereta ini bukanlah kereta api eksekutif. Namun kuyakin, ini akan jadi perjalanan yang tak terlupakan dalam hidupku.

wafidiin : orang asing cowo'
Masriyyiin : orang Mesir cowo'
Masriyyaat : orang Mesir cewe'
wafidaat : orang asing cewe'
halaqah : lingkaran/kelompok
muaskar : program liburan dengan jadwal yang sedemikian hingga
roshif
: peron

Sabtu, 12 Juli 2008

Verna itu telah dalam 'genggamanku' II

"Kemana kita ini San?" Tanyaku padanya kala kutelah menjalankan mobil di jalan raya.
"Langsung ke Kuliyah Banat (komplek perkuliyahan putri Al Azhar)!" Jawabnya pendek.
Aku hanya mengangguk saja tanda setuju. Tentu dengan tetap berusaha konsentrasi pada mobil dan jalan. Karena, inilah kali pertama aku menjalankan mobil di jalan raya. Kalo motor sich sudah sering, tapi ini mobil. Gugup dan ragu seringkali hinggap di benakku. Namun kutetap berusaha fokus pada depan, belakang, kanan dan kiri. Sesekali aku ngobrol dengan Sanee. Kurasakan pinggang ini terasa kaku.

Kuliyah Banat telah tak jauh dari depan mataku. Walopun belum jelas kulihat, namun kelokan untuk menuju kesana, jelas dari jarakku kini.
"Terus langsung ke bu'ust (asrama mahasiswa asing) Mas!" Kata Sanee pendek. Aku setengah agak gugup mendengar ini.
"Bener nih San...?!" Tanyaku setengah meyakinkanku.
"Ya iya lah. Sudahlah, mudah kok..!" jawbnya enteng.
"Ok, siapa takut!!" Sambil kulirik wajahnya. Seulas senyum terkulum dibibirnya kala mendengar ku mengatakan demikian.
Kembali konsentrasiku pada jalanan dan mobilku. Mobil melaju tenang, namun aku yang belum bisa menenangkan diriku dengan baik. Karena benakku terus membayangkan jalanan yang bakal kutempuh. Sebuah hal yang belum pernah terlintas di benakku.

Begitu masuk jalan yang lebih besar, dimana monumen Anwar Sadat berada, mataku tak henti-hentinya melihat kaca sepion kanan-kiri juga tengah. Mengingat jalan ini mempunyai lima lajur. Aku masuk dari sisi kanan jalan, sedangkan aku harus bisa mengambil dilajur yang paling kiri, karena aku akan berputar diputaran depan. Tak lupa lampu shine kiri kunyalakan. Ah.., lega rasanya bisa menyeberang jalana yang sebegitu luas dan padat. Apalagi itu adalah jalan bebas hambatan.
"Ok mas, pelajaran satu telah mas lalui. Karena itu termasuk hal yang rumit bagi pemula." Terang Sanee padaku. Aku hanya terdiam sambil mengulang dalam benakku hal yang baru saja kulakukan.

Kulihat jam telah menunjukkan pukul 11.00. Ini berarti aku bakal menghadapi kemacetan lalu-lintas. Mengingat sekarang waktunya orang balik kantor. Dan Nasr City termasuk kota yang sibuk. Benar dugaanku. Dari jauh, kulihat fly-over didepanku telah penuh sesak akan mobil yang ignin saling mendahului.
"Tenagn aja mas, mas konsen aja pada pedal dan depan." Sanee selalu mengingatkanku demikian.
Dengan perlahan dan sesekali berhenti mobil kujalankan. Sempat mesin mobil mati, karena aku memang belum lihai memainan gas-kopling. Kubiarkan mobil belakang yang selalu menyalak dengan klaksonnya. Cuek! Bahkan kunyalakan lampu emergency-ku. Jujur, aku gugup banget, sedemikian hingga kumencoba untuk tetap fokus dan menghilangakn gugupku.

Pada saat dibelokan bu'us, sempat mobilku mati. Karena belokan itu sempit, ramai dan kondisi badan jalan yang miring, mobilku sempat mundur. Sehingga kugunakan hand-rem untuk itu.

Hhhff....!!
Akhirnya aku bisa dan mempunya pengalaman mengemudikan mobil yang indah. Sebuah hal yang sedari dulu hanya ada dalam benak dan bayangku. Kini aku tahulah kalo mengemudikan mobil, tentu bukan pada tingkatan lihai. Dan sampai kini (tulisan ini kubuat), aku belum lagi mengemudikan mobil. Suatu hari nanti, PASTI!!