Kupercepat langkahku kejalan raya. Jarum jam menunjuk angka 07.30. Sedangkan aku harus sampai di Ramsees Stasiun pukul 08.00. Setidaknya kumasih punya waktu 30 menit. Jadi gerah juga, meskipun sudah mandi, karena jarak antara rumahku dan jalan raya 700 meter-an. Belum lagi tas yang aku bawa lumayan berat. Maklum, aku terbiasa membawa peralatan dan persiapan yang sekiranya bakal aku perlukan nanti di Alexandria. Mulai dari baju ganti, t-shirt, baju untuk renang, peralatan renang, keperluan jalan, peralatan makan, mandi dan masih banyak lagi.
Memang, aku telah pergi ke Alexandria dua kali, namun itu hanya dalam hitungan jam. Pagi sampai petang saja. Sedangkan dalam liburan musim panas ini, aku berencana menikmati Alexandria beserta pesonanya untuk jangka yang lebih lama lagi. Sepuluh hari! Oleh karenanya, kupersiapkan diriku semaksimal mungkin. Apalagi hal dokumentasi, kamera. Aku paling suka traveling serta mengabadikan setiap moment darinya. Makanya kubawa kamera dan ATM (Alat Tulis Menulis), he3!
Untung angkot yang kunaiki cepat penuh, sehingga sejenak kemudian mobilpun melesat diantara mobil-mobil yang lain. Cepat, seolah ada yang mengejar. Jarak antara rumahku dengan Ramsees Stasiun biasanya ditempuh dalam waktu 30 menit. Namun kali ini, saking cepatnya angkot bergerak, waktu itu terpangkas jadi setengahnya. Limabelas menit. Kulihat jam ditanganku, 07.45. Berarti aku ga terlambat. Bergegas kujinjing tas adidas, yang kemaren dipinjami oleh Sanee.
Riuh-rendah kudengar. Ada yang menawarkan barang dagangan, menarik penumpang, memanggil teman agar ga ketinggalan mobil, dan masih banyak lagi. Diseberang jalan kulihat bangunan yang besar bertuliskan Ramsees Stasiun. Kuambil jalan pintas untuk kesana. Aahh.., sampai juga aku. Kulihat teman-teman dari berbagai negara telah datang. Nampak wajah ceria dari setiap mereka. Maklum saja, karena acara ini diadakan oleh Majlis A'la, dibawah Kementrian Wakaf Mesir. Jadi pesertanya dari berbagai negara dibelahan dunia. Banyak sekali teman-temanku yang ingin ikut serta dalam "Summer Program in Alexandria 2008". Namun karena pesertanya dibatasi, jadi siapa yang cepat dia yang dapat. Acara seperti ini rutin diadakan setiap tahunnya. Bahkan sampai empat gelombang. Gelombang pertama diikuti oleh wafidiin. Untuk gelombang kedua dan ketiga, pesertanya dari Masriyyiin. Sedangkan gelombang empat, pesertanya teman-teman Masriyyaat dan wafidaat.
Kulihat masing-masing bergerombol asik membicarakan sesuatu. Entah apa, yang jelas hal yang menggembirakan. Kulihat senyum dan tawa terdengar silih berganti dari halaqah-halaqah tersebut. Kalo pembacaanku, mereka membicarakan rencana-rencana serta bayangan mereka nanti di Alexandria. Mungkin bagi teman-eman yang pernah ikut tahun-tahun sebelumnya, sudah ada gambaran yang jelas. Namun bagi yang belum pernah, seperti aku ini, tentu hanya bisa membayangkan dan berandai-andai saja. Namun, setidaknya aku sudah pernah kesana dua kali, kupikir aku ga buta banget perihal Alexandria.
Kulihat Muslihan dan kawan-kawan telah datang juga. Mereka membentuk lingkaran sebagaimana yang lain. Dengan tas beserta bawaan yang lain berada di tengah-tengah lingkaran.
"Assalaamu alaikum!" Kusapa mereka semua.
"Wa'alaikum salam" Jawab mereka. Lalu aku salami mereka semua. Ada Muslihan, Haidar, Kang Ihsan, Ali, Habibi, Asep, Yuri, Nurudin dkk.
"Mana Azam,kok belum nampak?" Tanyaku pada Muslihan.
"Ga tahu juga, dari tadi aku juga belum nampak batang hidungnya. Mungkin karena rumahnya deket sini, makanya di santai-santai aja." Imbuh Muslihan.
"Emang kamu sampai jam berapa?"
"Jam 07.30!"
Kami segera hanyut dalam obrolan kami. Senyum dan sesekali tawa selalu menghiasi setiap bibir kami. Kira-kira pukul 08.00 Azam datang dengan senyum khasnya mengembang. tak ketinggalan topi merahnya yang selalu ia bawa kemanapun dia bergerak. Bahkan itu jadi icon dan penanda bagi Azam.
"Ha..ha..ha.., jam berapa kalian pada datang?" Itu yang kudengar darinya pertama kali kala ia mendekat.
"Aku udah dari tadi pagi, jam 07.30!" Jawab Muslihan.
"Mentang-mentang rumahnya deket, trus datangnya molor-molor." Sahut Ali.
"Bukannya aku molor men..., tapi kan kalian sendiri tahu-lah 'kebijakan' orang-orang Mesir itu. Dan lagian ga bakalan kereta api berangkat pukul 08.00. Wong janjiannya aja jam segitu, he.he.he.!" Elaknya sambil terkekeh.
Tak terasa dua jam kami larut dalam obrolan. Sudah jam 10.00 tepat. Kulihat digelang jam-ku, juga di dinding stasiun. Sama, jam 10.00. Namun belum ada tanda-tanda KA yang bakal membawa kami ke Alexandria masuk ke jalur. Kulihat raut bertanya-tanya dari setiap peserta yang ada. Kuhapus bosanku dengan jalan-jalan sambil melihat jadwal keberangkatan KA.
Perhatian-perhatian..., kereta api untuk para peserta muaskar dengan jurusan Alexandria akan
masuk di jalur 4. Diharap para peserta muaskar menuju roshif 4!!
Perhatian-perhatian..., kereta api untuk para peserta muaskar dengan jurusan Alexandria akan masuk di jalur 4. Diharap para peserta muaskar menuju roshif 4!!
Demikian bunyi pengumuman dari pengeras suara didalam stasiun. Kami semua bergegas menuju jalur 4. Walopun jalur itu masih kosong, namun dari jauh kulihat sebuah naga besi dengan perlahan bergerak memasuki jalur 4. Ada tujuh gerbong kuhitung. Aku dan teman-teman masuk digerbong kedua dari depan. Dengan nomor gerbong 16459.
Sejenak kuberpikir, kalo dalam satu gerbong ada 13 sub tempat duduk. Dengan satu sub berisi 8 tempat duduk, berarti dalam satu gerbong bisa menampung 104 orang. Nah kalo ada tujuh gerbong, dengan asumsi tidak semua tempat duduk penuh, berarti acara ini diikuti tidak kurang dari 600 peserta. Ck..ck..ck..!! Ternyata banyak juga ya. Dalam perkiraanku, pesertaya hanya dalam kisaran 300-an orang.
Kalopun 600 orang tersebut dalam sehari memerlukan konsumsi, dengan 3 kali makan, sebesar -katakanlah- 15,00 Le. Berarti dalam 10 hari kami memerlukan uang setidaknya 9.000 Le, sekitar Rp 13.500.000. Dengan krus 1,00 Le = Rp 1.500,00. Itu dari 'energi' saja. Belum lagi hal-hal lain yang mungkin diluar dugaan. Semisal kalo ada yang sakit dan harus dirujuk ke rumah sakit atau yang lainnya. Dan uang itu murni, 100%, dari pihak penyelenggara. Majlis A'la dibawah Kementrian Wakaf Mesir. Karena setiap dari kami tidak dipungut sepeserpun uang administrasi. Jadi dalam setahun, majlis A'la harus menyediakan uang kurang lebih Rp 54.000.000,00. Itu hanya untuk acara muaskar yang berlangsung setiap liburan musim panas, yang dibagi dalam empat gelombang.
Ah sudahlah. Kutepis lamuannku tersebut, kembali kubergabung dalam obrolan bersama teman-temanku. Sub tempat duduk kami hanya berisi 3 orang dari 4 tempat duduk yang tersedia. Perlahan kereta bergerak meninggalkan peron. Kulirik jam ditanganku, pukul 10.15. Deru diesel dan lengkingan klakson mengawali perjalanan kami.
Dengan jarak Cairo-Alexandria 228 km, kalo kecepatan kereta mencapai 80 km/hr, berarti kami akan sampai di Alexandria pada pukul 13.30-an. Kira-kira 3,5 jam kami bakal di perjalanan. Walopun kami tidak berhenti disemua stasiun, karena kereta ini telah disewa hanya untuk membawa peserta muaskar, tujuan Cairo-Alexandria. Namun kereta ini bukanlah kereta api eksekutif. Namun kuyakin, ini akan jadi perjalanan yang tak terlupakan dalam hidupku.
wafidiin : orang asing cowo'
Masriyyiin : orang Mesir cowo'
Masriyyaat : orang Mesir cewe'
wafidaat : orang asing cewe'
halaqah : lingkaran/kelompok
muaskar : program liburan dengan jadwal yang sedemikian hingga
roshif : peron
Memang, aku telah pergi ke Alexandria dua kali, namun itu hanya dalam hitungan jam. Pagi sampai petang saja. Sedangkan dalam liburan musim panas ini, aku berencana menikmati Alexandria beserta pesonanya untuk jangka yang lebih lama lagi. Sepuluh hari! Oleh karenanya, kupersiapkan diriku semaksimal mungkin. Apalagi hal dokumentasi, kamera. Aku paling suka traveling serta mengabadikan setiap moment darinya. Makanya kubawa kamera dan ATM (Alat Tulis Menulis), he3!
Untung angkot yang kunaiki cepat penuh, sehingga sejenak kemudian mobilpun melesat diantara mobil-mobil yang lain. Cepat, seolah ada yang mengejar. Jarak antara rumahku dengan Ramsees Stasiun biasanya ditempuh dalam waktu 30 menit. Namun kali ini, saking cepatnya angkot bergerak, waktu itu terpangkas jadi setengahnya. Limabelas menit. Kulihat jam ditanganku, 07.45. Berarti aku ga terlambat. Bergegas kujinjing tas adidas, yang kemaren dipinjami oleh Sanee.
Riuh-rendah kudengar. Ada yang menawarkan barang dagangan, menarik penumpang, memanggil teman agar ga ketinggalan mobil, dan masih banyak lagi. Diseberang jalan kulihat bangunan yang besar bertuliskan Ramsees Stasiun. Kuambil jalan pintas untuk kesana. Aahh.., sampai juga aku. Kulihat teman-teman dari berbagai negara telah datang. Nampak wajah ceria dari setiap mereka. Maklum saja, karena acara ini diadakan oleh Majlis A'la, dibawah Kementrian Wakaf Mesir. Jadi pesertanya dari berbagai negara dibelahan dunia. Banyak sekali teman-temanku yang ingin ikut serta dalam "Summer Program in Alexandria 2008". Namun karena pesertanya dibatasi, jadi siapa yang cepat dia yang dapat. Acara seperti ini rutin diadakan setiap tahunnya. Bahkan sampai empat gelombang. Gelombang pertama diikuti oleh wafidiin. Untuk gelombang kedua dan ketiga, pesertanya dari Masriyyiin. Sedangkan gelombang empat, pesertanya teman-teman Masriyyaat dan wafidaat.
Kulihat masing-masing bergerombol asik membicarakan sesuatu. Entah apa, yang jelas hal yang menggembirakan. Kulihat senyum dan tawa terdengar silih berganti dari halaqah-halaqah tersebut. Kalo pembacaanku, mereka membicarakan rencana-rencana serta bayangan mereka nanti di Alexandria. Mungkin bagi teman-eman yang pernah ikut tahun-tahun sebelumnya, sudah ada gambaran yang jelas. Namun bagi yang belum pernah, seperti aku ini, tentu hanya bisa membayangkan dan berandai-andai saja. Namun, setidaknya aku sudah pernah kesana dua kali, kupikir aku ga buta banget perihal Alexandria.Kulihat Muslihan dan kawan-kawan telah datang juga. Mereka membentuk lingkaran sebagaimana yang lain. Dengan tas beserta bawaan yang lain berada di tengah-tengah lingkaran.
"Assalaamu alaikum!" Kusapa mereka semua.
"Wa'alaikum salam" Jawab mereka. Lalu aku salami mereka semua. Ada Muslihan, Haidar, Kang Ihsan, Ali, Habibi, Asep, Yuri, Nurudin dkk.
"Mana Azam,kok belum nampak?" Tanyaku pada Muslihan.
"Ga tahu juga, dari tadi aku juga belum nampak batang hidungnya. Mungkin karena rumahnya deket sini, makanya di santai-santai aja." Imbuh Muslihan.
"Emang kamu sampai jam berapa?"
"Jam 07.30!"
Kami segera hanyut dalam obrolan kami. Senyum dan sesekali tawa selalu menghiasi setiap bibir kami. Kira-kira pukul 08.00 Azam datang dengan senyum khasnya mengembang. tak ketinggalan topi merahnya yang selalu ia bawa kemanapun dia bergerak. Bahkan itu jadi icon dan penanda bagi Azam.
"Ha..ha..ha.., jam berapa kalian pada datang?" Itu yang kudengar darinya pertama kali kala ia mendekat.
"Aku udah dari tadi pagi, jam 07.30!" Jawab Muslihan.
"Mentang-mentang rumahnya deket, trus datangnya molor-molor." Sahut Ali.
"Bukannya aku molor men..., tapi kan kalian sendiri tahu-lah 'kebijakan' orang-orang Mesir itu. Dan lagian ga bakalan kereta api berangkat pukul 08.00. Wong janjiannya aja jam segitu, he.he.he.!" Elaknya sambil terkekeh.
Tak terasa dua jam kami larut dalam obrolan. Sudah jam 10.00 tepat. Kulihat digelang jam-ku, juga di dinding stasiun. Sama, jam 10.00. Namun belum ada tanda-tanda KA yang bakal membawa kami ke Alexandria masuk ke jalur. Kulihat raut bertanya-tanya dari setiap peserta yang ada. Kuhapus bosanku dengan jalan-jalan sambil melihat jadwal keberangkatan KA.
Perhatian-perhatian..., kereta api untuk para peserta muaskar dengan jurusan Alexandria akan
masuk di jalur 4. Diharap para peserta muaskar menuju roshif 4!!Perhatian-perhatian..., kereta api untuk para peserta muaskar dengan jurusan Alexandria akan masuk di jalur 4. Diharap para peserta muaskar menuju roshif 4!!
Demikian bunyi pengumuman dari pengeras suara didalam stasiun. Kami semua bergegas menuju jalur 4. Walopun jalur itu masih kosong, namun dari jauh kulihat sebuah naga besi dengan perlahan bergerak memasuki jalur 4. Ada tujuh gerbong kuhitung. Aku dan teman-teman masuk digerbong kedua dari depan. Dengan nomor gerbong 16459.
Sejenak kuberpikir, kalo dalam satu gerbong ada 13 sub tempat duduk. Dengan satu sub berisi 8 tempat duduk, berarti dalam satu gerbong bisa menampung 104 orang. Nah kalo ada tujuh gerbong, dengan asumsi tidak semua tempat duduk penuh, berarti acara ini diikuti tidak kurang dari 600 peserta. Ck..ck..ck..!! Ternyata banyak juga ya. Dalam perkiraanku, pesertaya hanya dalam kisaran 300-an orang.
Kalopun 600 orang tersebut dalam sehari memerlukan konsumsi, dengan 3 kali makan, sebesar -katakanlah- 15,00 Le. Berarti dalam 10 hari kami memerlukan uang setidaknya 9.000 Le, sekitar Rp 13.500.000. Dengan krus 1,00 Le = Rp 1.500,00. Itu dari 'energi' saja. Belum lagi hal-hal lain yang mungkin diluar dugaan. Semisal kalo ada yang sakit dan harus dirujuk ke rumah sakit atau yang lainnya. Dan uang itu murni, 100%, dari pihak penyelenggara. Majlis A'la dibawah Kementrian Wakaf Mesir. Karena setiap dari kami tidak dipungut sepeserpun uang administrasi. Jadi dalam setahun, majlis A'la harus menyediakan uang kurang lebih Rp 54.000.000,00. Itu hanya untuk acara muaskar yang berlangsung setiap liburan musim panas, yang dibagi dalam empat gelombang.
Ah sudahlah. Kutepis lamuannku tersebut, kembali kubergabung dalam obrolan bersama teman-temanku. Sub tempat duduk kami hanya berisi 3 orang dari 4 tempat duduk yang tersedia. Perlahan kereta bergerak meninggalkan peron. Kulirik jam ditanganku, pukul 10.15. Deru diesel dan lengkingan klakson mengawali perjalanan kami.
Dengan jarak Cairo-Alexandria 228 km, kalo kecepatan kereta mencapai 80 km/hr, berarti kami akan sampai di Alexandria pada pukul 13.30-an. Kira-kira 3,5 jam kami bakal di perjalanan. Walopun kami tidak berhenti disemua stasiun, karena kereta ini telah disewa hanya untuk membawa peserta muaskar, tujuan Cairo-Alexandria. Namun kereta ini bukanlah kereta api eksekutif. Namun kuyakin, ini akan jadi perjalanan yang tak terlupakan dalam hidupku.
wafidiin : orang asing cowo'
Masriyyiin : orang Mesir cowo'
Masriyyaat : orang Mesir cewe'
wafidaat : orang asing cewe'
halaqah : lingkaran/kelompok
muaskar : program liburan dengan jadwal yang sedemikian hingga
roshif : peron



Tidak ada komentar:
Posting Komentar