"Kemana kita ini San?" Tanyaku padanya kala kutelah menjalankan mobil di jalan raya.
"Langsung ke Kuliyah Banat (komplek perkuliyahan putri Al Azhar)!" Jawabnya pendek.
Aku hanya mengangguk saja tanda setuju. Tentu dengan tetap berusaha konsentrasi pada mobil dan jalan. Karena, inilah kali pertama aku menjalankan mobil di jalan raya. Kalo motor sich sudah sering, tapi ini mobil. Gugup dan ragu seringkali hinggap di benakku. Namun kutetap berusaha fokus pada depan, belakang, kanan dan kiri. Sesekali aku ngobrol dengan Sanee. Kurasakan pinggang ini terasa kaku.
Kuliyah Banat telah tak jauh dari depan mataku. Walopun belum jelas kulihat, namun kelokan untuk menuju kesana, jelas dari jarakku kini.
"Terus langsung ke bu'ust (asrama mahasiswa asing) Mas!" Kata Sanee pendek. Aku setengah agak gugup mendengar ini.
"Bener nih San...?!" Tanyaku setengah meyakinkanku.
"Ya iya lah. Sudahlah, mudah kok..!" jawbnya enteng.
"Ok, siapa takut!!" Sambil kulirik wajahnya. Seulas senyum terkulum dibibirnya kala mendengar ku mengatakan demikian.
Kembali konsentrasiku pada jalanan dan mobilku. Mobil melaju tenang, namun aku yang belum bisa menenangkan diriku dengan baik. Karena benakku terus membayangkan jalanan yang bakal kutempuh. Sebuah hal yang belum pernah terlintas di benakku.
Begitu masuk jalan yang lebih besar, dimana monumen Anwar Sadat berada, mataku tak henti-hentinya melihat kaca sepion kanan-kiri juga tengah. Mengingat jalan ini mempunyai lima lajur. Aku masuk dari sisi kanan jalan, sedangkan aku harus bisa mengambil dilajur yang paling kiri, karena aku akan berputar diputaran depan. Tak lupa lampu shine kiri kunyalakan. Ah.., lega rasanya bisa menyeberang jalana yang sebegitu luas dan padat. Apalagi itu adalah jalan bebas hambatan.
"Ok mas, pelajaran satu telah mas lalui. Karena itu termasuk hal yang rumit bagi pemula." Terang Sanee padaku. Aku hanya terdiam sambil mengulang dalam benakku hal yang baru saja kulakukan.
Kulihat jam telah menunjukkan pukul 11.00. Ini berarti aku bakal menghadapi kemacetan lalu-lintas. Mengingat sekarang waktunya orang balik kantor. Dan Nasr City termasuk kota yang sibuk. Benar dugaanku. Dari jauh, kulihat fly-over didepanku telah penuh sesak akan mobil yang ignin saling mendahului.
"Tenagn aja mas, mas konsen aja pada pedal dan depan." Sanee selalu mengingatkanku demikian.
Dengan perlahan dan sesekali berhenti mobil kujalankan. Sempat mesin mobil mati, karena aku memang belum lihai memainan gas-kopling. Kubiarkan mobil belakang yang selalu menyalak dengan klaksonnya. Cuek! Bahkan kunyalakan lampu emergency-ku. Jujur, aku gugup banget, sedemikian hingga kumencoba untuk tetap fokus dan menghilangakn gugupku.
Pada saat dibelokan bu'us, sempat mobilku mati. Karena belokan itu sempit, ramai dan kondisi badan jalan yang miring, mobilku sempat mundur. Sehingga kugunakan hand-rem untuk itu.
Hhhff....!!
Akhirnya aku bisa dan mempunya pengalaman mengemudikan mobil yang indah. Sebuah hal yang sedari dulu hanya ada dalam benak dan bayangku. Kini aku tahulah kalo mengemudikan mobil, tentu bukan pada tingkatan lihai. Dan sampai kini (tulisan ini kubuat), aku belum lagi mengemudikan mobil. Suatu hari nanti, PASTI!!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar