Perkiraanku tidak meleset, pukul 13.35 kami semua sampai di Stasiun Alexandria atau Stasiun Masr. Ciri Setaiun Alexandria sendiri mirip dengan Stasiun Ramsees. Merupakan khas bangunan tua, penuh pola artistik. Dengan atap peron yang tinggi dan besar, jam dengan jarum yang besar terpasang kokoh di tembok peron. Sehingga memudahkan bagi semua orang yang ingin mengetahui waktu. Berapa menit lagi yang dipunyai seseorang untuk bisa menepati janji bertemu dengan client-nya. Sembari kuangkat tasku yang lumayan berat, kulirik jam ditanganku, sama dengan jam ditembok stasiun tersebut.
Kulihat para mas'ul terus memberikan arahan agar semuanya segera keluar dan mengikuti pemandu jalan. Diepan telah berjalan beberapa mas'ul yang lain. Merekalah para pemandu jalan. Begitu keluar, sebuah hembusan udara panas menyeruak diantara pori-pori wajahku. Namun panas yang kurasakan amat berbeda dengan panas yagn selama ini kuraskan ditengah hiruk-pikuk kebisingan Cairo. Sebuah panas yang sedikit basah, bukannya panas kering yang kurasakan 4 jam yang lalu. Kami terus bergerak maju. Begitu kelaur dari stasiun, sebuah alun-alun, taman kota, dengan sebuah tugu yang menjulang tinggi menyambut setiap dari kami. Aku tak ingat lagi apa yag ntertulis disana, namun bangunan itu tepat di tengah taman tersebut. Sedangkan tepat didepan Stasiun Masr, terdapat bangku-bangku panjang yang kosong. Sebagian daripadanya dimanfaatkan oleh orang-orang unutk tiduran dan jualan ditengah teriknya musim panas. Namun kubayangkan, kala senja menjelang dan menghsbisakn waktu dibangku-bangku terseebut. Berbincang dan bertukar pikiran dengan orang cocok. Serta sebungkus camilan dan minuman ringan ditangan. Uughh...nikamt sekali kubayangkan itu!
Telah siap beberapa bus menanti kami. Namun nampaknya telah penuh oleh teman-teman yang keluar lebih dulu. Aku dan kelompokku lebih memilih bersabar, menunggu bus berikutnya. Kulihat , walopun bus itu telah penuh, namun ga ada yang berdiri. Nampaknya peraturan di Alexandria, tidak mempebolehkan sebuah bus pariwisata sampai over passanger. Kami berteduh dibawah pohon yang ada.Ayo-ayo cepetan naik..!! teriak mas'ul pada kami yang memang belum kebagian bus. Namun entah karena apa, kami harus turun lagi. Memang bus yang aku naiki buaknlah bus pariwisata, namun bus umum yang dipanggil untuk membawa kami. Oh iya, sekedar tahu saja, disebrang alun-alun Alexandria adalah terminal bus kota yang bisa membawa kita kemana saja. Aku dan kelompokku masih menunggu dibawah pohon seperti tadi. Semua teman-teman kami yang lain telah berangkat lebih dulu. Hanya tinggal kami dan para mas'ul.
Sejenak kemudian, ada sebuah bus warna putih dengan kapasitas 24-an orang menepi. Ayo-ayo cepet naik...!! Demikain komando dari mereka. Setiap dari kami bergegas menuju pintu bus yang telah terbuka. Kalo kuperhatikan, bus ini lebih baik daripada bus-bus terdahulu yang dinaiki oleh teman-teman. Sebuah bus full option, AC, dengan sebuah tv 14 inchi -yang sedang memutar Shaolin Soccer- terpampang diatas kaca depan. Begitu semua orang-orang telah masuk semua, bus perlahan bergerak. belok kekanan melewati Roman Amphitheater.
Bus terus bergerak menyusuri jalanan Alexandria yang sempit. Nampak disisi kananku Alexandria Stadium. Tempat dimana Alexandria Football Club (AFC) menjamu para 'tamu'nya. Kuingat, beberapa tahun lalu Mesir menjadi tuan rumah African Cup. Dan stadion ini juga digunakan dalam event tersebut. Dan tuan rumah keluar sebagai juaranya. Setelah melewati Champolion st. bus belok kekanan. Seketika angin yang segar berhembus dengan kencang. Bau laut begitu menyengat. Seketika setiap dari kami menoleh kesisi kiri jalan.
Sebauh hamparan laut dengan riak-riak yang kecil seolah mengucapkan 'welcome to Alexandria' pada kami. Orang-orang sudah tidak mempeduliakn Shaolin Soccer lagi, padahal sudah masuk pada babak akhir film. Nampak orang-orang telah terbius oleh air laut yang tak henti-hentinya beriak serta angin yang terus menyegarkan suasana.
Bus ini terus melaju diterik mentari. Menyusuri setiap kelokan El Cournish Rd. Nampak Bibliotecha Alexandria sedang kami lewati. Kokoh menghadap kelaut, menunggu setiap salam angin yang terlontar oleh air yang ingin menjilat patung Alexander The Great di halaman Bibliotecha Alexandria. Mentari yang menyebarkan panas terus memayugn diatas kami.
Stanly Beach, dengan khas Stanly Bridge-nya, telah kami lewati. Nampak San Stefano, dengan Cafe Starbucks-nya dipojok depan merupakan daya tarik Alexandria tersendiri. Sederet cafe-cafe yang view of beach, nampak berjajar rapi. Menunggu pelanggan yang ingin menghabiskan waktu dengan suasana pantai, sembari menyeruput kopi atau yang lainnya. Sungguh suasana yang sempurna untuk sebuah liburan. Refreshing!
Nampak didepan sebuah taman yang besar, ditepi laut. Itulah El Montaza Gardens. Sebauh taman ditepi pantai, ada menara suarnya, hotel, resorts dan taman bermainnya. Dua kali aku kesana. Kala itu dengan teman-teman kekeluargaan, lalu dengan teman-teman afiliatif.
Kemudian bus belok kekanan, keluar dari laut, masuk El Za'eim Anwar El Sadat. Atau oleh masyarakat setempat lebih dikenal dengan khomsa wa arba'ein (45) st. Setelah memutar, bus berbelok kekakan, masuk jalan yang lebih kecil lagi. Bus terus menyususri jalanan yang sempit. Badan jalan ini terasa lebih sempit lagi, apalagi ditambah dengan badan bus yang memang besar. Sehingga sangat sulit untuk bersisipan dengan mobil yang lain.
Sejenak kemudian, kami masuk kesebuah pintu gerbang warna hitam. Dibalik gerbang itu terhampar sebuah halaman yang sangat lebar. Dengan sebuah kerangka tenda, nampaknya untuk acara pembukaan, yang belum sempurna. Halaman itu juga difungsikan untuk lapangan bola. Dan disisi lapanagn itu, ada dua lapangan voli dikedua sisinya dan sebuah lapangan basket disatu sisinya saja.
Diujung lapangan itu nampak sebuah bangunan, empat lantai, dengan warna putih gagah menyambut kami. Nampak teman-teman kami yang telah datang lebih dulu telah bergerombol disana. Dan disinilah kami bakal menghabiskan sepuluh hari kami di Alexandria. Semuanya diminta baris teratur sesuai dengan kelompok masing-masing. Aku termasuk dalam Muaskar Othman.
Lantai dasar merupakan ruangan yang multi fungsi. Selain sebagai aula pertemuan, juga digunakan untuk ruang makan. Sedangakn lantai satu untuk Muaskar Omar. Lantai dua untuk Muaskar Othman. Dimana aku dan teman-teman yang sekelompok denganku berada. Lantai tiga untuk Muaskar 'Aly dan lantai empat untuk Muaskar Kholid. Kami ditempatkan didalam kamar yang besar dengan kapasitas 30 ranjang. Ranjangku berada di no.04 dari pintu masuk. Ini sangat memudahkanku untuk untuk keluar masuk. Dengan sebuah jendela besar diatas kepalaku. ini sangat menguntungkanku, dimana aku tak terkena angin ato matahari senja secara langsung. Untuk Muaskar Othman dibawah pengarahan Ust. Yahya dan Ust. Yusuf.
Setelah mendapat kamar sendiri, badan ini tiba-tiba merasa letih sekali. Tiga setengah jam diperjalanan ternyata sangat menguras tenaga. Apalagi perjalanan ini dalam musim panas dibawah terik mentari. Belom lagi, tadi temen-temen ga ada yang bawa minuman dan cemilan. Haya aku yang iseng-iseng bawa sekotak anggur, dua bungkus biskuit dan sebotol kecil air mineral. Itupun masih dipakai temenku untuk kencing. Terpaksa tenggorokan ini 'puasa' sementara waktu.
Melihat ranjang yang empuk, mataku jadi 'tertegun'. Kuletakkan barangku disebuah kotak yang berfungsi sebagai almari, disebelah setiap ranjang dari kami semua. Kemudian mataku mulai melemah dan meredup. Sejurus kemudian kusudah tak tahu apa yang terjadi disekelilingku.
Sampai akhirnya kudengar teriakan instruksi dari mas'ul.
"Ayo..ayo..semuanya turun, waktunya makan siang..!!" Demikian teriakan berulang-ulang sembari tepuk tangan, sampai ditelan dikejauhan. Perlahan kuusap mataku, kulihat jam dilayar HP-ku, jam 15.45. Ternyata teman-temanku juga sudah mulai bersiap turun untuk mengambil makan siang pertama kami.
Kubasuh mukaku di kamar mandi. Oh iya, Muaskar Othman terdiri dari empat kamar besar. Kalo satu kamar berisi 30 orang, berarti Muaskar Othman beranggotakan 180 orang. Karena untuk dua kamar yang lain, menggunakan ranjang susun.
Kubergegas kebawah, karena selain ini adalah makan siang pertama kami, tentu akan diberitahukan tata-tertib dan maklumat dari para pengasuh. Taklupa kubawa peralatan makanku serta kartu makanku, sekaligus berfungsi sebagai kartu anggota. Setelah pemberitahuan tata-tertib dan sebagainya, kami dipersilahkan masuk ruang makan sesuai dengan barisan. Untuk makan siang ini menunya :
- nasi samin- syalattoh
- roti eisy
- dua potong daging
- sayur dari kedelai dan
- 1/4 semangka
sebuah menu makanan yang tentunya bikin perut penuh sesak.
Nampaknya aku ga kuat 'membereskan' menu siangku ini. Lalu kuhabiskan saja semangkaku. Lumayan, bikin tenggorokan segar. Lalu aku naik kekamarku dan meneruskan mimpiku yang terputus tadi.

Begitu malam menjelang, aku dan temen-temen jalan kepantai. Ternyata masih banyak juga yang mandi, padahal sudah jam 22.00. Mungkin karena musim panas, jadi pantai Alexandria terasa penuh sesak. Ada yang main layang-layang, bola, kejar-kejaran dan masih banyak lagi. Mulanya aku berada dibibir pantai, namun karena capek berdiri, lagian malam hari, aku lebih memilih untuk duduk ditepi jalan. Sembari kuseruput soft-drink, kuamati anak-anak yang sedang berlarian mencoba menaikkan layang-layangnya.
Lalu lintas didepan Regency Hotel begitu rapat. Pukul 22.45 kami balik ke asrama. Tak lupa aku beli gelas, karena kulupa bawa dari Cairo, serta buah untuk camilan diasrama. Sebelum tidur, aku charge baterai kamera. Untuk persiapan esok harinya.
- mas'ul : penanggung jawab
- khomsa wa arba'ein : empatpuluh lima
- nasi samin : nasi yang masaknya menggunakan minyak
- syalattoh : sayuran cincang yang diberi cuka dan garam
- roti eisy : roti yang terbuat dari biji gandum, makanan pokok penduduk Mesir
- mas'ul : penanggung jawab
- khomsa wa arba'ein : empatpuluh lima
- nasi samin : nasi yang masaknya menggunakan minyak
- syalattoh : sayuran cincang yang diberi cuka dan garam
- roti eisy : roti yang terbuat dari biji gandum, makanan pokok penduduk Mesir



Tidak ada komentar:
Posting Komentar